}
Tampilkan postingan dengan label adventure kiddos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label adventure kiddos. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2017

TREKKING PUNCAK GIYANTI MAGELANG: BAGI YANG MERINDUKAN SENSASI NAIK GUNUNG

YEPS, buat mak-mak berbuntut yang merindukan sensasi naik gunung sambil mengajak kiddos menjelajah hutan belantara yang menantang dan mengasyikkan tapi masih tetap tidak merepotkan, saya kira Puncak Giyanti adalah perfect place to make your dream comes true. Terletak di antara perbukitan Giyanti di wilayah Kecamatan Windusari, jalur trekking ini bisa dibilang masih baru, baru sekitar 3 bulan dibuka untuk umum dan mulai dikunjungi para wisatawan (baca: petualang). Sebenarnya kami menemukan tempat ini dengan tidak sengaja juga. Kebetulan kami sedang mengunjungi Candi Selogriyo yang tersembunyi diantara perbukitan Giyanti (remember me to post this story of Selogriyo, this place is absolutely awesome!) saat tanpa sengaja melihat setitik kecil bendera merah putih berkibar di puncak bukit, ditemani siluet tenda dome di sampingnya. Langsung deh kami penasaran, siapa kira-kira yang berkemah di puncak bukit yang jauh dari mana-mana itu. Nah, selidik punya selidik, dari informasi bapak penjaga candi, ternyata itu adalah Puncak Giyanti, jalur trekking baru yang baru saja dibuka seminggu yang lalu (kami mengunjungi Candi Selogriyo di akhir Nopember 2016 lalu). Langsung deh antena kami meninggi, dan mencatat trekking Giyanti sebagai the next destination to explore, diantara sekian banyak bucket list wisata puncak-puncak bukit lainnya yang ingin kami datangi.  


Perbukitan Giyanti yang indah dan hijau. The other perfect getaway lagi di daerah Magelang.

BUKIT Giyanti, atau mungkin lebih tepat disebut sebagai perbukitan Giyanti, terletak di lereng Gunung Sumbing di Kabupaten Magelang. Lokasi awal trekking Giyanti terletak di Desa Balesari, Kecamatan Windusari. Cukup mudah mencapai tempat ini. Dari arah Magelang, kita bisa mengambil arah Bandongan menuju arah Windusari. Desa Balesari sendiri terletak tidak jauh dari jalan masuk menuju Candi Selogriyo, sekitar 4 kilometer ke arah Barat (Arah Kecamatan Windusari). Kita bisa dengan mudah menemukan tempatnya karena sudah terdapat papan penunjuk yang cukup jelas untuk wisata Puncak Giyanti. Dari arah jalan besar, kita tinggal mengikuti jalan cor yang cukup bagus melalui tengah perkampungan, tinggal mengikuti arah papan penunjuk jalan menuju tempat parkir, rumah terakhir di kaki bukit sebelum kita mulai mendaki. Karena masih tergolong tempat wisata baru, tempat parkir yang disediakan masih berupa halaman rumah penduduk setempat, yang dikelola oleh pemuda setempat pula, yang dengan antusias bertanya kepada kami dari mana kami mengetahui lokasi trekking Giyanti ini. Di sini kita akan diminta untuk mengisi buku tamu dan membayar retribusi Rp. 2000,- per orang, sudah termasuk biaya parkir kendaraan (murah ya!). Kata masnya sih tempat ini sudah lumayan rame dikunjungi, terutama bagi para pemburu sunrise. Banyak pula yang camping di puncak bukit, terutama kalau malam Minggu atau hari libur (aha!). Masih menurut si mas penjaga parkir, kira-kira diperlukan waktu sekitar 1 jam sampai puncak (kecepatan normal), tapi berhubung kami membawa balita, kami mengestimasi waktu yang dibutuhkan paling tidak 2 kali lipat atau sekitar 2 jam. Si mas juga memperingatkan kami untuk berhati-hati, karena jalanan saat ini licin dan becek, dan karena masih jalur baru, beberapa bagian masih cukup sulit dilewati terutama kalau hari hujan seperti saat kami berkunjung ke sana. Satu hal yang bikin kami terkesan juga, penduduk sekitar ramah-ramah dan baik hati, ala masyarakat pegunungan yang sering kami temui! (ah, jadi kangen lagi nih saya dengan suasana gunung). 

Meet their life. Para pencari rumput yang gigih menjalani hari-hari mereka. 

Jalur pendakian menuju pos I. Masih lumayan enak buat jalan. 

JADI, setelah mengecek perbekalan dan peralatan tempur, jadilah kami mendaki Bukit Giyanti dengan bersemangat. Agak jiper juga sih, karena baru 5 menit jalan, selepas dari perkampungan, kami langsung dihadapkan dengan jalan setapak yang super duper becek dan licin lunar binasa! Untungnya Mbak Qori yang benci lumpur dan tempat kotor itu memakai sepatu (yang jadi penemuan canggih kami untuk mengatasi kerewelan Mbak Qori menghadapi medan yang becek dan berlumpur). jadi dia tidak terlalu mempermasalahkan ketika kami harus berbecek-becek ria. Kondisi seperti ini kami lalui sepanjang sekitar setengah kilometer, sampai akhirnya kami sampai di perbatasan hutan pinus di kaki bukit, tempat jalanan mulai menanjak dengan (agak) serius (walaupun di sana sini masih becek juga sih). Nah, dari kaki hutan inilah kami mulai merasakan sensasi 'naik gunung'. 

