YEPS, bagi yang merasa butuh kedamaian, jauh dari suara dan hiruk pikuk modernisme, bisingnya lalu lintas mobil dan motor, ataupun sinyal HP yang membuat ponselmu bunyi tang-ting-tung tiap menit, I would definitely recommend this place for your short break vacation! Terletak di lereng Merapi dan masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu-Merapi, naga-naganya tempat ini sudah mulai dilirik para bikers dan motor crosser untuk touring dan menjelajah kawasan yang dulunya merupakan bekas jalan lahar dari kawah Merapi yang emang ciamik punya buat crossing-crossingan. Saya inget banget, waktu kecil Ibu pernah ngajak saya ke tempat ini, waktu tempat ini dulu masih berupa hutan setengah belantara dan belum banyak dikunjungi wisatawan. Yang saya ingat jaman dulu sih ada semacam monumen gitu di tengah hutan belantara ini, diresmikan dan ditandatangani sama Presiden Soeharto. Kata Ibu saya, tempat ini merupakan jalan lahar buatan (jadi dulu ada sabo dam yang saya inget dalaaaaaammmm banget), jadi semacam sungai buatan gitu laaah, untuk mengalirkan lahar sewaktu-waktu Merapi meletus (karena ini memang jalur lahar favorit sebelum letusan 94). Tapi apa nyana dikata, setelah jalan lahar ini selesai, ternyata sampai letusan terakhir tahun 2014, arah aliran lahar selalu mengarah ke Jogja (kecuali letusan tahun 2010), melewati Kali Gendol di Cangkringan sana. Beberapa tahun kemudian, waktu saya SMA, saya pernah juga pergi ke tempat ini bareng teman, dan kondisinya masih sama: jauh dari mana-mana (perkampungan terdekat sekitar 5 km jauhnya), jalannya jelek berbatu (iyalah, yang lewat situ cuma truk-truk pasir segede gaban), dan masih sunyi sepi menyejukkan. Bahkan, seinget saya dulu, kita bahkan harus menyeberangi sungai (literally) untuk bisa sampai lokasi dimana terdapat prasasti Soeharto ini.
Pemandangan Merapi dari arah Jurang Jero (sayangnya sedang berkabut jadi puncak Merapi tidak terlalu jelas).

The old woman and her firewood. Tipikal pemandangan yang akan sering dijumpai di daerah pegunungan Indonesia.

Prasasti Soeharto, masih berdiri gagah saja sampai sekarang.
SESUAI dengan namanya, yang kalau diterjemahkan literally adalah jurang yang dalam, objek pemandangan utama di tempat ini adalah jurang (atau lebih tepatnya sungai bekas aliran lahar) yang memang sangat dalam. Well, tidak sedalam yang saya ingat waktu terakhir kali saya datang ke sini sih, tapi tetap saja cukup dalam. Kata teman saya, wisata Jurang Jero ini mulai ngetren di awal-awal 2013an, dan mulai diserbu para wisatawan dan petualang yang hobi crossing-crossing-an, entah pake sepeda, motor, maupun jeep (meskipun ada juga sih wisatawan 'reguler' seperti saya yang niat utamanya adalah hiking dan mencari kesunyian). Bagusnya lagi, sebenarnya tempat ini tidak terlalu cocok untuk wisatawan super reguler ataupun wisatawan keluarga, karena sama seperti dulu, tempatnya tidak terlalu mudah dijangkau dengan kendaraan (mobil) biasa. Jalur yang paling utama untuk mencapai tempat ini adalah melalui Pertigaan Jumoyo atau Pertigaan Gulon menuju arah Srumbung. Buat yang bermobil, dari arah Srumbung menuju Desa Ngargosuko. Dari sini, kita harus menempuh jalan ekstra berbatu yang memang pada dasarnya digunakan sebagai jalur truk pengangkut batu dan pasir, yang panjangnya kira-kira sekitar 3 km (lumayanlah mengocok perut). Bagi yang bermotor, kita bisa mengambil rute memutar melewati perkampungan dengan jalan yang sudah dicor, lewat desa Tegalrandu. Fyi, jalan ini hanya cukup untuk satu jalur, sehingga dibuat pengaturan hanya mobil dari arah Jurang Jero saja yang bisa lewat jalur ini, dan tidak sebaliknya.
SECARA umum sih saya bilang tempat ini tidak terlalu mudah dijangkau, karena tidak ada angkutan umum, tidak terlalu nyaman untuk mobil biasa (kecuali mobil off road). Kalau mau nyaman, saya menyarankan pakai motor saja - atau, kalau memang niat, bisa jalan kaki dari Ngargosuko. Tapi sulitnya akses menuju tempat ini sepadan kok dengan apa yang akan kalian dapat di sana! Seperti yang saya bilang tadi, tempat ini jauh dari mana-mana. Begitu sampai di lokasi, kita akan disambut dengan hutan pinus yang hijau, bau rumput dan udara yang menyegarkan, serta hanya terdengar suara angin, gesekan daun-daun, dan kicau burung di segala penjuru. There will be no modern noises kecuali satu dua motor atau mobil pendatang. Bahkan, sinyal HP-pun kembang kempis di tempat ini. Perfect paradise untuk mengasingkan diri pokoknya.
TIKET yang harus dibayar adalah Rp.5000 untuk 1 motor dan Rp.10.000 untuk satu mobil. Begitu, sampai, kita akan mendapati kompleks bumi perkemahan yang memiliki fasilitas kamar mandi, musholla, serta ada beberapa warung (yang sayangnya tidak buka 24 jam non stop). Ada dua pilihan kalau kita sampai di tempat ini, wisata cantik (foto-foto dan selfie cantik) di kawasan wisata Randu Ijo, atau melanjutkan perjalanan sampai ke atas, ke tempat Monumen Suharto. Kalau kalian memilih yang pertama, tinggal meneruskan perjalanan ke arah barat sekitar 1 kilometer, kalian akan menemukan area Wisata Alam Berbasis Konservasi Kelompok Tani Hutan Randu Ijo. Ada warung menarik yang bisa jadi tempat nongkrong asyik di sana. Bagi yang doyan foto-foto, tersedia juga spot-spot ala-ala foto jaman sekarang yang bisa dicoba, lumayanlah buat upload-upload keren di sosmed, hehe... Overall, tempat ini menarik buat yang pengen duduk-duduk manis menikmati pemandangan alam tapi nggak pengen jalan terlalu jauh dan melelahkan.

Wisata Alam Berbasis Konservasi Kelompok Tani Hutan Randu Ijo, buat yang doyan selfie dan foto-foto cantik.
KARENA tujuan kami adalah untuk hiking, maka kami memutuskan untuk melanjutkan ke atas, menuju arah Monumen Suharto. Jadilah kami meretas hutan pinus dengan jalan setapak yang lumayan enak untuk dijadikan rute hiking. Bagi yang ingin bersepeda, tersedia juga jalur khusus yang cukup menantang untuk dicoba. Atau, bagi yang berkendaraan (motor atau mobil), silakan kembali menyusuri jalan-jalan penuh batu yang juga merupakan jalur truk pengangkut pasir (just imagine yourself how this road looks like). Yang saya suka dari trip Jurang Jero ini, jalur hikingnya enak banget! Tidak terlalu menanjak, tidak terlalu melelahkan, adem dan sejuk terlindung di sela-sela pepohonan, dan banyak yang bisa kita amati. Kita juga akan dimanjakan oleh suara burung dan angin yang bertiup di sela pepohonan. Bagi yang mengajak balita dan anak-anak, saya recommend banget jalur ini buat ber hiking ria keluarga. Untuk sampai ke Monumen Suharto, diperlukan sekitar 45 menit jalan kaki (sekitar 3 km dari tempat parkir). Di sini (lagi-lagi) kita akan ketemu juga dengan beberapa spot rumah pohon dan tempat-tempat 'kekinian' untuk foto cantik.


