}

Jumat, 06 April 2018

KEDAI KOPI PAK ROHMAT & CURUG PERAWAN: ANOTHER ONE DAY TRIP EXPLORING MENOREH

YUPS! Kami memang fans berat perbukitan Suroloyo yang membentangi ujung barat wilayah DIY. Karena lokasinya yang berbatasan dengan Magelang, kami yang tiap weekend pulang Magelang jadi enak banget kalo mau main ke sini, selain bisa dituju sambil perjalanan pulang ke Magelang, nggak jauh juga kalau kita mau menuju ke sana kalau ditempuh langsung dari kampung halaman tercinta. Plus lagi, kami sudah kadung amat sangat jatuh cinta dengan kopi Suroloyo yang ciamik punya. Kayaknya nih, segala masalah hidup bisa langsung terlupakan kalau sudah minum kopi Suroloyo di tempat asalnya dia ditanam, diproses plus dibikin sampai jadi segelas kopi pahit panas. Tambah lagi dengan pemandangan hijau seksi plus kabut syahdu yang jadi latar belakang, its almost perfecto deh! 

KALAU di  tulisan yang sebelumnya  kami sempat mengupas masalah kopi Suroloyo dan beberapa spot menarik di sekitar puncak Suroloyo, kali ini kami memutuskan untuk menyusuri sisi selatan Suroloyo yang sudah masuk area Yogyakarta. Awalnya sih kami berencana untuk mencari Kedai Kopi Pak Rohmat, satu lagi tempat ngopi di Suroloyo yang direkomendasikan temen sebagai salah satu tempat must go bagi para pemburu kopi. Kami cukup heran juga sih, setelah puluhan kali menjelajah Suroloyo kok belum pernah sekalipun kami lihat petunjuk menuju Kedai Kopi Pak Rohmat ini. Setelah tanya sana sini dan browsing sana sini, akhirnya ketemu juga lokasi si kedai kopi, yang ternyata nggak jauh-jauh amat dari Watu Tekek, salah satu destinasi wisata lain yang dikelola dalam konsep perhutanan rakyat (kapan-kapan kami akan tulis sedikit ulasan mengenai watu tekek ini). Dan pantas saja sih kalau kami nggak pernah lihat keberadaan kedai kopi yang konon katanya nggak kalah asik dari Kedai Kopi Suroloyo di puncak Suroloyo sana, karena nih kedai kopi lebih mudah dan lebih dekat dicapai dari Yogyakarta, melalui Boro. Atau, kalau dari arah Magelang, tempat ini lebih nyaman ditemukan kalau lewat jalur Pasar Bendo ketimbang Pasar Jagalan, jalur yang biasanya kami tempuh kalau mau ke Suroloyo. Jadi bagi kalian yang berangkat dari Jogja, akan lebih nyaman kalau lewat jalur Godean - Boro dan langsung menuju arah pegunungan Suroloyo. Atau, kalian bisa menempuh jalan Nanggulan - Ngluwar dan naik dari Pasar Bendo.

Halaman Depan Kedai Kopi Pak Rohmat
  LETAK Kedai Kopi Pak Rohmat memang agak nylempit di tengah bukit. Kalau kalian pernah berkunjung ke Watu Tekek, letak kedai kopi ini persis di bawah bukit tempat Watu Tekek berada. Sekilas, kalau nggak ada papan penunjuk, kita juga nggak bakalan tau kalau bangunan yang layaknya rumah penduduk biasa itu adalah kedai kopi. Emang rumah biasa sih, tapi di halaman belakang rumah terdapat beberapa gazebo dan teras dengan kursi-kursi bambu berderet laiknya warung kopi. Tempatnya juga adem dan sepi, pas dan memenuhi kriteria menyepi yang jauh dari bising suara kendaraan bermotor dan suara-suara aktivitas modern lainnya. Plus lagi, sinyal hape kami kembang kempis di sini, jadi kita bisa bebas dan leluasa ngobrol tanpa tergoda mengutak atik hp yang kadang bisa jadi annoying banget kalau kita pas lagi ngobrol sama orang. Kami sengaja memilih gazebo yang agak nyempil di bawah, yang langsung berbatasan dengan tebing. Dari tempat ini, kami bisa mendengarkan suara gemericik air sungai yang calming banget di telinga, plus suara-suara khas hutan macam tongeret, jangkrik kecil, serta bunyi-bunyi angin yang menerobos di sela-sela hutan. Pokoknya asik punya deh! Untuk pilihan kopi, setandar lah sama dengan warkop lainnya. Bisa milih robusta, arabica, atau mix, atau ada juga kopi luwak bagi yang pengen nyobain mitos keenakan kopi luwak. Harganya relatif murah, untuk kopi hitam biasa dipatok harga Rp.6000,- sampai Rp. 8000,-, untuk kopi luwah Rp.35.000. Selain single coffee, kita juga bisa milih menu paketan, yaitu kopi plus sepaket snack berupa gorengan, kacang rebus, ketela rebus, geblek goreng. Sepaket sajian kopi dan snack ini cuma Rp.12.000,- untuk harga  yang paling normal. Or, kita juga bisa pilih snack eceran dengan harga antara Rp.5000,- sampai Rp.8000,- . Untuk rasanya, well, I slightly prefer Kopi Suroloyo ketimbang Kopi Pak Rohmat sih. Tetep enak, tapi di lidah aku masih sedikit lebih pas kopi Suroloyo (waktu itu aku nyobain yang robusta). Kalau untuk yang arabica, rasanya sedikit lebih pahit dan lebih nggak asem dibandingkan arabica biasanya, hampir mendekati robusta malah kalau menurut aku. Tapi, aku suka banget sama model penyajian kopi Pak Rohmat ini. Dia nggak pake model barista yang harus menggiling biji kopi dulu buat disajikan or pake saringan gitu sih, just traditional coffee yang diseduh pake cangkir - dan disajikan dengan pilihan gula jawa, gula pasir dan sirup gula jahe. Jadi kita bisa pilih rasa apa kopi kita, tergantung selera dan suasana hati. Oya, buat yang nggak minum kopi or buat anak-anak, ada pilihan lain seperti teh (dengan rasa sepet khas teh Suroloyo) or minuman jahe atau coklat.


Sajian kopi plus paket snack di Kedai Kopi Pak Rohmat
KARENA emang suasananya yang syahdu punya dan cocok banget buat berbaring-baring malas sambil ngobrol ngalor ngidul, kami menghabiskan waktu agak lama di sini. Setelah Mbak Qori mulai agak gelisah karena pengen bergerak lebih intens, akhirnya kami memutuskan untuk pindah tempat. Sudah sejak lama Mbak Qori bercita-cita pengen mandi di sungai, itu salah satu bucket list yang selalu dia ulang-ulang tiap akhir pekan. Dan karena Kedai Kopi Pak Rohmat letaknya sejalur dengan air terjun Perawan di desa Sidoharjo, Samigaluh, atau yang juga terkenal dengan nama curug Sidoharjo. Menurut penduduk setempat sih Curug Perawan ini yang paling tinggi di daerah situ, dan letaknya juga nggak jauh-jauh amat dari jalan raya. So, jadilah kami melanjutkan jalan ke arah Curug Perawan, menyusuri jalur yang ke arah Boro. Kalau dari Kedai Kopi Pak Rohmat kita mengambil jalan yang turun ke arah kaki bukit, berkelok-kelok naik turun melewati pemandangan khas Menoreh yang nggak pernah bikin hati bosen, sampai sekitar 5 km ke arah bawah. Letaknya cukup gampang ditemukan kok, sudah ada papan petunjuk yang menyuruh kita berbelok ke arah kanan meninggalkan jalan aspal dan menyusuri jalan tanah yang nggak sulit-sulit amat dan nggak jauh-jauh amat juga. Nah, nanti kita bisa parkir di rumah penduduk yang ada di sana (sudah disediakan lahan parkir), dan dari tempat parkir tersebut kita jalan sekitar 700 meter menyusuri bukit dan tebing. Nggak seperti lokasi air terjun lain yang pernah kita kunjungi, jalan menuju curug perawan ini relatif datar dan cukup enak untuk jalan-jalan. Dengan kondisi kaki yang belum sembuh total, menyenangkan deh pokoknya hiking track di sini!