Bentar lagi pos I, semangat yak!

ADA dua pos pendakian yang harus kami lalui sebelum sampai puncak. Tidak terlalu jauh sih, masing-masing pos mungkin hanya berjarak sekitar 30 menit berjalan kaki dengan kecepatan normal. Di masing-masing pos ini disediakan bangungan semacam gubug kayu terbuka tempat istirahat (dan berfoto serta menikmati pemandangan), bangku-bangku kayu tempat selonjor, dan sumber air bersih. Lokasinya juga lumayan yahud dan pemandangannya juga enak dilihat kok. Pokoknya sudah kerasa lumayan tinggi deh. Jadi nih, bagi yang minat camping tapi tidak mau jalan terlalu tinggi, atau kebetulan puncak bukit sedang ramai, bisa kok menggelar tenda di Pos I atau Pos II. Lokasinya lumayan enak kok untuk buka tenda (walau nggak tahu sih, apa sunrise kelihatan dari sini). 

Pemandangan dari Pos I. Diambil sore hari pas kami turun, jadi nggak terlalu jelas deh. 

Masih ada Pos Dua. Semangat Kakak!


Menuju Pos II. Semangat Bapak!

Hutan kebon kopi. 

DARI kaki hutan sampai pos I diperlukan waktu sekitar 30 menit jalan kaki, dengan kemiringan yang - yah, lumayan lah (lumayan bikin capek maksudnya, hehe). Jalannya, walaupun ada beberapa bagian yang becek, tapi lumayan enak dilewati. Dari Pos I menuju Pos II juga sama, kemiringannya masih so so, medannya nggak terlalu berat untuk ukuran balita (at least Mbak Qori masih bisa menikmatinya). Selepas Pos II, jalanan agak mulai datar, dan kami melewati perkebunan kopi yang terletak di sela-sela pohon pinus. Kami sudah excited aja tuh melihat pohon kopi dimana-mana, berharap menemukan kopi khas Giyanti yang enak macam Kopi Suroloyo. Tapi, kata ibu di tempat kami parkir motor, kopi-kopi tersebut dikumpulkan oleh tengkulak dan diolah entah dimana. Kami pikir, setelah melewati punggungan bukit ini, kami akan segera sampai di puncak. Tapi ternyata kami salah besar! Begitu deretan pohon kopi habis, terdapat anak tangga yang dibuat dari potongan-potongan kayu yang terlihat masih baru, lumayan curam, menaiki satu lagi punggungan bukit. Kata mas-mas yang kami temui di jalan sih jaraknya masih lumayan jauh, yang bikin kami agak deg-degan juga karena tiba-tiba langit yang cerah berubah agak mendung. Tapi apa mau dikata sudah bertekad baja, kami melanjutkan perjalanan lagi. Dan benar saja, selepas jalan bertangga-tangga ini, kami masih harus memutari punggungan lagi, dan mendaki lagi, and here's the true challenge begin! Punggungan terakhir, jalan setapak menuju puncak yang harus kami lewati, lumayan terjal dan curam. Dengan Mbak Qori bersama kami, kami harus ekstra hati-hati memastikan supaya dia tidak salah langkah atau terpeleset ke bawah. Cerita jadi makin sulit lagi karena jalan setapak itu licin karena hujan. Bagi kami yang dewasa saja sudah harus mengeluarkan tenaga dan konsentrasi ekstra supaya tidak terpeleset, apalagi dengan tambahan balita bersama kami! 


Menuju puncak! 





AND finally, setelah sekitar 20 menit mblakrak-mblakrak (istilah masa muda kami untuk menggambarkan situasi dimana kami harus berjalan dengan segala cara dan upaya), sampailah kami di puncak! Yeay! Lebih gembira lagi karena ternyata di atas bukit ada warung sederhana yang menjual kopi dan teman-temannya (yang ini nih yang bikin Bapak girang setengah mati). Puncaknya, well, nggak seluas yang kami bayangkan sih (yang kata masnya bisa menampung 100 an tenda kalau pas ramai), tapi ini beneran puncak seperti puncak-puncak gunung itu! Haha... Dan dari atas sini, kami bisa melihat puncak-puncak perbukitan giyanti lainnya, termasuk bukit jambul yang memiliki bentuk yang khas itu. Surprisingly, ternyata dari atas kami bisa melihat Candi Selogriyo, tersembul dengan anggun di lembah di bawah kami, masih tersembunyi di antara kaki-kaki bukit Giyanti yang elok nian. Dan beneran lho di atas bukit ada tiang benderanya! 

Puncak! Yeay!
Candi Selogriyo dari Puncak Giyanti. Such a beautiful mystery!
Itu lho tiang benderanya!

Puncak tetangga.
1200 mdpl! Lumayan juga kan!
And its always a good thing to explore new things!


Warung kopi kesayangan Bapak.
Puncak! Puncak! Puncak!


PUAS jalan-jalan dan menikmati pemandangan yang spektakuler, kami memutuskan untuk turun. Si Bapak sudah cemas saja takut kemalaman di jalan, jadi dia mengultimatum maksimal jam tiga seperempat kami harus sudah mulai turun ke bawah. Well, membayangkan susahnya tanjakan terakhir sebelum puncak tadi bikin kami agak jiper juga sih, ngebayangin harus turun dengan menggendong Mbak Qori kalau tiba-tiba saja dia tidak berani (yang untungnya tidak perlu terjadi, karena dari mulai mendaki sampai turun Mbak Qori keukeuh dengan semangat no gendongnya, haha). Kata mas penjaga warungnya sih sebenernya ada juga jalur menuju Wonoroto dari puncak, tapi medannya agak sulit karena jarang dilalui (yang bikin mata kami berbinar-binar dan mencatatnya dalam the next destination). Oya, bagi yang berminat camping, jangan khawatir, warung puncak gunung ini buka 24 jam non stop, jadi kalau kebetulan tidak ada pendaki lain di puncak, jangan khawatir kesepian dan kekurangan suplai kopi atau mie! Atau, bagi para pemburu sunrise, jangan khawatir, si mas pasti dengan setia dan bahagia akan menyediakan kopi dan mie dan minuman hangat lainnya! 

Judulnya adalah: kotor dan bahagia!

PERJALANAN naik kami tempuh selama 2 jam, begitu juga perjalanan turun. Lama banget yak, haha. Seperti yang saya bilang tadi, jalan setapak yang kami lalui super duper licin dan becek dimana-mana, jadi kami harus ekstra hati-hati. Jadilah kami turun dengan kecepatan siput juga, sama seperti naiknya. Ada sih, adegan-adegan kepeleset beberapa kali, tapi yang bikin kami tenang sepertinya Mbak Qori lebih confidence ketika turun daripada ketika naik tadi, padahal menurut kami lebih sulit karena jalan yang ekstra licin dan tanjakan yang lumayan curam, terutama di trek menjelang puncak. Tapi, overall, perjalanan ini mengasyikkan dan bikin nagih. Selain jaraknya yang masih balita-able, medannya cukup menantang dan lumayan memuaskan adrenalin. Bagus juga untuk menantang keberanian anak-anak bereksplorasi di alam bebas.  

Nah, bagaimana? Wanna try? It's always a good thing to explore new things!

Overall rating: 9
Tingkat kesulitan : 8
Suitable for kids : moderate. 

Selasa, 07 Februari 2017

JURANG JERO: A PERFECT GETAWAY FOR SOLITUDE LOVERS

YEPS, bagi yang merasa butuh kedamaian, jauh dari suara dan hiruk pikuk modernisme, bisingnya lalu lintas mobil dan motor, ataupun sinyal HP yang membuat ponselmu bunyi tang-ting-tung tiap menit, I would definitely recommend this place for your short break vacation! Terletak di lereng Merapi dan masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu-Merapi, naga-naganya tempat ini sudah mulai dilirik para bikers dan motor crosser untuk touring dan menjelajah kawasan yang dulunya merupakan bekas jalan lahar dari kawah Merapi yang emang ciamik punya buat crossing-crossingan. Saya inget banget, waktu kecil Ibu pernah ngajak saya ke tempat ini, waktu tempat ini dulu masih berupa hutan setengah belantara dan belum banyak dikunjungi wisatawan. Yang saya ingat jaman dulu sih ada semacam monumen gitu di tengah hutan belantara ini, diresmikan dan ditandatangani sama Presiden Soeharto. Kata Ibu saya, tempat ini merupakan jalan lahar buatan (jadi dulu ada sabo dam yang saya inget dalaaaaaammmm banget), jadi semacam sungai buatan gitu laaah, untuk mengalirkan lahar sewaktu-waktu Merapi meletus (karena ini memang jalur lahar favorit sebelum letusan 94). Tapi apa nyana dikata, setelah jalan lahar ini selesai, ternyata sampai letusan terakhir tahun 2014, arah aliran lahar selalu mengarah ke Jogja (kecuali letusan tahun 2010), melewati Kali Gendol di Cangkringan sana. Beberapa tahun kemudian, waktu saya SMA, saya pernah juga pergi ke tempat ini bareng teman, dan kondisinya masih sama: jauh dari mana-mana (perkampungan terdekat sekitar 5 km jauhnya), jalannya jelek berbatu (iyalah, yang lewat situ cuma truk-truk pasir segede gaban), dan masih sunyi sepi menyejukkan. Bahkan, seinget saya dulu, kita bahkan harus menyeberangi sungai (literally) untuk bisa sampai lokasi dimana terdapat prasasti Soeharto ini. 




 Pemandangan Merapi dari arah Jurang Jero (sayangnya sedang berkabut jadi puncak Merapi tidak terlalu jelas). 


The old woman and her firewood. Tipikal pemandangan yang akan sering dijumpai di daerah pegunungan Indonesia.





Prasasti Soeharto, masih berdiri gagah saja sampai sekarang. 

SESUAI dengan namanya, yang kalau diterjemahkan literally adalah jurang yang dalam, objek pemandangan utama di tempat ini adalah jurang (atau lebih tepatnya sungai bekas aliran lahar) yang memang sangat dalam. Well, tidak sedalam yang saya ingat waktu terakhir kali saya datang ke sini sih, tapi tetap saja cukup dalam. Kata teman saya, wisata Jurang Jero ini mulai ngetren di awal-awal 2013an, dan mulai diserbu para wisatawan dan petualang yang hobi crossing-crossing-an, entah pake sepeda, motor, maupun jeep (meskipun ada juga sih wisatawan 'reguler' seperti saya yang niat utamanya adalah hiking dan mencari kesunyian). Bagusnya lagi, sebenarnya tempat ini tidak terlalu cocok untuk wisatawan super reguler ataupun wisatawan keluarga, karena sama seperti dulu, tempatnya tidak terlalu mudah dijangkau dengan kendaraan (mobil) biasa. Jalur yang paling utama untuk mencapai tempat ini adalah melalui Pertigaan Jumoyo atau Pertigaan Gulon menuju arah Srumbung. Buat yang bermobil, dari arah Srumbung menuju Desa Ngargosuko. Dari sini, kita harus menempuh jalan ekstra berbatu yang memang pada dasarnya digunakan sebagai jalur truk pengangkut batu dan pasir, yang panjangnya kira-kira sekitar 3 km (lumayanlah mengocok perut). Bagi yang bermotor, kita bisa mengambil rute memutar melewati perkampungan dengan jalan yang sudah dicor, lewat desa Tegalrandu. Fyi, jalan ini hanya cukup untuk satu jalur, sehingga dibuat pengaturan hanya mobil dari arah Jurang Jero saja yang bisa lewat jalur ini, dan tidak sebaliknya. 

SECARA umum sih saya bilang tempat ini tidak terlalu mudah dijangkau, karena tidak ada angkutan umum, tidak terlalu nyaman untuk mobil biasa (kecuali mobil off road). Kalau mau nyaman, saya menyarankan pakai motor saja - atau, kalau memang niat, bisa jalan kaki dari Ngargosuko. Tapi sulitnya akses menuju tempat ini sepadan kok dengan apa yang akan kalian dapat di sana! Seperti yang saya bilang tadi, tempat ini jauh dari mana-mana. Begitu sampai di lokasi, kita akan disambut dengan hutan pinus yang hijau, bau rumput dan udara yang menyegarkan, serta hanya terdengar suara angin, gesekan daun-daun, dan kicau burung di segala penjuru. There will be no modern noises kecuali satu dua motor atau mobil pendatang. Bahkan, sinyal HP-pun kembang kempis di tempat ini. Perfect paradise untuk mengasingkan diri pokoknya. 

TIKET yang harus dibayar adalah Rp.5000 untuk 1 motor dan Rp.10.000 untuk satu mobil. Begitu, sampai, kita akan mendapati kompleks bumi perkemahan yang memiliki fasilitas kamar mandi, musholla, serta ada beberapa warung (yang sayangnya tidak buka 24 jam non stop). Ada dua pilihan kalau kita sampai di tempat ini, wisata cantik (foto-foto dan selfie cantik) di kawasan wisata Randu Ijo, atau melanjutkan perjalanan sampai ke atas, ke tempat Monumen Suharto. Kalau kalian memilih yang pertama, tinggal meneruskan perjalanan ke arah barat sekitar 1 kilometer, kalian akan menemukan area Wisata Alam Berbasis Konservasi Kelompok Tani Hutan Randu Ijo. Ada warung menarik yang bisa jadi tempat nongkrong asyik di sana. Bagi yang doyan foto-foto, tersedia juga spot-spot ala-ala foto jaman sekarang yang bisa dicoba, lumayanlah buat upload-upload keren di sosmed, hehe... Overall, tempat ini menarik buat yang pengen duduk-duduk manis menikmati pemandangan alam tapi nggak pengen jalan terlalu jauh dan melelahkan. 


Wisata Alam Berbasis Konservasi Kelompok Tani Hutan Randu Ijo, buat yang doyan selfie dan foto-foto cantik. 


KARENA tujuan kami adalah untuk hiking, maka kami memutuskan untuk melanjutkan ke atas, menuju arah Monumen Suharto. Jadilah kami meretas hutan pinus dengan jalan setapak yang lumayan enak untuk dijadikan rute hiking. Bagi yang ingin bersepeda, tersedia juga jalur khusus yang cukup menantang untuk dicoba. Atau, bagi yang berkendaraan (motor atau mobil), silakan kembali menyusuri jalan-jalan penuh batu yang juga merupakan jalur truk pengangkut pasir (just imagine yourself how this road looks like). Yang saya suka dari trip Jurang Jero ini, jalur hikingnya enak banget! Tidak terlalu menanjak, tidak terlalu melelahkan, adem dan sejuk terlindung di sela-sela pepohonan, dan banyak yang bisa kita amati. Kita juga akan dimanjakan oleh suara burung dan angin yang bertiup di sela pepohonan. Bagi yang mengajak balita dan anak-anak, saya recommend banget jalur ini buat ber hiking ria keluarga. Untuk sampai ke Monumen Suharto, diperlukan sekitar 45 menit jalan kaki (sekitar 3 km dari tempat parkir). Di sini (lagi-lagi) kita akan ketemu juga dengan beberapa spot rumah pohon dan tempat-tempat 'kekinian' untuk foto cantik. 




Jalur trekking menuju Monumen Soeharto. Tidak terlalu menanjak dan cukup mengasyikkan buat kiddos.


MONUMEN Suharto sendiri terletak di lokasi yang terbuka, tempat kita bisa melihat 'jurang jero', jalur  sabo dam yang membentang ke arah Gunung Merapi di sebelah timur. Kalian bisa membayangkan sabo dam ini sebagai sungai lebar dan dalam yang di dalamnya penuh berisi pasir dan batu-batu, mulai dari yang sebesar kerikil sampai yang segede rumah. Sepanjang mata memandang, yang ada hanya deretan pepohonan, dam yang lebar, batu-batu besar. Well, suasananya tidak terlalu berubah sih seperti sejak saya terakhir datang ke sini - cuma (menurut perasaan saya) jurangnya tidak sedalam dulu lagi, karena mungkin sudah terisi material dari gunung Merapi. Sebagai informasi, katanya, letusan tahun 2010 kemarin cukup 'memporak porandakan' tempat ini, dan tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar aliran sabo dam hangus terbakar, walaupun sekarang sudah hijau kembali. 



