exploring the beach
USIA Mbak Qori 2 tahun kurang saat pertama kali kami mengajak dia camping, atau dalam artian yang lebih sederhana, bermalam di alam bebas. Sebenarnya, meskipun Mbak Qori menunjukkan tanda-tanda ketertarikan terhadap alam bebas, tapi sampai saat inipun dia masih belum terlalu easy going untuk bereksplorasi dan berpetualang di alam bebas: Mbak Qori masih sering takut kotor, tidak mau basah-basah dan kena lumpur, takut kegelapan, dan masih harus sering 'ditemani' a.k.a 'dipaksa' untuk menikmati medan-medan ekstrim dan mencoba hal-hal ekstrim. Cuma karena emak dan bapaknya saja yang ngotot melibatkan si bocah dalam kesenangan-kesenangan ekstrim seperti ini, makanya sampai sekarang kami masih konsisten mengajak Mbak Qori 'berpetualang' ala kami, dan masih setia menemani kami hunting tempat-tempat 'eksotis' dan mencoba hal-hal 'manis'.
CAMPING pertama kami dengan bocah sebenarnya tidak terlalu ekstrim juga. Kami memang sengaja memilih lokasi yang tidak terlalu 'merepotkan', bisa dinikmati oleh semua umur, menarik buat anak-anak, sekaligus 'dekat' dengan fasilitas-fasilitas umum. Yah, namanya juga pengalaman pertama, kami agak khawatir juga kalau Mbak Qori rewel karena merasa takut, cemas atau tidak nyaman. Jadilah kami memilih Pantai Sundak sebagai lokasi camping pertama kami. Jauh-jauh hari sebelumnya, saya sudah berpesan pada Mbak Qori bahwa kita akan berpetualang (ini juga yang sampai sekarang masih menjadi kata andalan tiap kali kami mengajak Qori bereksplorasi), Kami jelaskan bawah berpetualang artinya adalah kita mencoba hal baru, kadang-kadang tidak enak dan menakutkan, tapi tidak apa-apa karena kita akan dapat pengalaman (saya juga masih menggunakan kata ini sampai sekarang untuk membujuk Mbak Qori kalau di tengah perjalanan tiba-tiba dia ngambek, atau rewel karena takut, malas dan lain sebagainya). Sebagai mak-mak, jauh-jauh hari juga saya sudah rempong menyiapkan segala macam benda dan senjata untuk bekal camping pertama. Karena ini pengalaman pertama, saya jadi belum punya gambaran dan agak ketakutan juga kalau tetiba Mbak Qori rewel, tidak enak badan dan lain sebagainya. Mulai dari tenda, matras, sarung, bantal guling, termos air panas, senter, susu, camilan, mainan, buku, seabreg baju ganti, baju renang, obat-obatan, topi, kaus kaki dan lain sebagainya masuk dalam daftar saya. Kebayang kan, seberapa banyak barang bawaan kami waktu itu? Sampai-sampai kata suami saya, lebih repot daripada kalau kita pergi aja ke Jakarta naik kereta, hihii... (maklumlah, waktu itu saya masih 'awang-awangen' mengajak anak-anak camping ke alam bebas, takut dia kenapa-napa!)
Tenda kami diantara tenda-tenda yang lainnya.
PERJALANAN kami sebenarnya menyenangkan dan baik-baik saja. Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 5 sore, dan baru sampai lokasi pada jam 11 malam karena tersasar-sasar. Waktu itu, sebenarnya kami tidak punya rencana khusus akan membuka tenda di mana, yang penting di pinggir pantai saja! Jadi, setelah mensurvey lebih dari 3 pantai yang berdekatan di sepanjang pesisir Gunung Kidul, akhirnya kami menambatkan pilihan pada Pantai Sundak, karena selain memiliki bagian pantai yang lumayan datar, di sepanjang bibir pantai juga terdapat pepohonan yang akan jadi tempat berlindung yang lumayan dari angin laut di malam hari dan tempat berteduh yang nyaman di siang hari, selain juga supaya si Bapak bisa mencoba berayun-ayun di hammock yang sudah jauh-jauh hari diangan-angankan! Sempat sih Mbak Qori tidak bisa tidur karena takut gelap dan pergantian suasana dari biasanya bikin dia merasa sedikit tidak nyaman, cuma so far, we enjoy our journey a lot!