Jalur menuju Curug Perawan. Cakep kan!

SEKITAR 20 menit jalan kaki, sampailah kita kemudian di kaki curug Perawan. Kesan pertama yang kami tangkap adalah - ya ampun bagus banget! Lokasinya yang nyempil dan malu-malu tersembunyi menjadikan nggak banyak orang yang mengunjungi tempat ini, which is malah semakin perfect buat menyepi dan menenangkan pikiran. Air terjunnya sendiri nggak deres banget, tapi emang lumayan tinggi, mungkin sekitar 70 meter paling. Di kaki air terjun ada kolam kecil yang nggak terlalu dalam, dengan batu-batu kerikil yang perfecto banget buat Mbak Qori buat main basah-basahan (tapi tetap dalam pengawasan ketat mengingat di sekitarnya sungai sudah berubah menjadi agak curam dan langsung menuju ke bawah). Jadilah Mbak Qori 'menunaikan' bucket-list dia untuk mandi di sungai, meskipun dia belum puas-puas banget karena kami harus buru-buru pulang karena langit yang tiba-tiba berubah muram dan mendung (tentunya dengan protes berat si Qori yang masih pengen maenan air dan naik-naik memanjat batu).




Air Terjun Perawan Sidoharjo. Cakep kan kalau gini?


Along the way

DAN satu hal yang bikin aku girang banget, sejak dulu kan emang mendengar suara air itu healing banget buat aku. Jadi di sini aku bisa semacam menenangkan pikiran dan (gayanya) mencari inspirasi plus mengumpulkan semangat hidup yang membara buat masa depan (haiyah, apa ituh!). Pokoknya, walaupun kami hanya menghabiskan waktu sekitar 30-an menit di sini, puas banget dan refresh banget (dan kurang sih sebenernya). Someday mungkin kami akan kembali lagi ke sini buat main-main lagi dan mandi-mandi lagi sampai hati benar-benar puas (walau kayaknya sih kalau maen nggak ada kata puasnya deh, eheheheewww).
 
NGGAK puas sampai di sini saja penjelajahan kami kali ini, pulangnya, gegara iklan keras bapak penjaga parkir, kami menyempatkan diri mampir ke embung baru di daerah Sidoharjo, yang sebenernya belum 100% berfungsi tapi pemandangannya bagus banget. Karena dari Curug Perawan si bangunan embung itu kelihatan banget, kami merasa rugi kalo nggak mampir dan sekadar say hello sama bakal calon tempat wisata (pelarian) baru. So, dengan berbesar hati kami menabahkan diri menambah waktu sekitar 1 jam untuk mendatangi si embung dan mengeksporasi keadaan sekitar. Worth it sih, karena emang bagus banget pemandangannya. Kalo dari profil dan fungsinya emang nggak beda-beda jauh sama Embung Banjaroya yang beberapa kali kami singgahi, cuma yang ini lebih sepi dan lebih terpencil karena memang belum secara resmi dibuka. Jadi, buat yang menyukai kesunyian dan pemandangan eksotis yang nggak terlalu mainstream (dengan berbagai macam background selfie yang bikin tempat itu jadi lebih instagrammable ketimbang refreshable karena sibuk berfoto instead of mengagumi pemandangan ciptaan Tuhan), this place can be one of your heavenly hiding place untuk melepas penat dan  belajar untuk forgive the world will all its silly things
  sebelum kembali ke dunia nyata!


 It's always a good thing to taste new things!

Kamis, 08 Februari 2018

FEBRUARY REVIEW: CAPTAIN FANTASTIC (2016)




BAGI yang menyukai film yang nggak terlalu biasa, Captain Fantastic sepertinya bisa menjadi salah satu pertimbangan dalam daftar movie to watch. Berkisah tentang seorang ayah eksentrik, Ben Cash, yang hidup di hutan di pedalaman Washington bersama keenam anaknya: Bo, Kielyr, Vespyr, Rellian, Zaja dan Nai Cash. Cerita dibuka dengan adegan seorang remaja laki-laki yang berkostum ala pribumi masa lalu dengan wajah coreng moreng dengan tanah yang berburu dan membunuh seekor rusa dengan bersenjatakan panah dan pisau. Remaja laki-laki itu adalah Bo Cash, anak pertama pasangan Ben dan Leslie Cash yang sedang menjalani ujian ‘kedewasaan’ dari ayahnya. Perburuan rusa itu adalah salah satu perlambang ritual bahwa Bo sudah , dan dengan berhasil dibunuhnya rusa itu, maka luluslah dia dari ujian ‘menjadi laki-laki sejati’.

KELUARGA Cash memang unik dan eksentrik. Pasangan Ben dan Leslie memutuskan untuk hidup mengasingkan diri di pedalaman hutan,  bertahan hidup dengan cara ‘berburu dan meramu’ dari apa yang disediakan oleh alam di sekitar mereka. Instead of merayakan natal yang bagi mereka terlalu common, mereka merayakan Noam Chomsky. Mereka telah 'dipersenjatai' dengan senjata tajam sejak usia dini. Anak-anak Cash juga tidak bersekolah di sekolah biasa seperti anak-anak pada umumnya, tapi lebih memilih homeschooling dengan mempelajari buku-buku yang disediakan oleh orang tua mereka, di samping pula latihan fisik yang secara ketat dilatih oleh ayahnya. Meskipun begitu, keenam anak itu tumbuh menjadi anak-anak super jenius, mereka memahami tentang teori kuantum dengan sangat baik, membaca karya-karya klasik serta buku-buku textbook perkuliahan sejak masih kecil (well, agak overwhelming sih menurut aku, tapi okelah. Kita sedang berbicara tentang film yang memang butuh didramatisir dari kehidupan nyata). Bukan hanya kepandaian intelektual, merekapun dilatih fisik bak atlet oleh ayah mereka: lari naik turun gunung, panjat tebing, berhujan-hujan di tengah badai without any single chance to whine, karena seperti yang selalu ayah mereka tekankan, dalam setiap kesulitan apapun, jangan pernah berharap ada orang lain yang akan datang menolongmu dan menawarkan bantuan. Always depend on yourself.

SINGKAT cerita, kehidupan mereka yang blend with nature mulai terusik terjadi ketika ibu mereka yang sudah sejak lama menderita bipolar disorder dan sedang dirawat oleh orang tuanya di New Mexico, dikabarkan meninggal dunia. Ben sangat sedih dengan kematian istrinya. Ayah mertuanya, bapak dari istrinya, melarang dia untuk menghadiri upacara pemakaman Leslie karena dia tidak ingin menantunya yang eksentrik itu mengacaukan upacara pemakaman yang harusnya khidmad dan sakral. Dia bahkan menyebut Ben sebagai “the worst thing ever happen in his family”, dia menganggap bahwa Ben yang telah membuat keadaan putrinya menjadi kacau balau dan semakin parah sehingga akhirnya bunuh diri, karena tidak mampu mengontrol pemikirannya sendiri. Mulanya Ben memutuskan untuk memenuhi perintah ayah mertuanya untuk tidak muncul di pemakaman Leslie, tapi for the sake of love and family bond dia dan keenam anaknya kemudian memutuskan untuk menempuh perjalanan  ke New Mexico untuk menghadiri pemakaman ibu mereka. Mereka menganggap bahwa kematian adalah sebuah proses siklus kehidupan yang biasa saja – setiap orang akan mengalaminya, dan bahwa pemakaman ibunya haruslah menjadi momen yang membahagiakan dengan penuh nyanyian dan tarian, dan bahwa ibu mereka yang menganut ajaran budhism menginginkan agar dia dikremasi di suatu tempat yang sepi dan abunya dibuang di toilet umum (seperti yang tertulis di surat wasiatnya).  

MEREKA yang ‘turun gunung’ ini kemudian harus menghadapi berbagai kenyataan yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Selama ‘pengembaraan’ mereka ke dunia nyata, ‘gaya hidup’ hutan mereka tetaplah dijunjung tinggi. Dalam beberapa scene ditunjukkan bagaimana sang ayah mengorganisir ‘pencurian’ bahan makanan di sebuah toko wholesale dengan alasan “pembebasan makanan dari kapitalisme“. Juga ketika mereka mampir ke rumah bibi mereka, bagaimana sang ayah beradu pendapat tentang bagaimana seharusnya bersikap in a common sense ketika berbicara di depan anak-anak, because its inappropriate to discuss some sensitive issues di depan anak-anak.  Meanwhile, si ayah berpendapat bahwa kita bisa bebas membicarakan apapun di depan anak-anak karena mereka berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan words are only words, they don’t mean anything ketika kita menerimanya sebagai sebuah informasi – literally.

DI HARI pemakaman ibu mereka, ayah dan anak-anaknya itu muncul di gereja dengan pakaian hippies. Singkat cerita, masalah muncul ketika keluarga ibunya menolak untuk mengkremasi jenazah Leslie, sementara Ben tetap memaksa bahwa mereka harus menuruti wasiat terakhir Leslie sebagai amanat darinya. Satu persatu masalah kemudian muncul ketika mereka bertemu keluarga besar. Sang kakek menganggap Ben tidak becus dalam mendidik anak-anaknya dan apa yang dia lakukan adalah child abuse, melakukan hal-hal yang membahayakan keselamatan cucu-cucunya dan membuat mereka tidak siap menghadapi dunia luar. Masalah lain mulai mengemuka ketika Bo mulai tertarik dengan gadis lain from outside world, dan ketika ternyata dia diterima kuliah di hampir semua universitas terkenal Amerika. 

BEN, dengan falsafah hidupnya yang memang eksentrik, mendidik anak-anaknya dengan apa yang dia yakini benar sebagai orang tua. Namun, dia mulai meragukan apa yang selama ini dia anggap benar dan ideal ketika Vespyr, anak perempuannya, jatuh dari atap dan mengalami cidera fatal saat melakukan misi penyelamatan Rellian. Kenyataan ini yang kemudian menyebabkan dia memutuskan untuk memberikan hak asuh anak-anak mereka kepada mertuanya. At the end, film ini memang berakhir dengan happy ending. Keluarga Cash tetap bersatu. Bo, meskipun mengurungkan niatnya untuk kuliah, memutuskan untuk berpetualang ke Namimbia. Keluarga itupun, meskipun masih menempuh jalan hidup 'naturalis', pindah tinggal ke pinggiran hutan dan anak-anaknya pergi ke sekolah biasa. Kehidupan eksentrik mereka sedikit demi sedikit mulai diadaptasikan dengan kehidupan normal. Finally Ben mulai sedikit mengalah bahwa memang, dalam kehidupan nyata, sesuatu yang benar-benar ideal akan sangat sulit untuk diwujudkan. Memiliki idealisme memanglah perlu, dan setiap manusia mempunyai hak untuk menjadi seperti apapun yang dia mau. Tapi, sebagai orang tua, aku memang bisa merasakan 'keraguan' atas kehidupan ideal yang kita yakini tersebut ketika mulai terbentur dengan hal-hal yang bersangkutan dengan anak, kebutuhannya dan masa depannya. 

WELL, aku adalah orang yang percaya bahwa it is important to live every moment dan untuk menjadi diri sendiri. We are the artist of our life story. meskipun kadang-kadang something happened and we can't control when life changing us to a direction we haven't planned. Dan, film ini memang memberikan gambaran yang cukup kuat mengenai hal itu, tentang bagaimana kematian Leslie yang kemudian merubah kehidupan seluruh keluarga. Bagaimana kita menghadapinya, untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk, itu benar-benar sangat tergantung dengan bagaimana kita menghadapinya.  

Your life can totally change even by only a single phone call, but you can always adjust how you perceive and reacts on those change. Because its always a good thing to experience and to feel new things!     



Kamis, 01 Februari 2018

MY DIGITAL ACTIVITIES: MOST VISITED WEBSITE



NAH, minggu ini gue mau buka rahasia tentang browser history gue nih! Ehehewww... gue termasuk orang yang (agak) tergantung sama internet sebenernya. Kalo duduk di meja kerja gak ada komputer nyala dan internet kesambung rasanya berasa sedih dan hampa gitu deh. Lebih lagi gue menganggap kalo kerjaan gue (agak) tergantung sama internet. Pokoknya sok digital gitu deh! Nah, kalo mo ngintip what's behind my browser history, cekidot yups! Fyi, daftar ini nggak diurutkan berdasarkan the most to the list ya, tapi yang jelas masih top eight, yang tiap pagi nyalain komputer selalu kubuka duluan secara otomatis (#spoiler: I'm not kind of social media addicted, so I would not mention any social media site on this list!). 

1. yahoo, gmail dan printhilannya macam google calendar dan google translate. 

YUPS! Gue selalu membuka hari dengan mengecek e-mail (pada hari kerja doang. Sabtu - Minggu gue beneran off dari dunia maya). Ada dua e-mail pokok yang aku punya, satu yahoo (untuk urusan pribadi) dan akun institusi berbasis gmail. Jadi nih, tiap kali buka browser, dua situs itu yang pasti pertama kali gue ketik di browser bar. Ngecek imel, balas imel kalo sekiranya mendesak, asalkan tidak lebih dari 10 menit. Untuk e-mail yang butuh mikir atau butuh kerja lebih buat balas, biasanya gue skip sampai menjelang makan siang (selama tidak mendesak dan tidak menyangkut hajat hidup rakyat banyak). Nah untuk printhilannya macam google translate, biasanya aku otomatis buka kalau lagi mo kerja dengan hal-hal berbau Inggris (maklum, suka sering berasa kehilangan kata). Untuk google calendar, karena pada dasarnya aku suka feel stay organized (baca: merasa rapi dan terorganisir - merasa aja ya), pagi hari biasanya aku input jadwal-jadwal gue ke depan, macam rapat, tugas ke luar dll dll, termasuk bikin to do list mo ngapain aja hari ini (paper based en digital based).   

2. Youtube atau spotify. 

I CANT work without music! Tergantung settingan mood, dua situs (dan aplikasi) ini selalu on di awal aku buka komputer. Biasanya, kalau lagi melo sendu pilu sembilu gitu, aku puter musik-musik instrumental yang calming, tapi kalau lagi semangat membara ya lagu-lagu yang ngehips en ngehits gitu lah. Biasanya, pilihan musik ini akan menentukan mood aku for the rest of my day, ahahaa... 
3. Evernote

I depend too much on this website! Gue pake evernote untuk bikin catatan, bikin konsep, nyimpen potongan website yang mau dibaca nanti or mau digunakan untuk beberapa tujuan, termasuk bikin diary dan mencatat potongan-potongan ide yang sering berantakan terlintas di otak. Gue juga instal aplikasinya di tab dan di laptop rumah, jadi wherever aku pergi dan butuh nengok balik catatan yang kusimpen, bisa dibuka dimana saja kapan saja (its way more convenience rather than save your file on pc's foleder). Dan overall, evernote is the best app I've ever found to organize my file! 

4. Dropbox 

NAH,  kalo yang ini bisa dibilang sih musiman, akan sering dibuka kalau murid-murid gue lagi banyak tugas yang harus dikumpulkan. Gue bikin peraturan ketat kalau sebisa mungkin memberi tugas yang paperless ke mahasiswa gue (untuk mengurangi eksploitasi sumberdaya alam), dan melarang mahasiswa gue ngumpulin tugas lewat e-mail. Kebayang aja kalau gue punya 3 kelas, 40 mahasiswa, 4 tugas, dan semuanya dikirim lewat e-mail, bakalan penuh inbox gue, belum lagi susah menyortir ini tugasnya siapa tugasnya yang mana. Jadi, setiap kelas gue bikini folder di dropbox tempat mereka mengupload tugas or apapun yang berhubungan dengan perkuliahan, termasuk upload slide presentasi, materi kuliah dll, demi efisiensi komunikasi perkuliahan. 