Motor trail sepanjang jalur lava di dasar sabo. Wanna try?


River walk sepanjang aliran jalan lahar. Nice to try!





Wanna pics like this? It's totally cool!


BAGI yang doyan jalan, kalian bisa melanjutkan untuk terus ke atas, menyusuri dam raksasa ini sampai ke atas, yang berjarak sekitar 5 km dari Monumen Suharto. Kalian juga bisa berhenti di atas dam raksasa ini, dan merasakan betapa kecil dan mungilnya kita di antara kemegahan alam semesta (agak lebay sih, tapi this is what I really feel when I stand on this place). Kalian juga bisa bersepeda (onthel maupun motor) untuk menyusuri dam. Beberapa saya juga lihat ada yang menggunakan motor trail untuk turun ke dasar sungai. Atau, kita juga bisa jalan kaki menyusuri dasar sungai, sok-sok river walking gitu deh. Nggak ada airnya kok, karena dimana-mana hanya ada pasir, batu, batu, batu dan batu lagi. Tapi, kalau kalian pengen mencoba river walking, pastikan dulu hari tidak hujan dan Gunung Merapi berada dalam status aman ya, takutnya kalau tiba-tiba ada banjir lahar dari atas kalau pas hari hujan (yang begini ini sering kejadian, sampai-sampai ada beberapa truk dan penumpangnya yang ikut hanyut karena tidak sempat melarikan diri saking cepatnya banjir datang). And believe me, its worth it to try, untuk river walking maksudnya! Buat yang ngajak anak kecil, jangan khawatir - seperti yang saya bilang tadi, it's suitable for kids! At least, saya bisa bilang, Mbak Qori (4 y.o.), sangat menikmati perjalanan ini, dan hanya sesekali mengeluh capek yang langsung hilang lagi terkalahkan oleh semangat mengeksplorasi batu-batu segede gajah yang berserakan di mana-mana.




Menyusuri jalan lahar. Pengalaman yang berharga buat emak dan anaknya :) 




Mendaki dinding sabo dam. Meskipun dengan ketinggian sekitar 7 meter dan kemiringan 90 derajat, sepertinya Mbak Qori masih menikmatinya dan tetap ceria. 


SO, bagi mak-mak yang kelebihan adrenalin dan butuh sedikit 'tantangan' dan menggerakkan badan, i would say that this is a perfect getaway pokoknya. Kita bisa jalan-jalan, petualangan, dan tidak perlu khawatir medannya akan terlalu berat buat anak-anak. Juga, for those who need short breakout from your daily routine and modern life, I would definitely said that you must try this! Terutama sekali, saya suka its quietness, keterasingan dari dunia modern (nggak ada suara motor, mobil, hiruk pikuk manusia, sinyal hape, dll), sehingga selama 3 jam perjalanan menjelajah sabo dam, kita bener-bener akan terbebas dari kesibukan bermain HP dan upload-upload foto dan real time check-in on social media! 

Wanna try? It's always a good thing to explore new things!

Overall rating : 9 

Tingkat kesulitan : 6
Suitable for kids : Yes (with supervision). 

Senin, 23 Januari 2017

WEEKEND SHORT BREAK INSPIRATION: CANDI GUNUNG SARI

MINGGU ini kami tidak punya banyak waktu untuk bereksplorasi seharian seperti biasanya. Kebetulan si Ayah sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, jadi akhirnya kami memutuskan untuk 'berekspedisi' sendiri tanpa si Ayah. Karena tidak banyak persiapan juga, akhirnya kami memutuskan untuk mengeksplorasi Candi, hobi lama yang sepertinya sudah beberapa saat tidak dilakukan. Sebenarnya ada banyak candi di seputaran Magelang - Jogja yang bisa kami jelajahi, dan baru sekitar 50% saja yang sudah kami kunjungi. Eksplorasi candi ini sebenarnya menarik, sama menariknya dengan petualangan-petualangan lainnya, karena candi-candi yang ada di seputaran Magelang - Jogja itu terletak menyebar, banyak diantaranya terdapat di tengah perkampungan, persawahan, kaki bukit, bahkan juga puncak bukit! Dan jangan dibayangkan candi-candi tersebut semuanya semegah the famous Borobudur atau Prambanan dan Ratu Boko, banyak diantaranya yang hanya berupa bangunan batu kecil yang berdiri sendiri, ataupun dikelilingi dengan beberapa candi perwara (anak candi yang mengelilingi candi induk) lainnya. Bahkan, diantaranya pula hanya berupa tumpukan batu yang belum sempat direkonstruksi, dan hanya terlihat bekas pondasinya saja, seperti yang kami kunjungi minggu ini. 


KARENA kami menginginkan eksplorasi candi dengan sedikit trekking dan pemandangan dari ketinggian, serta lokasi yang tidak terlalu jauh, akhirnya pilihan kami jatuh ke Candi Gunung Sari. Tidak banyak yang tahu keberadaan candi ini, bahkan banyak pula penduduk Magelang yang belum pernah mendengar namanya. Tak heran, saat kami berusaha browsing, informasi yang kami peroleh juga sangat minim. Kami pun baru mendengar tentang candi ini dari penjaga Candi Gunung Wukir saat kami berkunjung ke sana beberapa waktu yang lalu. Menurut Pak Penjaga yang saya lupa namanya, Candi Gunung Sari sebenarnya lebih tua dan lebih besar dibandingkan Candi Gunung Wukir, tapi memang belum banyak penelitian dan ekskavasi yang dilakukan di sana, sehingga sejarah dan cerita mengenai candi inipun masih minim. 