Jalur trekking menuju Monumen Soeharto. Tidak terlalu menanjak dan cukup mengasyikkan buat kiddos.
MONUMEN Suharto sendiri terletak di lokasi yang terbuka, tempat kita bisa melihat 'jurang jero', jalur sabo dam yang membentang ke arah Gunung Merapi di sebelah timur. Kalian bisa membayangkan sabo dam ini sebagai sungai lebar dan dalam yang di dalamnya penuh berisi pasir dan batu-batu, mulai dari yang sebesar kerikil sampai yang segede rumah. Sepanjang mata memandang, yang ada hanya deretan pepohonan, dam yang lebar, batu-batu besar. Well, suasananya tidak terlalu berubah sih seperti sejak saya terakhir datang ke sini - cuma (menurut perasaan saya) jurangnya tidak sedalam dulu lagi, karena mungkin sudah terisi material dari gunung Merapi. Sebagai informasi, katanya, letusan tahun 2010 kemarin cukup 'memporak porandakan' tempat ini, dan tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar aliran sabo dam hangus terbakar, walaupun sekarang sudah hijau kembali.


Motor trail sepanjang jalur lava di dasar sabo. Wanna try?

River walk sepanjang aliran jalan lahar. Nice to try!


Wanna pics like this? It's totally cool!
BAGI yang doyan jalan, kalian bisa melanjutkan untuk terus ke atas, menyusuri dam raksasa ini sampai ke atas, yang berjarak sekitar 5 km dari Monumen Suharto. Kalian juga bisa berhenti di atas dam raksasa ini, dan merasakan betapa kecil dan mungilnya kita di antara kemegahan alam semesta (agak lebay sih, tapi this is what I really feel when I stand on this place). Kalian juga bisa bersepeda (onthel maupun motor) untuk menyusuri dam. Beberapa saya juga lihat ada yang menggunakan motor trail untuk turun ke dasar sungai. Atau, kita juga bisa jalan kaki menyusuri dasar sungai, sok-sok river walking gitu deh. Nggak ada airnya kok, karena dimana-mana hanya ada pasir, batu, batu, batu dan batu lagi. Tapi, kalau kalian pengen mencoba river walking, pastikan dulu hari tidak hujan dan Gunung Merapi berada dalam status aman ya, takutnya kalau tiba-tiba ada banjir lahar dari atas kalau pas hari hujan (yang begini ini sering kejadian, sampai-sampai ada beberapa truk dan penumpangnya yang ikut hanyut karena tidak sempat melarikan diri saking cepatnya banjir datang). And believe me, its worth it to try, untuk river walking maksudnya! Buat yang ngajak anak kecil, jangan khawatir - seperti yang saya bilang tadi, it's suitable for kids! At least, saya bisa bilang, Mbak Qori (4 y.o.), sangat menikmati perjalanan ini, dan hanya sesekali mengeluh capek yang langsung hilang lagi terkalahkan oleh semangat mengeksplorasi batu-batu segede gajah yang berserakan di mana-mana.

![]() |
Menyusuri jalan lahar. Pengalaman yang berharga buat emak dan anaknya :)
![]() |
Mendaki dinding sabo dam. Meskipun dengan ketinggian sekitar 7 meter dan kemiringan 90 derajat, sepertinya Mbak Qori masih menikmatinya dan tetap ceria.
|
SO, bagi mak-mak yang kelebihan adrenalin dan butuh sedikit 'tantangan' dan menggerakkan badan, i would say that this is a perfect getaway pokoknya. Kita bisa jalan-jalan, petualangan, dan tidak perlu khawatir medannya akan terlalu berat buat anak-anak. Juga, for those who need short breakout from your daily routine and modern life, I would definitely said that you must try this! Terutama sekali, saya suka its quietness, keterasingan dari dunia modern (nggak ada suara motor, mobil, hiruk pikuk manusia, sinyal hape, dll), sehingga selama 3 jam perjalanan menjelajah sabo dam, kita bener-bener akan terbebas dari kesibukan bermain HP dan upload-upload foto dan real time check-in on social media!
Wanna try? It's always a good thing to explore new things!
Overall rating : 9
Tingkat kesulitan : 6
Suitable for kids : Yes (with supervision).
Overall rating : 9
Tingkat kesulitan : 6
Suitable for kids : Yes (with supervision).



Tidak ada komentar:
Posting Komentar