5. Trello 

SEPERTI kubilang tadi, gue orangnya suka kalo feel organized. Jadi, gue bikin catatan tentang kerjaan/proyek/ide (termasuk to do list) pake Trello ini. Sebenernya dulu gue install app-nya di HP, tapi gue nggak terlalu suka karena layarnya kecil n nggak convenience buat aku, jadi sekarang aku pake versi website-nya di komputer. Aku nyaman banget pake Trello ini, selain karena tampilannya menarik, this is what really I need untuk keep tracking kerjaan aku dan menyimpan ide-ide yang suka berantakan di kepala, termasuk juga mind mapping, karena card yang ada di trello ini bisa digeser di sana sini. 

6. Coursera dan EdX

AT LEAST, once in a week gue buka website ini. Bagi yang belum got the idea tentang coursera dan EdX, dua platform ini sebenernya adalah penyedia jasa online course from all over the world, dari banyak universitas di seluruh dunia. Ada banyak pilihan kursus yang disediakan, mulai dari self-development, computer, science, life-science, matematika, sampai life skill macem fotografi, teknik presentasi, teknik negosiasi dll dll, banyak yang gratis dan ada yang berbayar. Gue sebenernya sudah sign up dari tahun 2014, tapi baru sejak 2016 aku berkomitmen untuk menyelesaikan at least 2 kursus dalam setahun (dan bisa lebih). Jadi, setidaknya setiap hari Jumat gue mendedikasikan diri sejam dua jam untuk ikut kursus online, either lewat coursera or EdX. Such a good learning experience deh, sampai-sampai gue selalu berpesan sama mahasiswa gue untuk nyobain ikut online course at least once in a lifetime.  

7. Whatsapp Web 

AHA! Hari gini siapa sih yang nggak pake whatsapp? Karena gue nggak tipikal orang yang sabar ber-HP, jadi gue lebih nyaman komunikasi lewat whatsapp web tinimbang whatsapp app di HP. Alasannya sih karena HP gue kecil n ngetik pake kibor biasa lebih nyaman daripada ngetik di HP. Tapi nih, gue mengaku dosa, whatsapp ini beneran the best distraction kalo kita lagi mo beneran fokus sama kerjaan yang butuh konsentrasi, en seringnya bikin emosi. So, kalau lagi perlu (dan pengen) autis, matikan hape tutup aplikasi whatsapp en stay focus! 

8. Breaker  

BUTUH konsentrasi? Well, kadang kendala terbesar ketika kita butuh fokus adalah stay focus itu sendiri. Buanyak sekali distraksi yang bikin kita gagal fokus dan gagal muv-on ke kerjaan yang seharusnya dilakukan. Kadang juga gue merasa hal paling berat juga adalah ketika mau mengerjakan pekerjaan itu sendiri. First step always hard, and thats true. Nah, dari online course yang pernah aku ikuti, aku menemukan cara ampuh untuk put off  all distractions dan stay focus, dengan teknik Pomodoro. Caranya sebenernya sederhana, fokus selama beberapa menit tanpa berhenti (biasanya aku pakai 25 menit), lalu istirahat (10 menit). Nah, si Breaker ini sebenernya adalah aplikasi time-counting untuk teknik pomodoro ini, jadi dia akan kasih tau kapan waktu kita harus fokus dan kapan berhenti istirahat, dan berapa set fokus-istirahat yang kita mau. Tadinya aku pake versi online, tapi beberapa waktu ini aku install app-nya di komputer. Efektif? Bagi gue yes banget! 

ITS always a good thing to explore and browse new things! 

Kamis, 25 Januari 2018

JANUARY REVIEW : COLONIA (2015)

Image taken from http://www.imdb.com/title/tt4005402/
REVIEW time for January! Film garapan Florian Gallenberger ini sebenarnya udah rilis tahun 2015 kemarin. Kebetulan dari hasil voting Friday Movie Club kami, nih film (or at least sinopsis dan thriller-nya) berhasil memenangkan hati para voter untuk tayang di Jumat siang minggu kemarin, menang tipis dengan Captain Fantastis - sebagai agenda rutin minggu bahagia kami. Sebenarnya sih aku nggak terlalu berharap-harap banyak dari Emma Watson, secara dari banyak film yang dia yang gue tonton kan kebanyakan drama-drama gitu yak (yah, walaupun aku cukup menikmati cerita dan karakter 'smart' dia sih). Yang jelas sih, meskipun dia no more Hermione Granger, sepertinya dari film-film dia yang lain yang aku tonton, kesan 'cewek pinter' semacam nggak bisa lepas dari karakter dia, termasuk pula di film Colonia ini. 

BERLATAR belakang kudeta militer Chile tahun 1973, Lena (Emma Watson), seorang pramugari pesawat Jerman Lufthansa, menyusul kekasihnya Daniel (Daniel Bruhl), pemuda berkebangsaan Jerman yang menjadi simpatisan Salvador Allende dan bergabung dengan gerakan pemuda simpatisan Allende di Santiago de Chile, ibukota Chile. Nuansa kudeta itu sendiri digambarkan sedikit di bagian awal film, ketika Daniel menerima telepon dari temannya mengabarkan kalau pemerintahan Allende telah jatuh dan Augusto Pinochet berkuasa. Merasa nggak aman berada di tempat tersebut (karena tentu saja Daniel sudah 'tercatat' sebagai simpatisan Allende meskipun dia berkewarga negaraan Jerman), dua kekasih itu kemudian keluar dari rumah. Di jalan, keadaan sudah benar-benar chaos: orang-orang dijajarkan dan ditangkap oleh militer, dipukul dll. Sementara Daniel dengan heroiknya (agak too much sih kata aku), menyelundupkan kamera dan memotret keadaan sekitar, sementara tentara masih berseliweran dan orang-orang berteriak ketakutan. Sebenarnya Lena sudah ngotot aja untuk pergi ke kedutaan besar or ke bandara menyelamatkan diri, tapi Daniel dengan gagah berani berkata bahwa 'kita harus mengabarkan ini pada dunia'. Lalu, dengan satu scene yang 'terlalu jelas', si Daniel berjalan mendekati kerumunan tentara sambil motret-motret (sepertinya sih pengennya kelihatan sembunyi-sembunyi, tapi ya itu tadi, 'terlalu jelas'). Gegara Daniel yang sok heroik itulah kemudian mereka ditangkap dan dibawa ke stadion (whic is sebelumnya tu dua pemuda sudah 'merengek-rengek' kalau mereka foreigner). Bersama penduduk sipil lainnya yang juga ditangkap, mereka dibariskan di stadion, lalu satu persatu mereka diidentifikasi apakah mereka ada hubungan dengan Salvador Allende atau tidak. Tiba giliran Daniel, bisa ketebak dong, kalau kemudian dia 'diciduk' dan dikenali sebagai si tukang bikin poster yang jadi simpatisan militan Allende. Nah, pas dia ditangkap itu, Daniel yang tadinya berlagak as urban hero merengek-rengek dan bilang kalau dia nggak boleh ditangkap, dia nggak ada hubungannya dengan sosialisme, dia orang Jerman dan bukan penduduk Chile dll, which is aku jadi mengerutkan kening, tiba giliran ada bahaya di depan mata, bisa aja ya orang berusaha menyelamatkan diri, bahkan dari sesuatu yang dulu mereka yakini sempurna dan membawa kepada kebaikan dan kebenaran (which is kalau dipikir-pikir manusiawi banget sih. Emang dipikir semua orang gagah berani macem Superman atau The Avenger yak?). 

SINGKAT kata, dibawalah si Daniel ini ke Colonia Dignidad, sebuah koloni Jerman nun jauh di pedesaan Chile sana. Disana dia diikat, ditelanjangi, disiksa, dipukulin, disetrum dll, sampai kemudian datanglah 'The Messiah', Paul Schafer (Michael Nyqvist), pemimpin sekte Colonia Dignidad. Daniel dirawat, diobati, dan dipekerjakan di Colonia. Selama tinggal di Colonia, Daniel pura-pura menjadi orang bodoh karena hasil penyiksaan yang membuat some nerve in his brain broken or whatsoever lah. 

DI lain pihak, Lena, sang kekasih, berniat menolong Daniel dengan segala cara. Dia yang seharusnya dijadwalkan terbang pulang ke Jerman membatalkan penerbangannya, dan alih-alih kembali ke Eropa, dia 'pura-pura' bergabung dengan Colonia Dignidad untuk mencari kekasihnya. Yeps mereka memang bertemu di sana, dan bertahan sampai 134 hari di dalam koloni. The rest of the movie menceritakan bagaimana mereka bertahan di koloni yang 'aneh' tersebut, dengan banyak peraturan yang nyleneh, dimana kontak antar setiap orang sangat dibatasi dan kekuasaan tunggal ada di pendeta agung Paul Schafer, yang bertindak layaknya diktator. Mereka juga bertemu Ursel, cewek Jerman (or keturunan Jerman), yang the whole of her life tinggal di Colonia dan never see the world outside. Singkat kata, dua pasangan itu akhirnya berhasil lolos dari tempat tersebut, dan berhasil kembali ke Jerman dengan membawa bukti-bukti berupa foto yang menggambarkan 'kekejaman yang terselubung' yang dilakukan di Colonia Dignidad. Not an easy escape, tentu saja, dan bahkan digambarkan juga bahwa Kedubes Jerman masa itu bersikap seolah 'melindungi' praktik yang dilakukan Schafer. 

TO BE HONEST, sepanjang menonton film ini, aku merasa frustated. Bukan karena filmnya atau apanya, tapi seperti yang gue bilang sama teman gue, I hate time when I start questioning myself of the meaning being human being, and humanity itself. Meskipun tidak tergolong film gore dengan adegan-adegan penyiksaan yang bikin ngeri, film ini bagi aku mentally torturing, dengan adegan lorong-lorong bawah tanah, ruang penyiksaan, ketegangan tiada henti tentang bagaimana orang diperlakukan di Colonia. Sebenarnya, jika berbicara tentang kudeta Chile tahun 1973, nggak beda jauh dari peristiwa kudeta Jakarta 1965 (bahkan dari banyak literatur dan sumber yang kubaca, kudeta Chile ini 'terinspirasi' oleh kudeta Jakarta, dan sama-sama disponsori oleh CIA). Dan seperti halnya kudeta berdarah lainnya, pastilah menuntut banyak korban jiwa, ratusan, ribuan bahkan jutaan. Tentang kudeta Chile ini sendiri aku sudah sedikit banyak membaca dan mendengar dari berbagai sumber, tapi mengenai Colonia Dignidad ini sendiri baru kudengar dari nih film. Walhasil, karena terlalu menghayati, browsinglah aku mengenai what's behind Colonia Dignidad dan siapa itu Paul Schafer. Well, sejarah kelam memang tak boleh dilupakan, tapi terlalu pahit untuk dikenang. Selama masa pemerintahan diktator Augusto Pinochet (1973-1990), Colonia Dignidad dijadikan sebagai 'penjara' dan kamp penyiksaan bagi musuh-musuh sang diktator, satu dari sekian banyak detention camp yang didirikan oleh Pinochet untuk menyingkirkan musuh politiknya. Ratusan orang disiksa, dibunuh, dikuburkan, ataupun 'dipaksa' menjadi anggota koloni - dengan kehidupan yang bagaikan perbudakan.

COLONIA DIGNIDAD, menempati lahan seluas 137 hektar di pinggiran Chile. Pertama kali koloni ini berdiri di era 50-an, tempat sekumpulan orang Jerman yang tinggal di Chile setelah PD II dan tetap ingin mempertahankan Bavarian culture, hidup dengan gaya Bavaria seperti laiknya mereka ketika di Jerman, lengkap dengan budaya, musik, makanan, pakaian dan lain sebagainya. Tahun 1961, Paul Schifer datang ke koloni ini setelah berhasil menghindari hukuman penjara karena sex abuse kepada anak-anak di Jerman, dan menjadi pemimpin koloni yang paling notorious. Para penghuni koloni hidup bagaikan budak, mereka dipaksa bekerja keras siang malam, didoktrinasi, dan diputus hubungannya dengan dunia luar. Selama 4 dekade, sampai tahun 2006 ketika dia ditangkap karena tuduhan child abuse, Colonia Dignidad menjadi tempat yang penuh mimpi buruk bagi penghuninya: dikelilingi oleh pagar besi dengan menara pengawas, kehidupan yang dibatasi, bahkan kontak antara perempuan, anak-anak dan laki-laki pun dibatasi, serta kekejaman dan teror sepanjang hari yang seperti tiada habisnya. Sampai akhir Schifer berkuasa, hanya sedikit (5 orang) yang berhasil meloloskan diri dari Colonia Dignidad. Bahkan, bukti-bukti kekejamannyapun, meskipun sudah diedarkan ke publik, seakan-akan tak mampu mencegah pelanggaran hak asasi manusia yang ada di sana. Dalam beberapa artikel juga disebutkan bahwa pihak Kedutaan Besar Jerman sekalipun bertindak seolah-olah menutup mata atas apa yang dilakukan Schifer dan hubungannya dengan sang diktator Pinochet.  

IT'S HURT to know that sometimes, di belahan dunia antah berantah dimana kita tidak pernah berada atau terlibat di dalamnya, pelanggaran terhadap hak asasi manusia sering terjadi, tak tersentuh oleh hukum negara maupun hukum kemanusiaan, dan masih terus berlangsung - bahkan nyaris tak terlihat. Indonesiapun juga memiliki sejarah kemanusiaan dengan apa yang terjadi di Chile. Perjuangan menuju keadilan dan menciptakan bumi sebagai tempat yang nyaman bagi seluruh makhluk hidup, meskipun di era modern saat ini sudah mencapai banyak pencapaian, masihlah harus terus berlanjut. Perang, diskriminasi terhadap ras tertentu, kelaparan, persamaan hak, pendidikan, dan banyak isu kemanusiaan lain yang masih harus kita perjuangkan. Karena kita diciptakan untuk peduli, karena kita diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi. 

IT'S always a good thing to care and to embrace the world.         

Kamis, 18 Januari 2018

JANUARY FAVOURITES!

SO THE IDEA will be like this: tiap bulan, menjelang tengah or akhir bulan, aku akan bikin sedikit tulisan mengenai whats favorites of this month! It can be anything, mulai dari orang, barang, film, buku, acara, peristiwa, pengalaman, jalan-jalan or seperti yang kubilang tadi: anythings! Why did I do this? To be honest sebenernya aku terinspirasi oleh  youtube channel ini, yang aku subscribe dan sering kuintipin kalo aku lagi bosen berat dan butuh menyegarkan diri. Kedua, aku sedang berlatih membiasakan diri untuk melakukan self gratitude. There's bunch of things in my everyday yang sebenernya membuat hidup kita lebih indah, lebih nyaman, lebih berwarna, lebih ceriyah. Tapi kadang kita lupa dengan hal-hal kecil tersebut karena terlalu fokus sama le grande choses, as if  bahagia itu cuma bisa disimbolkan dengan rumah megah mobil mewah jalan-jalan foto-foto keluar negeri. Pay attention on small things in everyday life juga bisa jadi latihan efektif untuk creating happiness in everyday life, biar gak gampang stress, pundung, mutung, marah-marah dan berasa hidup paling berat sedunia macam drama korea. This won't be kind of review ato ulasan ato resensi, I'll just write about how I feel tentang barang/peristiwa/film/barang ini dan kenapa ini menjadi istimewa. So lets check out my January list! 

1. Friday Movie Club 


JADI ceritanya, salah satu resolusi 2018 aku adalah having fun and spread fun. So, bareng sama temen aku yang kebetulan sesama penyuka 'jalan kegelapan' - alias movie maniac, kita iseng-iseng bikin Friday Movie Time gitu di kampus. Formatnya sih sederhana aja gapake ribet bin rempong, tiap minggu kami bakal nyodorin 2-3 judul filem untuk di-vote sama temen-temen (gw pake situs ini buat bikin online vote) trus filem mana yang menang itu yang bakal kami puter buat nonton bareng. Kebetulan nih di perpustakaan kampus aku kan ada fasilitas ruang audio visual yang lumayan keren dan nyaman buat menyepi dan 'mencari kegelapan', jadi tiap Jumat siang kerjaan kita nongkrongin di sana buat nobar sama para mahasiswa yang imut dan centil. So far acara perdana kami sukses, dan sekarang sudah masuk minggu ke dua, cuma tinggal gimana caranya supaya ni acara bisa tetep konsisten berjalan rutin ajah. 

2. My Small Pocket Mirror


HOHOOO, ini dia salah satu amunisi perang penting kalo lagi mo ngelenong! Jadi nih ceritanya, abis baca bukunya Marie Kondo Life Changing Magic of Tidying Up , aku kayak semacam enlightened gitu, terinspirasi luar dalam untuk mulai declutter my life, my stuff, my mind. Pokoknya hidup simpel praktis minimalis iritis gitu deh. Dulu nih, aku yang sukanya bawa tas kura-kura ninja dengan bawaan selemari penuh yang bikin pundak pegel minta ampun, mulai dengan teganya (or ditega-tegain seh) untuk 'membuang' dan 'menyingkirkan' benda-benda yang you don't use anymore, you don't use oftenly dan don't spark joy buat kamu, termasuk juga urusan bawa-bawa make-up. Nah, this tiny mirror ini beneran macem life saviour buat aku, simpel praktis dan nggak banyak makan tempat. Tinggal diselipin aja di sela-sela kantong make-up, siap deh dipake kalo lagi mo ngelenong dimana ajah! Nih cermin dulu kubeli di Daiso - toko serba 100 yen-nya Jepang, yang kubeli waktu tahun kemarin maen ke Tokyo. Dulu ada sih aku punya pocket mirror laen, tapi dibandingin ini jauh lebih bulky en impractical. 

3.  The Body Shop Metal Lip Liquid Pink Nickel mixed with Wardah Matte Lip Cream Hello Ruby! 


YANG namanya lipen ini emang beneran racun wanita deh! Jadi ceritanya, awal tahun kemarin gw merasa perlu boosting warna hidup gegara hatiku yang suram sembilu abis operasi ACL. Singkat cerita, aku nyobain metal lip liquid series-nya TBS, kayaknya seru aja lihat pidio swatch-nya. Lalu walhasil jatuhlah pilihan ke Pink Nickel C25 ini. Pas dioles pertama sih kayaknya seru, tapi setelah dilihat dari kejauhan, kok aku berasa makin tambah mblusuk ya mukanya. Semacam kusem gitu gegara bibir berwarna nude metalik gituh, mungkin karena dipaduin sama muka aku yang emang tone dasarnya gelap gitu. Trus iseng punya iseng, nih metalic lipen aku mix sama koleksi lipen aku lainnya yang bejibun, dan ternyata pas kukawinin sama Hello Ruby-nya Wardah, hasilnya cakep banget! Kerasa banget glam en gorgeous-nya, apalagi kalau dipake malam hari. Jadinya tuh, perpaduan dua brand lokal dan interlokal ini jadi favorit aku banget di bulan ini, apalagi kalo suasana hati lagi pengen kelihatan bold gituh. 

4.  Tendercare Oriflame 



YUPS! Aku sebenernya nggak pake produk oriflame sih, tapi untuk ni produk emang oke di kulit aku. Aku nemu si mungil tendercare ini di lemari rias ibu aku, dan berhubung pas itu bibir aku lagi pecah-pecah karena kurang minum ya udah kuangkut ajah, yang pada akhirnya dengan berat hati diikhlaskan juga sama si ibu. Mostly aku suka sama kemasannya yang imut dan lucu, trus seperti fatwa di katalognya, si tendercare ini emang ampuh banget untuk menjernihkan segala kekeringan dan dahaga di kulit, di bibir, di pinggir-pinggir kuku dan bagian mana aja yang perlu disejukkan (termasuk di hati kali ya! Ahahaa..). Aku juga pake ni produk di sekitar luka bekas operasi aku yang di pinggirnya pada kering pecah-pecah dan gatel, minimal 2 kali sehari, pagi abis mandi dan malam sebelum tidur. 


5. Kopi Man-trex Temanggung. 



YANG namanya kopi sih sebenernya aku cinta segala cuaca segala suasana, apalagi kopi tubruk pait or dicampur susu dikit. Nah, kopi Man-Trex Temanggung ini kutemuin secara tak sengaja di koperasi kantor, karena tumben-tumbenan koperasi kantor punya kopi item instead of kopi instant, jadi kucoba deh beli satu bungkus. Murah, 100 gram cuma 15 ribu perak, dan ternyata nih kopi mayan juga. Paitnya pas, dan secara anehnya, walaupun ini jenis robusta, bersahabat dengan asam lambung yang sering suka kumat kalo maksain minum kopi lebih dari dua gelas. Apalagi dengan embel-embel kopi lokal Temanggung yang emang mayan terkenal enak, akhirnya sampai minggu ini aku udah repurchase sampai 3 kantong. 

6. The Happiness Project. 



BOOK of the month! Sebenernya buku ini udah kubeli lama, ada kali 2 tahunan nangkring di rak buku rumah, tapi entah kenapa baru kebaca bulan ini. Dulu sempat sih baca sampai 10-20 halaman, tapi aku merasa this book is not totally to be read this time, kayak nggak sesuai gitu dengan suasana hati aku. Nah, setelah kemarin bongkar-bongkar rak untuk bikin list buku yang mau kubaca di tahun 2018, nih buku tetiba aja nongol dan masuk di daftar. Mungkin karena temanya sedang sesuai dengan rencana hidupku untuk hafe fun spread fun, jadi kayak macam pas aja dibaca. Intinya sih sebenarnya ni buku separuh novel separuh self-improvement book gitu kali ya, gak murni fiction. Tapi so far good to be read, masih kerasa bau fictionnya tapi nggak menggurui dan sok mulia ala buku self help, yang kalo kubaca bisa berasa pengen menghela napas panjang. Kapan-kapan deh kucoba bikin review-nya! 

7. Masih Tetep Jawara, Pinky Ransel!


ANOTHER life saviour! Jadi ceritanya, salah satu alasan aku memutuskan untuk mulai decluttering life adalah untuk "memaksa" diriku bawa barang sedikit kalo pergi ke mana-mana, termasuk pergi ke kantor, supaya bisa pake tas cantik dan feminim ala mbak-mbak kantoran gitu deh. Quite work untuk beberapa bulan sebenarnya, asalkan pas nggak ada jadwal ngajar, jadi nggak perlu bawa-bawa laptop dan printilannya. Nah, semenjak kaki aku sakit dan bawa kruk kemana-mana, tas cantik yang terselempang indah di bahu ato dijinjing manis di tangan itu bener-bener nggak bisa bersahabat dengan dua tongkat ajaib penopang kaki. Rempong kemana-mana, muter gak jelas bikin susah jalan. Walhasil, dengan lapang dada dan penuh keikhlasan serta budi pekerti luhur, aku kembali pulang ke selera asal: si pinky ransel yang sudah sejak sekian lama menemani aku berkelana ke mana-mana. Udah deh tinggal masukin semua barang ke situ dan lempar ke punggung, langsung siap jalan!

Its always a good thing to embrace life and be grateful!

Kamis, 11 Januari 2018

CERITA TENTANG LUTUT: PASCA OPERASI ACL MINGGU KETIGA

HOLA! Sudah minggu ketiga aja nih setelah operasi ACL! Banyak kabar yang perlu diupdate, dan banyak hal yang perlu dishare supaya teman-teman yang mengalami nasib yang sama dengan aku punya gambaran tentang apa yang akan kalian hadapi selanjutnya. Tentu saja apa yang aku rasakan dan aku jalani akan berbeda dengan yang dirasakan orang, jadi sekali lagi, latihan, progres perkembangan dll-nya adalah sangat tergantung dari individu masing-masing dan cedera yang dialami. 

NAH, minggu ke tiga ini aku anggap sebagai minggu yang sangat penting selama masa recovery. Kenapa? Karena ini adalah akhir tahun dan banyak libur!!! Bayangkan aja, cuti bersama, libur natal dan tahun baru, plus jatah cuti tahunan yang membentang di depan mata, dan ransel di almari yang udah melambai-lambai minta diajak pergi. Seding dong deng rasanya, secara selama setahun penuh ini aku merasa sudah bekerja keras dan perlu me-reward diriku sendiri dengan liburan, jalan-jalan, petualangan bareng keluarga. Belum lagi Mbak Qori yang udah menagih janji naik gunung dan susur pantai, yang dengan sangat sedih cuma bisa aku iyain dan kembali dijanjiin kapan-kapan kalo ibuk udah sembuh. Meh banget kannnn....! Tapi akhirnya suami punya solusi cerdas, his palace of wisdom menitahkan kami untuk liburan aja bareng keluarga besar, ke gunung-gunung boleh, tapi yang bisa dijangkau pake mobil (or at least yang di parkirannya ada warung dan tempat nongkrong, jadi kalo Ibuk 'terpaksa' harus nungguin mereka jalan-jalan tar gak bosen-bosen amat). So jadilah akhirnya di minggu ke tiga pasca operasi ini kami memboyong keluarga besar ke Dieng, Wonosobo. Cerita perjalanan kami akan aku update secepatnya, tapi yang jelas gegara pengalaman hidup yang satu ini, aku jadi semakin aware bahwa fasilitas untuk para diffable di tempat umum itu sangat-sangat penting.  

My, my family, the cruthes and Kawah Sikidang. Life must go on!

YANG jelas, minggu ke tiga ini aku udah mulai lumayan lancar jalan pake dua kruk. Latihan masih, porsi makin ditingkatkan, walau kaki masih terasa sakit banget kalau pas awal mulai latihan. Kaki kanan aku masih bengkak di bagian paha dan lutut, dan bengkak makin gede tiap kali aku melakukan aktivitas yang agak intensif menggunakan kaki. Nah, kalo dah bengkak gini nih, berasa kaki gajah banget, jadi kebas gitu nih kaki kalau buat jalan. Trus di akhir minggu ke tiga ini aku juga mulai agak "nyolong-nyolong" coba jalan pake satu kruk, masih agak susah - karena kupikir kan di akhir minggu ke empat aku harus udah mulai latihan jalan tanpa kruk, jadi diusahakan sedikit-sedikit memberikan beban lebih kepada kaki kanan supaya mulai agak terbiasa dengan beban badan aku. Kalau di dalam rumah sih aku selalu usahain pake satu kruk, tapi kalau keluar rumah aku masih bawa-bawa dua biji, in case mendapatkan jalan yang sulit, rumit dan berliku dan kakiku tak mampu menopang berat beban hidup (halah, lebay 180 derajat!). 

KABAR baiknya, kaki aku udah mulai agak lumayan fleksibel, udah bisa ditekuk lebih banyak dari minggu kemarin. Paling gak kalau duduk di kursi udah bisa menekuk nyaris 90 derajat sih. Buat gerakan tertentu, misalnya mengayunkan kaki ke depan dan ke belakang dari posisi duduk masih sakit di bagian sambungan lutut, mungkin karena luka bekas operasi di bagian dalam belum sepenuhnya sembuh kali ya. Tapi memang pada minggu ini aku agak hardcore sih melatih kaki, terdorong oleh kebutuhan (atau keinginan ya?) supaya bisa halan-halan liburan dengan kaki nyaman, tapi worth it lah! Sesuai prinsip aku: no pain no gain! 

Sengaja dandan pake 'kostum perang lengkap'  macam mo lari pagi kalo mau latihan di rumah, biar berasa serius en just to make me feel better aja sih!

SO, kesimpulannya, dari apa yang aku rasakan selama 3 minggu ini dan dari apa yang aku baca (dari seabrek sumber), it's really a matter of consistency and hard work. Yeps kadang (sering sebenernya) aku merasa frustasi banget, pengen cepet bisa nekuk-nekuk, jalan-jalan, lari-lari, lompat-lompatan dll, tapi ini kaki semacam nggak bisa diajak kompromi. Udah ditekuk-tekuk sampai menjerit-jerit sakit tapi ni otot berasa keras kepala banget cuma mentok bisa segitu. Udah diangkat-angkat sampe meringis-ringis nahan perih masih aja tu lutut lemes serasa tak berdaya. Yah, kalau kata aku sih, tahap recovery ini emang lebih berat daripada rasa sakit setelah operasi, karena kita harus tetap menjaga semangat dan kesabaran supaya nggak mutung dan pundung yang akhirnya berujung pada malas latihan (yeps pengakuan dosa, kadang aku malas latihan sih, tapi cuma boleh kuijinkan sehari dalam seminggu untuk ngambil jatah 'malas', ahahaa). Tapi demi langit dan bumi dan semua tempat yang belum pernah kukunjungi, tetap semangat dan pantang menyerah. Life must go on! 

It's always a good idea to see and to experience new things! 

Kamis, 04 Januari 2018

CERITA TENTANG LUTUT: PASCA OPERASI ACL MINGGU KE DUA

HOLA! Update kemajuan pasca operasi ACL minggu ke dua. Minggu ini aku dijadwalkan untuk kontrol dokter, ketemu dr. Bambang Kisworo lagi setelah seminggu yang lalu beliao membedah-bedah lutut kananku. Well, tadinya aku agak pesimis sih, gimana mo jalan dan berangkat dari rumah, mengingat beberapa hari yang lalu ni kaki masih sakit banget digerakin dan digeser-geser, apalagi ditekuk-tekuk. Tapi setelah 2 hari sebelumnya aku berhasil nekad turun dari tempat tidur dan jalan ke kamar mandi dengan kaki diseret-seret macem ulat bulu (kaki kanan masih sakit banget untuk ditekuk), akhirnya aku berhasil memberanikan diri untuk jalan lebih jauh lagi (kayaknya emang beneran deh kalau first step always hard -literally in my case). Jadinya neh, pas hari kontrol tiba, aku memutuskan memberanikan diri untuk membonceng naik motor. Caranya? Gonceng miring dong. Agak susah sih emang, karena harus narik kaki waktu mo duduk di jok belakang, lalu menumpangkan kaki kanan (surgery one) ke kaki kiri (healthy one). Tapi finally, walaupun masih meringis waktu mo naik, akhirnya bisa juga aku dan suami berboncengan menuju RS. Panti Rapih (dan kebayang betapa bosannya aku selama berhari-hari gak pergi-pergi keluar rumah, so this fact that aku bisa membonceng motor adalah suatu pencapaian penting!). 

SINGKAT kata, kami pergi ke Panti Rapih dan bertemu dr. Bambang. Sebelumnya om dokter meminta aku untuk rontgen kaki lagi. Hasil rontgen sih bilangnya its OK, operasinya berjalan bagus, pen sudah terpasang bagus di lutut aku, menghubungkan antara paha dan betis. Lalu si dokter nyuruh aku berbaring di meja periksa dia, dan lagi-lagi menyuruh aku untuk menekuk lutut dalam posisi berbaring seperti yang dia lakukan waktu visit post operasi. Well, nggak terlalu banyak progres sih, karena emang aku nggak terlalu banyak melatih flexibility (sakit bo, jadi malas ceunah!). Om dokter kemudian ngasih aku beberapa exercise yang harus aku latih sendiri di rumah supaya kaki kananku bisa kembali kuat. Pertama, dalam kondisi berbaring, dia nyuruh aku untuk ngangkat kaki kanan (dalam keadaan lurus). Wanna know the result? Gue kagak bisa dooong, angkat kaki gue, beratnyaaaaa muinta ampun! Berasa ni kaki kagak ada tenaga sama sekali, plus sakit lunar binasa di bagian sambungan lutut. Dipaksa-paksa sampe berkeringat sekalipun aku hanya bisa ngangkat kaki 3 cm dari matras, itupun hanya tahan beberapa detik. Sempat frustasi dong gue, secara dalam hati aku merasa kan otot kaki aku lumayan, buktinya aku bisa lari 10 km dengan santai! Kata pak dokter dan asistennya, aku harus konsisten melakukan gerakan ini, angkat kaki dan ditahan sampai 10 detik, minimal 100 kali per hari (buset, keringetan gak sih. Ngangkat 3 senti aja sudah ampun juragan!). Then dokter juga menyuruh aku untuk duduk di tepi tempat tidur dengan kaki menggantung, dan membengkokkan kaki sampai 90 derajat ke arah dalam, dengan pantat tetap ditekan ke matras. Bisa sih, tapi sakit! Jadi dokter Bambang bilang kalau oke, udah bisa menekuk 90 derajat, so kemajuan selanjutnya adalah beneran di tangan kamu. Harus rajin latihan dan jangan malas bergerak. Kaki sudah boleh menapak, tapi kruk masih tetap harus digunakan selama satu bulan ke depan (okebaiklah!).Dokter Bambang juga berpesan bahwa perban bisa dilepas beberapa hari ke depan, dan luka bekas jahitan sudah bisa kena air. Pesannya lagi: jangan manja, harus mandiri, dan tetap latihan! Bahkan secara literal dia berpesan ke suami aku untuk tidak usah membantu aku, biarkan aku melakukan dan mengusahakan sendiri. Baiklah! Selama bisa mandi dan mempercantik diri, I think I'll be fine!  