SESUAI namanya, Candi Gunung Sari terletak di puncak bukit Gunung Sari, yang terletak di Dusun Gunung Sari, Desa Gulon, Kecamatan Muntilan. Letaknya cukup mudah ditemukan. Dari arah Jogja, sebelum memasuki Kota Muntilan, berbelok ke arah barat (belok kiri) di pertigaan Gulon (pertigaan ini terletak sekitar 1 kilometer setelah Jembatan Kali Putih) menuju bukit Gunung Sari di Dusun Gunung Sari. Sebenarnya, dari arah Jalan Magelangpun kita sudah bisa melihat bukit Gunung Sari, yang terletak di sebelah kanan jalan jika kita datang dari arah Jogja. Tidak perlu takut tersasar juga, karena akan ada papan penunjuk jalan yang cukup jelas untuk menuju ke bukit ini. 

Bukit Gunung Sari, tempat reruntuhan Candi Gunung Sari berada. 



Jalur pendakian di tepi jalan raya Gulon. Sepertinya terlihat lebih menantang. 


NAH, seperti yang sudah saya tulis tadi, Candi Gunung Sari terletak di puncak bukit, jadi perlu sedikit waktu dan tenaga untuk naik-naik ke puncak bukit menuju ke reruntuhan. Sebenarnya ada dua alternatif jalan untuk menuju ke puncak, yang pertama melalui jalur trekking yang terletak tepat di pinggir jalan raya Gulon, tapi dilihat dari kenampakan bentuknya, jalur ini sepertinya penuh dengan rerumputan tinggi dan sekilas terlihat hanya seperti jalan setapak kecil yang jarang dilalui orang. Lebih menantang sih, tapi karena kali ini kami bepergian tanpa si Ayah, akhirnya kami memilih alternatif jalan yang lebih familiar, yaitu lewat jalur menuju pemakaman di tengah Dusun Gunung Sari - yang kata ibu setempat lebih sering dilalui. Jadilah kami menuju dusun Gunung Sari, dan menemukan pelataran masjid dengan petunjuk menuju candi yang jelas, dengan anak tangga yang terlihat misterius dan sunyi. Di sini kami memarkir motor, dan memulai perjalanan menuju puncak bukit. 

ANAK tangga tersebut membawa kami ke pemakaman umum yang terletak sekitar 50 meter dari kaki bukit. Sampai di sini, anak tangga habis, dan kami harus melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak di tengah rerimbunan pohon dan semak belukar. Tidak terlalu terjal dan tidak terlalu sulit, tapi lumayan juga mendaki bukit setinggi sekitar 200 meter tersebut bersama anak-anak. Untungnya, pepohonan yang rindang dan suara burung sangat menghibur sehingga kami menikmati perjalanan dengan bahagia. Ditambah pula, dari kerimbunan pepohonan di sekitar, sesekali terlihat pemandangan Kota Magelang yang indah, dengan latar Gunung Merbabu-Merapi di kejauhan yang tampak cantik. Dilihat dari semangatnya anak-anak mendaki, yang masih bisa bernyanyi, tertawa dan berlari sesekali, saya menggolongkan bukit ini cukup nyaman untuk didaki.  



Mendaki Bukit Gunung Sari mencapai puncak. 

HANYA butuh waktu kurang dari 30 menit untuk mencapai puncak bersama anak-anak, itupun dengan diselingi istirahat beberapa kali. Jadi, kalau dengan kecepatan normal, mungkin hanya diperlukan waktu sekitar 20 menit untuk sampai puncak. Sampai di puncak, seperti yang sudah kami browse sebelumnya, kami menemukan reruntuhan Candi Gunung Sari dalam sebuah pelataran datar berpagar, dengan sebuah pohon besar menjulang dan sebuah pondok kecil untuk para penjaga. Suasana di atas sunyi, hanya kami bertiga yang saat itu ada di sana. Di tengah jalan tadi kami bertemu dengan mas penjaga yang sedang akan istirahat siang, jadi sayang sekali kami tidak bisa mengobrol dan menodong cerita dari mas penjaga. Dan benar saja seperti yang sudah diceritakan oleh mas penjaga di Candi Gunung Wukir beberapa waktu yang lalu, informasi mengenai Candi Gunung Sari ini masih sangat minim. Candi ini ditemukan secara tidak sengaja di tahun 1980-an, saat Pemerintah hendak membangun menara TVRI di puncak bukit ini. Saat melakukan penggalian, mereka menemukan bongkahan-bongkahan batu yang merupakan bagian dari candi, dan menemukan lebih banyak lagi setelah dilakukan penggalian lebih intensif. Dari yang kami lihat, kami hanya melihat bekas pondasi candi induk dengan dimensi sekitar 10 x 10 meter, dan tidak menemukan bekas reruntuhan adanya candi perwara di dekatnya - meskipun kami tidak tahu karena berdasarkan informasi, masih banyak bagian candi yang belum digali dan terkubur di perut bukit. Beberapa sumber menyebutkan, karena masih banyak araca dan bagian lain candi yang belum digali, menyebabkan proses rekonstruksi mengalami kesulitan, sehingga sampai saat ini yang bisa kami lihat memang hanya berupa tumpukan batu di sekitar pondasi bangunan utama candi. Informasi di papan informasipun sangat minim, hanya menyebutkan bahwa Candi Gunung Sari merupakan candi Hindu yang dibangun di abad IX - yang ditandai dengan adanya arca Mahakala yang ditemukan saat dilakukan penggalian. Tapi, sudah berkeliling beberapa kalipun, kami tidak menemukan dimana letak Arca Mahakala itu berada, pun sesuatu yang mirip atau dapat teridentifikasi sebagai arca. Dari informasi papan petunjuk di halaman depan candi juga disebutkan bahwa Candi Gunung Sari terdiri dari satu bangunan candi utama (bagian pondasi besar dengan banyak reruntuhan yang belum disusun), satu bangunan bukan candi utama, bangunan berstruktur batu bata dan bangunan berstruktur batu putih (yang juga tidak kami temukan bekasnya). Yah, meskipun sangat minim informasi - yang mungkin disebabkan karena memang belum banyak penelitian yang dilakukan untuk mengungkap sejarah dan misteri Candi Gunung Sari ini, overall, kami sangat menikmati petualangan ini. Terutama karena sejuknya suasana dan indahnya pemandangan sekeliling dari puncak bukit, yang membuat kami seolah-olah merasa berada di suatu negeri misterius yang menyimpan banyak cerita dan kejutan. 




