 |
| Image taken from http://www.imdb.com/title/tt4005402/ |
REVIEW time for January! Film garapan Florian Gallenberger ini sebenarnya udah rilis tahun 2015 kemarin. Kebetulan dari hasil voting Friday Movie Club kami, nih film (or at least sinopsis dan thriller-nya) berhasil memenangkan hati para voter untuk tayang di Jumat siang minggu kemarin, menang tipis dengan Captain Fantastis - sebagai agenda rutin minggu bahagia kami. Sebenarnya sih aku nggak terlalu berharap-harap banyak dari Emma Watson, secara dari banyak film yang dia yang gue tonton kan kebanyakan drama-drama gitu yak (yah, walaupun aku cukup menikmati cerita dan karakter 'smart' dia sih). Yang jelas sih, meskipun dia no more Hermione Granger, sepertinya dari film-film dia yang lain yang aku tonton, kesan 'cewek pinter' semacam nggak bisa lepas dari karakter dia, termasuk pula di film Colonia ini.
BERLATAR belakang kudeta militer Chile tahun 1973, Lena (Emma Watson), seorang pramugari pesawat Jerman Lufthansa, menyusul kekasihnya Daniel (Daniel Bruhl), pemuda berkebangsaan Jerman yang menjadi simpatisan Salvador Allende dan bergabung dengan gerakan pemuda simpatisan Allende di Santiago de Chile, ibukota Chile. Nuansa kudeta itu sendiri digambarkan sedikit di bagian awal film, ketika Daniel menerima telepon dari temannya mengabarkan kalau pemerintahan Allende telah jatuh dan Augusto Pinochet berkuasa. Merasa nggak aman berada di tempat tersebut (karena tentu saja Daniel sudah 'tercatat' sebagai simpatisan Allende meskipun dia berkewarga negaraan Jerman), dua kekasih itu kemudian keluar dari rumah. Di jalan, keadaan sudah benar-benar chaos: orang-orang dijajarkan dan ditangkap oleh militer, dipukul dll. Sementara Daniel dengan heroiknya (agak too much sih kata aku), menyelundupkan kamera dan memotret keadaan sekitar, sementara tentara masih berseliweran dan orang-orang berteriak ketakutan. Sebenarnya Lena sudah ngotot aja untuk pergi ke kedutaan besar or ke bandara menyelamatkan diri, tapi Daniel dengan gagah berani berkata bahwa 'kita harus mengabarkan ini pada dunia'. Lalu, dengan satu scene yang 'terlalu jelas', si Daniel berjalan mendekati kerumunan tentara sambil motret-motret (sepertinya sih pengennya kelihatan sembunyi-sembunyi, tapi ya itu tadi, 'terlalu jelas'). Gegara Daniel yang sok heroik itulah kemudian mereka ditangkap dan dibawa ke stadion (whic is sebelumnya tu dua pemuda sudah 'merengek-rengek' kalau mereka foreigner). Bersama penduduk sipil lainnya yang juga ditangkap, mereka dibariskan di stadion, lalu satu persatu mereka diidentifikasi apakah mereka ada hubungan dengan Salvador Allende atau tidak. Tiba giliran Daniel, bisa ketebak dong, kalau kemudian dia 'diciduk' dan dikenali sebagai si tukang bikin poster yang jadi simpatisan militan Allende. Nah, pas dia ditangkap itu, Daniel yang tadinya berlagak as urban hero merengek-rengek dan bilang kalau dia nggak boleh ditangkap, dia nggak ada hubungannya dengan sosialisme, dia orang Jerman dan bukan penduduk Chile dll, which is aku jadi mengerutkan kening, tiba giliran ada bahaya di depan mata, bisa aja ya orang berusaha menyelamatkan diri, bahkan dari sesuatu yang dulu mereka yakini sempurna dan membawa kepada kebaikan dan kebenaran (which is kalau dipikir-pikir manusiawi banget sih. Emang dipikir semua orang gagah berani macem Superman atau The Avenger yak?).
SINGKAT kata, dibawalah si Daniel ini ke Colonia Dignidad, sebuah koloni Jerman nun jauh di pedesaan Chile sana. Disana dia diikat, ditelanjangi, disiksa, dipukulin, disetrum dll, sampai kemudian datanglah 'The Messiah', Paul Schafer (Michael Nyqvist), pemimpin sekte Colonia Dignidad. Daniel dirawat, diobati, dan dipekerjakan di Colonia. Selama tinggal di Colonia, Daniel pura-pura menjadi orang bodoh karena hasil penyiksaan yang membuat some nerve in his brain broken or whatsoever lah.
DI lain pihak, Lena, sang kekasih, berniat menolong Daniel dengan segala cara. Dia yang seharusnya dijadwalkan terbang pulang ke Jerman membatalkan penerbangannya, dan alih-alih kembali ke Eropa, dia 'pura-pura' bergabung dengan Colonia Dignidad untuk mencari kekasihnya. Yeps mereka memang bertemu di sana, dan bertahan sampai 134 hari di dalam koloni. The rest of the movie menceritakan bagaimana mereka bertahan di koloni yang 'aneh' tersebut, dengan banyak peraturan yang nyleneh, dimana kontak antar setiap orang sangat dibatasi dan kekuasaan tunggal ada di pendeta agung Paul Schafer, yang bertindak layaknya diktator. Mereka juga bertemu Ursel, cewek Jerman (or keturunan Jerman), yang the whole of her life tinggal di Colonia dan never see the world outside. Singkat kata, dua pasangan itu akhirnya berhasil lolos dari tempat tersebut, dan berhasil kembali ke Jerman dengan membawa bukti-bukti berupa foto yang menggambarkan 'kekejaman yang terselubung' yang dilakukan di Colonia Dignidad. Not an easy escape, tentu saja, dan bahkan digambarkan juga bahwa Kedubes Jerman masa itu bersikap seolah 'melindungi' praktik yang dilakukan Schafer.
TO BE HONEST, sepanjang menonton film ini, aku merasa frustated. Bukan karena filmnya atau apanya, tapi seperti yang gue bilang sama teman gue, I hate time when I start questioning myself of the meaning being human being, and humanity itself. Meskipun tidak tergolong film gore dengan adegan-adegan penyiksaan yang bikin ngeri, film ini bagi aku mentally torturing, dengan adegan lorong-lorong bawah tanah, ruang penyiksaan, ketegangan tiada henti tentang bagaimana orang diperlakukan di Colonia. Sebenarnya, jika berbicara tentang kudeta Chile tahun 1973, nggak beda jauh dari peristiwa kudeta Jakarta 1965 (bahkan dari banyak literatur dan sumber yang kubaca, kudeta Chile ini 'terinspirasi' oleh kudeta Jakarta, dan sama-sama disponsori oleh CIA). Dan seperti halnya kudeta berdarah lainnya, pastilah menuntut banyak korban jiwa, ratusan, ribuan bahkan jutaan. Tentang kudeta Chile ini sendiri aku sudah sedikit banyak membaca dan mendengar dari berbagai sumber, tapi mengenai Colonia Dignidad ini sendiri baru kudengar dari nih film. Walhasil, karena terlalu menghayati, browsinglah aku mengenai what's behind Colonia Dignidad dan siapa itu Paul Schafer. Well, sejarah kelam memang tak boleh dilupakan, tapi terlalu pahit untuk dikenang. Selama masa pemerintahan diktator Augusto Pinochet (1973-1990), Colonia Dignidad dijadikan sebagai 'penjara' dan kamp penyiksaan bagi musuh-musuh sang diktator, satu dari sekian banyak detention camp yang didirikan oleh Pinochet untuk menyingkirkan musuh politiknya. Ratusan orang disiksa, dibunuh, dikuburkan, ataupun 'dipaksa' menjadi anggota koloni - dengan kehidupan yang bagaikan perbudakan.
COLONIA DIGNIDAD, menempati lahan seluas 137 hektar di pinggiran Chile. Pertama kali koloni ini berdiri di era 50-an, tempat sekumpulan orang Jerman yang tinggal di Chile setelah PD II dan tetap ingin mempertahankan Bavarian culture, hidup dengan gaya Bavaria seperti laiknya mereka ketika di Jerman, lengkap dengan budaya, musik, makanan, pakaian dan lain sebagainya. Tahun 1961, Paul Schifer datang ke koloni ini setelah berhasil menghindari hukuman penjara karena sex abuse kepada anak-anak di Jerman, dan menjadi pemimpin koloni yang paling notorious. Para penghuni koloni hidup bagaikan budak, mereka dipaksa bekerja keras siang malam, didoktrinasi, dan diputus hubungannya dengan dunia luar. Selama 4 dekade, sampai tahun 2006 ketika dia ditangkap karena tuduhan child abuse, Colonia Dignidad menjadi tempat yang penuh mimpi buruk bagi penghuninya: dikelilingi oleh pagar besi dengan menara pengawas, kehidupan yang dibatasi, bahkan kontak antara perempuan, anak-anak dan laki-laki pun dibatasi, serta kekejaman dan teror sepanjang hari yang seperti tiada habisnya. Sampai akhir Schifer berkuasa, hanya sedikit (5 orang) yang berhasil meloloskan diri dari Colonia Dignidad. Bahkan, bukti-bukti kekejamannyapun, meskipun sudah diedarkan ke publik, seakan-akan tak mampu mencegah pelanggaran hak asasi manusia yang ada di sana. Dalam beberapa artikel juga disebutkan bahwa pihak Kedutaan Besar Jerman sekalipun bertindak seolah-olah menutup mata atas apa yang dilakukan Schifer dan hubungannya dengan sang diktator Pinochet.
IT'S HURT to know that sometimes, di belahan dunia antah berantah dimana kita tidak pernah berada atau terlibat di dalamnya, pelanggaran terhadap hak asasi manusia sering terjadi, tak tersentuh oleh hukum negara maupun hukum kemanusiaan, dan masih terus berlangsung - bahkan nyaris tak terlihat. Indonesiapun juga memiliki sejarah kemanusiaan dengan apa yang terjadi di Chile. Perjuangan menuju keadilan dan menciptakan bumi sebagai tempat yang nyaman bagi seluruh makhluk hidup, meskipun di era modern saat ini sudah mencapai banyak pencapaian, masihlah harus terus berlanjut. Perang, diskriminasi terhadap ras tertentu, kelaparan, persamaan hak, pendidikan, dan banyak isu kemanusiaan lain yang masih harus kita perjuangkan. Karena kita diciptakan untuk peduli, karena kita diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi.
IT'S always a good thing to care and to embrace the world.