SAMPAI 9 hari post operasi, tepatnya 2 hari setelah kontrol, aku masih belum bisa ngangkat kaki dalam posisi lurus seperti yang disarankan Pak Bambang. Alamaaak sedih nian aku, berasa selamanya nggak akan bisa gitu deh (baper ya!). Selama hari-hari itu pula aku intensif baca blog sana sini, nonton yutub kemana-mana, just to know how people recover from their ACL surgery. Iya sih, tidak bisa dibandingkan metode latihannya, karena luka dan operasinya juga beda-beda. But at least kalau kita tahu apa yang harus dilakukan, jadi sedikit ayem dan ada gambaran lah kalau kondisi kita ternyata "normal". Jadi aku merujuk ke video latihan kaki pasca acl ini sebagai referensi, meskipun nggak semua gerakan kuikuti dan tetap yang utama adalah arahan dokter. Jadi mulailah, karena aku bertekad kuat supaya bisa back to the field aku harus benar-benar bisa memaksa diri dan disiplin latihan. 

FIRST time is always hard emang beneran kurasakan. Seperti yang kutulis tadi, sampai 9 hari post operasi aku masih belum bisa ngangkat kaki dari posisi tidur. Seberapapun kuat aku mencoba, kaki semacam gak ada tenaga gitu deh. Jadi, berdasarkan video yang aku tonton ini, aku menggunakan bantuan handuk untuk mengangkat kaki. Jadi handuk kukaitkan di tumit (dalam posisi duduk selonjor), lalu kutarik ke atas supaya kakiku ikut naik ke atas. 5-6 kali gerakan setiap sesi, satu hari bisa 2-3 sesi tergantung kondisi mental (males atau nggak). Pertama sih sakit, tapi lama kelamaan biasa juga. Aku juga pake bantuan handuk untuk latihan menekuk kaki. Caranya sama, dengan dikaitkan ke lutut (dalam posisi duduk selonjor), lalu handuk ditarik pelan-pelan ke depan supaya kaki kita tertekuk, lalu ditahan selama 10 detik. Sakit sih kagak terlalu, tapi emang kerasa kalau lututku kaku setengah mati. Kalau lagi pengen latihan hardcore, suami aku ikutan bantu, dengan memegangi dan menarik kakiku sampai menekuk maksimal (maksudnya sampai aku mengaduh minta ampun), ditahan 10 detik dan dilepas pelan-pelan. Biasanya sih suami kagak percaya kalau aku bilang sakit banget, jadi kalau kata dia (menurut dia) lutut aku masih bisa didorong menekuk lebih dalam lagi, dia akan 'maksain' mendorong tumitku lebih dalam lagi dan ditahan selama 10 detik. Bener sih, ternyata aku bisa, dan setelah itu lutut akan terasa lebih enakan. Jadi intinya emang push your limit deh! 

Nah, ngangkat kaki yang berasa sepele gini nih yang bikin aku frustasi setengah mati karena nggak bisa-bisa!


NAH, setelah 3 hari latihan hardcore, secara tiba-tiba, nggak tau angin dari mana, pas aku lagi iseng coba ngangkat kaki, tetiba saja kakiku bisa mulus terangkat ke atas dengan ajaib, kagak ada lagi perasaan berat dan lunglai di lutut! Wew kebayang dong betapa senengnya aku (eureka!). Ini baru bisa kulakukan di hari ke 10. Kabar baiknya lagi, di hari ke 10 ini aku juga udah mulai bisa tidur miring ke kiri, dengan kaki kanan (injury leg) berada di atas kaki kiri. Fyi, sebelum ini aku selalu tidur miring ke kanan karena kalau miring ke kiri kakiku terasa pegal dan tertarik. So, karena sudah bisa mengangkat kaki, mulai hari ke 10 itu aku mendisiplinkan diri berlatih (50 kali angkat kaki sehari instead of 100). Jangan kira akan mulus-mulus saja ya, karena pada awal-awalnya, ketika melakukan gerakan pertama, lutut bagian persambungan antar tulang rasanya sakit minta ampun! Setelah 3-4 kali gerakan sih biasanya lancar-lancar saja, tapi ya itu tadi, first step always painful! Aku juga terus melatih menekuk dan membengkokkan kaki. Update lainnya, bengkak masih terlihat, terutama di bagian paha (paha aku jadi berasa kayak paha gajah euy!). Dan, bengkak ini makin membesar sampai ke bawah lutut dan telapak kaki setiap sore hari, terutama kalau aku banyak beraktivitas dengan kaki atau kalau abis latihan hardcore. Kalo udah gini nih biasanya kaki jadi makin berasa kaku dan gak enak digerakin. Dari hasil intip-intip yang berjibun sih katanya bengkak ini biasa terjadi lama, bahkan ada yang sampai 6-7 minggu masih bengkak kakinya. So, sabar aja, kalo bengkak tetap aja buat berlatih dan beraktivitas, karena dengan semakin kuat otot kita, semakin berkurang juga bengkaknya. Kalo mau bisa juga dikompres pake air dingin biar agak kempes, tapi believe me, dia akan datang lagi sampai waktunya dia sirna ....

Latihan angkat kaki. Minggu pertama aku masih pakai bantuan anduk macam gini karena lutut belum kuat ngangkat beban kaki. Dilakukan 3 set, masing-masing set 10 kali angkat dengan ditahan selama 10 detik. 
Variasi latihan, nggak pakai nekuk kaki kiri.

Eureka! Gini nih gerakannya. Angkat, tahan 10 detik, turunkan. Angkat, ayun atas bawah 5 kali pelan-pelan, turunkan.

Latihan keseimbangan, kalau mau berdiri dari posisi duduk. 

O YA, minggu ke dua pasca operasi ini aku juga sudah mulai masuk kantor. Selain cuti sakit sudah habis, aku juga sudah bosan setengah mati ngendon di rumah dengan pergerakan terbatas (kalo masih bisa maen sih oke aja!). Daaaaaan karena ruangan aku ada di lantai atas, jadi aku juga harus membiasakan diri naik-naik ke puncak gedung dengan menapaki anak tangga satu-satu, gak bisa lagi gegayaan sambil lari-lari lompat-lompat macam dulu. Pertamanya sih agak-agak takut gimana gitu sih, tapi lama-lama biasa juga kok.  

SO, kesimpulannya, minggu kedua pasca operasi: sakit masih bersisa dikit (untuk gerakan tertentu masih berasa sakit banget, apalagi kalau habis bangun tidur dan kaki kaku), kaki kaku masih bersisa dan masih belum bisa nekuk maksimal, dan bengkak juga masih ada. Tapi mostly kita masih bisa melakukan aktivitas normal walo pelan-pelan. Yang penting pokoknya rajin dan konsisten berlatih dan (mencoba) mandiri. Sakit itu pasti, tapi jangan menyerah pokoknya. Push your limit and find your true strength! 

Because it's always a good thing to experience new things!