Pelataran candi utama dilihat dari sisi barat.Kondisi candi yang belum sempat direkonstruksi menyebabkan batu-batu penyusun bangunan candi utama masih berserakan di sekitar pondasi utama.


Pelataran candi utama dilihat dari sisi timur.


Bereksplorasi di pelataran candi utama.


Pintu gerbang utama Candi Gunung Sari. 


Pemandangan dari atas bukit Gunung Sari

JADI, meskipun masih minim informasi, tapi bagi yang berada di sekitaran Magelang - Jogja, Candi Gunung Sari bisa menjadi alternatif untuk pilihan shortbreak, wisata sejarah sekaligus wisata trekking yang tidak terlalu merepotkan, terutama untuk mereka yang membawa anak-anak. Jangan lupa untuk membawa bekal makanan dan minuman ya, karena tidak ada pedagang di sekitar candi maupun di kaki bukit. Selain itu, kita juga bisa menikmati suasana kehidupan pedesaan yang kental terasa di Dusun Gunung Sari, tempat bukit ini berada. Bagi yang kebetulan sedang menjelajah Magelang, bisa juga jadi alternatif wisata selain mengunjungi the famous Borobudur, Mendut dan Pawon yang sepertinya sudah menjadi destinasi wajib di kota ini! It's always a good thing to explore new things! 

Overall rating : 7
Tingkat kesulitan : 3 
Suitable for kids : yes.  











Selasa, 17 Januari 2017

CAMPING WITH KIDDOS: BERPETUALANG BERSAMA ANAK


exploring the beach


USIA Mbak Qori 2 tahun kurang saat pertama kali kami mengajak dia camping, atau dalam artian yang lebih sederhana, bermalam di alam bebas. Sebenarnya, meskipun Mbak Qori menunjukkan tanda-tanda ketertarikan terhadap alam bebas, tapi sampai saat inipun dia masih belum terlalu easy going untuk bereksplorasi dan berpetualang di alam bebas: Mbak Qori masih sering takut kotor, tidak mau basah-basah dan kena lumpur, takut kegelapan, dan masih harus sering 'ditemani' a.k.a 'dipaksa' untuk menikmati medan-medan ekstrim dan mencoba hal-hal ekstrim. Cuma karena emak dan bapaknya saja yang ngotot melibatkan si bocah dalam kesenangan-kesenangan ekstrim seperti ini, makanya sampai sekarang kami masih konsisten mengajak Mbak Qori 'berpetualang' ala kami, dan masih setia menemani kami hunting tempat-tempat 'eksotis' dan mencoba hal-hal 'manis'.

CAMPING pertama kami dengan bocah sebenarnya tidak terlalu ekstrim juga. Kami memang sengaja memilih lokasi yang tidak terlalu 'merepotkan', bisa dinikmati oleh semua umur, menarik buat anak-anak, sekaligus 'dekat' dengan fasilitas-fasilitas umum. Yah, namanya juga pengalaman pertama, kami agak khawatir juga kalau Mbak Qori rewel karena merasa takut, cemas atau tidak nyaman. Jadilah kami memilih Pantai Sundak sebagai lokasi camping pertama kami. Jauh-jauh hari sebelumnya, saya sudah berpesan pada Mbak Qori bahwa kita akan berpetualang (ini juga yang sampai sekarang masih menjadi kata andalan tiap kali kami mengajak Qori bereksplorasi), Kami jelaskan bawah berpetualang artinya adalah kita mencoba hal baru, kadang-kadang tidak enak dan menakutkan, tapi tidak apa-apa karena kita akan dapat pengalaman (saya juga masih menggunakan kata ini sampai sekarang untuk membujuk Mbak Qori kalau di tengah perjalanan tiba-tiba dia ngambek, atau rewel karena takut, malas dan lain sebagainya). Sebagai mak-mak, jauh-jauh hari juga saya sudah rempong menyiapkan segala macam benda dan senjata untuk bekal camping pertama. Karena ini pengalaman pertama, saya jadi belum punya gambaran dan agak ketakutan juga kalau tetiba Mbak Qori rewel, tidak enak badan dan lain sebagainya. Mulai dari tenda, matras, sarung, bantal guling, termos air panas, senter, susu, camilan, mainan, buku, seabreg baju ganti, baju renang, obat-obatan, topi, kaus kaki dan lain sebagainya masuk dalam daftar saya. Kebayang kan, seberapa banyak barang bawaan kami waktu itu? Sampai-sampai kata suami saya, lebih repot daripada kalau kita pergi aja ke Jakarta naik kereta, hihii... (maklumlah, waktu itu saya masih 'awang-awangen' mengajak anak-anak camping ke alam bebas, takut dia kenapa-napa!)