NAH, berdasarkan pengalaman kami, ada beberapa catatan yang mungkin akan bisa membantu para mak-mak yang juga bernafsu untuk mengajak krucilsnya jalan-jalan dan menginap di alam bebas, jangan ragu dan just do it! Apakah repot? Tentu saja! Bawa anak kondangan yang cuma 2 jam saja persiapannya bisa tiga hari penuh, apalagi kemping yang notabene lebih menantang dan lebih tidak terduga. Kebayang repotnya kan? Tapi jangan khawatir, para emak bisa simak kok beberapa catatan berikut ini:
- Penting untuk brainstorming dengan anak tentang apa yang akan dihadapi nanti. Sebelum berangkat, saya sudah menjelaskan pada Mbak Qori bahwa nanti kita akan tidur di pinggir pantai di dalam tenda. Nanti suasananya akan agak gelap karena tidak ada lampu, dan kita akan tidur di atas pasir pakai matras, yang artinya tidak sama seperti tidur di atas kasur. Di awal pada saat saya menjelaskan sih Mbak Qori iya iya aja, karena dia belum bisa membayangkan camping itu seperti apa. Agak rewel juga sih waktu sudah sampai lokasi, tapi saat kami kemudian menjelaskan bahwa ini adalah pengalaman baru, petualangan baru dan lain sebagainya, akhirnya dia enjoy juga.
- Bawa beberapa mainan atau buku cerita favorit mereka, meskipun tidak perlu terlalu banyak. Yang namanya anak-anak, kadang mereka bosan juga melihat pemandangan alam atau bermain-main dengan apa yang ada di situ. Kadang mereka membutuhkan permainan atau kegiatan yang familiar, jadi untuk mengatasi kebosanan (dan kerewelan), ada baiknya para emak membekali diri dengan benda-benda 'keseharian' mereka.
- Yang penting anak-anak tidak kedinginan dan tidak basah. Nah, saya agak parno untuk masalah ini, kayaknya sudah kadung didoktrin sama para orang tua jaman dulu, kalau anak kecil itu jangan sampai kedinginan dan kebasahan terlalu lama, nanti masuk angin! Jadinya, tiap kali saya kemanapun bersama Mbak Qori, entah menginap entah tidak, saya selalu bawa seabreg baju ganti, baju hangat, selimut, topi dan kaos kaki, yang saya untel-untel di dalam kantong plastik dan baru dimasukkan ke ransel, untuk menghindari basah dan kehujanan.
- Bawa portable lamp yang rechargeable. Ini untuk mengantisipasi kalau pasukan kecil takut gelap, sekaligus juga sangat membantu untuk penerangan di malam hari. Bisa kebayang kan, repotnya kebutuhan balita yang penuh pernik-pernik kecil. Jadi, dengan penerangan yang memadai (dan ramah lingkungan), adegan gagap-gagap mencari benda-benda mungil dan kecil bisa sedikit direduksi.
- Bawa bekal makanan dan camilan yang high calory, termasuk juga susu kotak kemasan praktis dan persediaan air minum yang mencukupi. Adakalanya, lokasi yang kita kunjungi tidak selamanya dekat dengan warung atau tempat makan, dan adakalanya memasak bisa begitu merepotkan atau bahkan tidak memungkinkan. Dengan memastikan makanan yang cukup kalori tersedia seperti biskuit susu, coklat dan lain sebagainya, paling tidak kita bisa mengganjal lapar dan memastikan si kecil tetap punya suplai tenaga yang memadai untuk the rest of the day. Yang penting si kecil dan orang tuanya jangan sampai kehabisan energi deh!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar