}
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Februari 2017

JURANG JERO: A PERFECT GETAWAY FOR SOLITUDE LOVERS

YEPS, bagi yang merasa butuh kedamaian, jauh dari suara dan hiruk pikuk modernisme, bisingnya lalu lintas mobil dan motor, ataupun sinyal HP yang membuat ponselmu bunyi tang-ting-tung tiap menit, I would definitely recommend this place for your short break vacation! Terletak di lereng Merapi dan masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu-Merapi, naga-naganya tempat ini sudah mulai dilirik para bikers dan motor crosser untuk touring dan menjelajah kawasan yang dulunya merupakan bekas jalan lahar dari kawah Merapi yang emang ciamik punya buat crossing-crossingan. Saya inget banget, waktu kecil Ibu pernah ngajak saya ke tempat ini, waktu tempat ini dulu masih berupa hutan setengah belantara dan belum banyak dikunjungi wisatawan. Yang saya ingat jaman dulu sih ada semacam monumen gitu di tengah hutan belantara ini, diresmikan dan ditandatangani sama Presiden Soeharto. Kata Ibu saya, tempat ini merupakan jalan lahar buatan (jadi dulu ada sabo dam yang saya inget dalaaaaaammmm banget), jadi semacam sungai buatan gitu laaah, untuk mengalirkan lahar sewaktu-waktu Merapi meletus (karena ini memang jalur lahar favorit sebelum letusan 94). Tapi apa nyana dikata, setelah jalan lahar ini selesai, ternyata sampai letusan terakhir tahun 2014, arah aliran lahar selalu mengarah ke Jogja (kecuali letusan tahun 2010), melewati Kali Gendol di Cangkringan sana. Beberapa tahun kemudian, waktu saya SMA, saya pernah juga pergi ke tempat ini bareng teman, dan kondisinya masih sama: jauh dari mana-mana (perkampungan terdekat sekitar 5 km jauhnya), jalannya jelek berbatu (iyalah, yang lewat situ cuma truk-truk pasir segede gaban), dan masih sunyi sepi menyejukkan. Bahkan, seinget saya dulu, kita bahkan harus menyeberangi sungai (literally) untuk bisa sampai lokasi dimana terdapat prasasti Soeharto ini. 




 Pemandangan Merapi dari arah Jurang Jero (sayangnya sedang berkabut jadi puncak Merapi tidak terlalu jelas). 


The old woman and her firewood. Tipikal pemandangan yang akan sering dijumpai di daerah pegunungan Indonesia.





Prasasti Soeharto, masih berdiri gagah saja sampai sekarang. 

SESUAI dengan namanya, yang kalau diterjemahkan literally adalah jurang yang dalam, objek pemandangan utama di tempat ini adalah jurang (atau lebih tepatnya sungai bekas aliran lahar) yang memang sangat dalam. Well, tidak sedalam yang saya ingat waktu terakhir kali saya datang ke sini sih, tapi tetap saja cukup dalam. Kata teman saya, wisata Jurang Jero ini mulai ngetren di awal-awal 2013an, dan mulai diserbu para wisatawan dan petualang yang hobi crossing-crossing-an, entah pake sepeda, motor, maupun jeep (meskipun ada juga sih wisatawan 'reguler' seperti saya yang niat utamanya adalah hiking dan mencari kesunyian). Bagusnya lagi, sebenarnya tempat ini tidak terlalu cocok untuk wisatawan super reguler ataupun wisatawan keluarga, karena sama seperti dulu, tempatnya tidak terlalu mudah dijangkau dengan kendaraan (mobil) biasa. Jalur yang paling utama untuk mencapai tempat ini adalah melalui Pertigaan Jumoyo atau Pertigaan Gulon menuju arah Srumbung. Buat yang bermobil, dari arah Srumbung menuju Desa Ngargosuko. Dari sini, kita harus menempuh jalan ekstra berbatu yang memang pada dasarnya digunakan sebagai jalur truk pengangkut batu dan pasir, yang panjangnya kira-kira sekitar 3 km (lumayanlah mengocok perut). Bagi yang bermotor, kita bisa mengambil rute memutar melewati perkampungan dengan jalan yang sudah dicor, lewat desa Tegalrandu. Fyi, jalan ini hanya cukup untuk satu jalur, sehingga dibuat pengaturan hanya mobil dari arah Jurang Jero saja yang bisa lewat jalur ini, dan tidak sebaliknya. 

SECARA umum sih saya bilang tempat ini tidak terlalu mudah dijangkau, karena tidak ada angkutan umum, tidak terlalu nyaman untuk mobil biasa (kecuali mobil off road). Kalau mau nyaman, saya menyarankan pakai motor saja - atau, kalau memang niat, bisa jalan kaki dari Ngargosuko. Tapi sulitnya akses menuju tempat ini sepadan kok dengan apa yang akan kalian dapat di sana! Seperti yang saya bilang tadi, tempat ini jauh dari mana-mana. Begitu sampai di lokasi, kita akan disambut dengan hutan pinus yang hijau, bau rumput dan udara yang menyegarkan, serta hanya terdengar suara angin, gesekan daun-daun, dan kicau burung di segala penjuru. There will be no modern noises kecuali satu dua motor atau mobil pendatang. Bahkan, sinyal HP-pun kembang kempis di tempat ini. Perfect paradise untuk mengasingkan diri pokoknya. 

TIKET yang harus dibayar adalah Rp.5000 untuk 1 motor dan Rp.10.000 untuk satu mobil. Begitu, sampai, kita akan mendapati kompleks bumi perkemahan yang memiliki fasilitas kamar mandi, musholla, serta ada beberapa warung (yang sayangnya tidak buka 24 jam non stop). Ada dua pilihan kalau kita sampai di tempat ini, wisata cantik (foto-foto dan selfie cantik) di kawasan wisata Randu Ijo, atau melanjutkan perjalanan sampai ke atas, ke tempat Monumen Suharto. Kalau kalian memilih yang pertama, tinggal meneruskan perjalanan ke arah barat sekitar 1 kilometer, kalian akan menemukan area Wisata Alam Berbasis Konservasi Kelompok Tani Hutan Randu Ijo. Ada warung menarik yang bisa jadi tempat nongkrong asyik di sana. Bagi yang doyan foto-foto, tersedia juga spot-spot ala-ala foto jaman sekarang yang bisa dicoba, lumayanlah buat upload-upload keren di sosmed, hehe... Overall, tempat ini menarik buat yang pengen duduk-duduk manis menikmati pemandangan alam tapi nggak pengen jalan terlalu jauh dan melelahkan. 


Wisata Alam Berbasis Konservasi Kelompok Tani Hutan Randu Ijo, buat yang doyan selfie dan foto-foto cantik. 


KARENA tujuan kami adalah untuk hiking, maka kami memutuskan untuk melanjutkan ke atas, menuju arah Monumen Suharto. Jadilah kami meretas hutan pinus dengan jalan setapak yang lumayan enak untuk dijadikan rute hiking. Bagi yang ingin bersepeda, tersedia juga jalur khusus yang cukup menantang untuk dicoba. Atau, bagi yang berkendaraan (motor atau mobil), silakan kembali menyusuri jalan-jalan penuh batu yang juga merupakan jalur truk pengangkut pasir (just imagine yourself how this road looks like). Yang saya suka dari trip Jurang Jero ini, jalur hikingnya enak banget! Tidak terlalu menanjak, tidak terlalu melelahkan, adem dan sejuk terlindung di sela-sela pepohonan, dan banyak yang bisa kita amati. Kita juga akan dimanjakan oleh suara burung dan angin yang bertiup di sela pepohonan. Bagi yang mengajak balita dan anak-anak, saya recommend banget jalur ini buat ber hiking ria keluarga. Untuk sampai ke Monumen Suharto, diperlukan sekitar 45 menit jalan kaki (sekitar 3 km dari tempat parkir). Di sini (lagi-lagi) kita akan ketemu juga dengan beberapa spot rumah pohon dan tempat-tempat 'kekinian' untuk foto cantik. 




Jalur trekking menuju Monumen Soeharto. Tidak terlalu menanjak dan cukup mengasyikkan buat kiddos.