Tenda kami diantara tenda-tenda yang lainnya.


PERJALANAN kami sebenarnya menyenangkan dan baik-baik saja. Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 5 sore, dan baru sampai lokasi pada jam 11 malam karena tersasar-sasar. Waktu itu, sebenarnya kami tidak punya rencana khusus akan membuka tenda di mana, yang penting di pinggir pantai saja! Jadi, setelah mensurvey lebih dari 3 pantai yang berdekatan di sepanjang pesisir Gunung Kidul, akhirnya kami menambatkan pilihan pada Pantai Sundak, karena selain memiliki bagian pantai yang lumayan datar, di sepanjang bibir pantai juga terdapat pepohonan yang akan jadi tempat berlindung yang lumayan dari angin laut di malam hari dan tempat berteduh yang nyaman di siang hari, selain juga supaya si Bapak bisa mencoba berayun-ayun di hammock yang sudah jauh-jauh hari diangan-angankan! Sempat sih Mbak Qori tidak bisa tidur karena takut gelap dan pergantian suasana dari biasanya bikin dia merasa sedikit tidak nyaman, cuma so far, we enjoy our journey a lot! 

NAH, berdasarkan pengalaman kami, ada beberapa catatan yang mungkin akan bisa membantu para mak-mak yang juga bernafsu untuk mengajak krucilsnya jalan-jalan dan menginap di alam bebas, jangan ragu dan just do it! Apakah repot? Tentu saja! Bawa anak kondangan yang cuma 2 jam saja persiapannya bisa tiga hari penuh, apalagi kemping yang notabene lebih menantang dan lebih tidak terduga. Kebayang repotnya kan? Tapi jangan khawatir, para emak bisa simak kok beberapa catatan berikut ini:

  1. Penting untuk brainstorming dengan anak tentang apa yang akan dihadapi nanti. Sebelum berangkat, saya sudah menjelaskan pada Mbak Qori bahwa nanti kita akan tidur di pinggir pantai di dalam tenda. Nanti suasananya akan agak gelap karena tidak ada lampu, dan kita akan tidur di atas pasir pakai matras, yang artinya tidak sama seperti tidur di atas kasur. Di awal pada saat saya menjelaskan sih Mbak Qori iya iya aja, karena dia belum bisa membayangkan camping itu seperti apa. Agak rewel juga sih waktu sudah sampai lokasi, tapi saat kami kemudian menjelaskan bahwa ini adalah pengalaman baru, petualangan baru dan lain sebagainya, akhirnya dia enjoy juga. 
  2. Bawa beberapa mainan atau buku cerita favorit mereka, meskipun tidak perlu terlalu banyak. Yang namanya anak-anak, kadang mereka bosan juga melihat pemandangan alam atau bermain-main dengan apa yang ada di situ. Kadang mereka membutuhkan permainan atau kegiatan yang familiar, jadi untuk mengatasi kebosanan (dan kerewelan), ada baiknya para emak membekali diri dengan benda-benda 'keseharian' mereka. 
  3. Yang penting anak-anak tidak kedinginan dan tidak basah. Nah, saya agak parno untuk masalah ini, kayaknya sudah kadung didoktrin sama para orang tua jaman dulu, kalau anak kecil itu jangan sampai kedinginan dan kebasahan terlalu lama, nanti masuk angin! Jadinya, tiap kali saya kemanapun bersama Mbak Qori, entah menginap entah tidak, saya selalu bawa seabreg baju ganti, baju hangat, selimut, topi dan kaos kaki, yang saya untel-untel di dalam kantong plastik dan baru dimasukkan ke ransel, untuk menghindari basah dan kehujanan. 
  4. Bawa portable lamp yang rechargeable. Ini untuk mengantisipasi kalau pasukan kecil takut gelap, sekaligus juga sangat membantu untuk penerangan di malam hari. Bisa kebayang kan, repotnya kebutuhan balita yang penuh pernik-pernik kecil. Jadi, dengan penerangan yang memadai (dan ramah lingkungan), adegan gagap-gagap mencari benda-benda mungil dan kecil bisa sedikit direduksi. 
  5. Bawa bekal makanan dan camilan yang high calory, termasuk juga susu kotak kemasan praktis dan persediaan air minum yang mencukupi. Adakalanya, lokasi yang kita kunjungi tidak selamanya dekat dengan warung atau tempat makan, dan adakalanya memasak bisa begitu merepotkan atau bahkan tidak memungkinkan. Dengan memastikan makanan yang cukup kalori tersedia seperti biskuit susu, coklat dan lain sebagainya, paling tidak kita bisa mengganjal lapar dan memastikan si kecil tetap punya suplai tenaga yang memadai untuk the rest of the day. Yang penting si kecil dan orang tuanya jangan sampai kehabisan energi deh!
NAH, itu sebagian tips mengajak krucils menginap di alam bebas. Repot sih, tapi believe me, it's worth to try, coz It's always a good thing to explore new things!