MONUMEN Suharto sendiri terletak di lokasi yang terbuka, tempat kita bisa melihat 'jurang jero', jalur  sabo dam yang membentang ke arah Gunung Merapi di sebelah timur. Kalian bisa membayangkan sabo dam ini sebagai sungai lebar dan dalam yang di dalamnya penuh berisi pasir dan batu-batu, mulai dari yang sebesar kerikil sampai yang segede rumah. Sepanjang mata memandang, yang ada hanya deretan pepohonan, dam yang lebar, batu-batu besar. Well, suasananya tidak terlalu berubah sih seperti sejak saya terakhir datang ke sini - cuma (menurut perasaan saya) jurangnya tidak sedalam dulu lagi, karena mungkin sudah terisi material dari gunung Merapi. Sebagai informasi, katanya, letusan tahun 2010 kemarin cukup 'memporak porandakan' tempat ini, dan tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar aliran sabo dam hangus terbakar, walaupun sekarang sudah hijau kembali. 



Motor trail sepanjang jalur lava di dasar sabo. Wanna try?


River walk sepanjang aliran jalan lahar. Nice to try!





Wanna pics like this? It's totally cool!


BAGI yang doyan jalan, kalian bisa melanjutkan untuk terus ke atas, menyusuri dam raksasa ini sampai ke atas, yang berjarak sekitar 5 km dari Monumen Suharto. Kalian juga bisa berhenti di atas dam raksasa ini, dan merasakan betapa kecil dan mungilnya kita di antara kemegahan alam semesta (agak lebay sih, tapi this is what I really feel when I stand on this place). Kalian juga bisa bersepeda (onthel maupun motor) untuk menyusuri dam. Beberapa saya juga lihat ada yang menggunakan motor trail untuk turun ke dasar sungai. Atau, kita juga bisa jalan kaki menyusuri dasar sungai, sok-sok river walking gitu deh. Nggak ada airnya kok, karena dimana-mana hanya ada pasir, batu, batu, batu dan batu lagi. Tapi, kalau kalian pengen mencoba river walking, pastikan dulu hari tidak hujan dan Gunung Merapi berada dalam status aman ya, takutnya kalau tiba-tiba ada banjir lahar dari atas kalau pas hari hujan (yang begini ini sering kejadian, sampai-sampai ada beberapa truk dan penumpangnya yang ikut hanyut karena tidak sempat melarikan diri saking cepatnya banjir datang). And believe me, its worth it to try, untuk river walking maksudnya! Buat yang ngajak anak kecil, jangan khawatir - seperti yang saya bilang tadi, it's suitable for kids! At least, saya bisa bilang, Mbak Qori (4 y.o.), sangat menikmati perjalanan ini, dan hanya sesekali mengeluh capek yang langsung hilang lagi terkalahkan oleh semangat mengeksplorasi batu-batu segede gajah yang berserakan di mana-mana.




Menyusuri jalan lahar. Pengalaman yang berharga buat emak dan anaknya :) 




Mendaki dinding sabo dam. Meskipun dengan ketinggian sekitar 7 meter dan kemiringan 90 derajat, sepertinya Mbak Qori masih menikmatinya dan tetap ceria. 


SO, bagi mak-mak yang kelebihan adrenalin dan butuh sedikit 'tantangan' dan menggerakkan badan, i would say that this is a perfect getaway pokoknya. Kita bisa jalan-jalan, petualangan, dan tidak perlu khawatir medannya akan terlalu berat buat anak-anak. Juga, for those who need short breakout from your daily routine and modern life, I would definitely said that you must try this! Terutama sekali, saya suka its quietness, keterasingan dari dunia modern (nggak ada suara motor, mobil, hiruk pikuk manusia, sinyal hape, dll), sehingga selama 3 jam perjalanan menjelajah sabo dam, kita bener-bener akan terbebas dari kesibukan bermain HP dan upload-upload foto dan real time check-in on social media! 

Wanna try? It's always a good thing to explore new things!

Overall rating : 9 

Tingkat kesulitan : 6
Suitable for kids : Yes (with supervision). 

Senin, 23 Januari 2017

WEEKEND SHORT BREAK INSPIRATION: CANDI GUNUNG SARI

MINGGU ini kami tidak punya banyak waktu untuk bereksplorasi seharian seperti biasanya. Kebetulan si Ayah sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, jadi akhirnya kami memutuskan untuk 'berekspedisi' sendiri tanpa si Ayah. Karena tidak banyak persiapan juga, akhirnya kami memutuskan untuk mengeksplorasi Candi, hobi lama yang sepertinya sudah beberapa saat tidak dilakukan. Sebenarnya ada banyak candi di seputaran Magelang - Jogja yang bisa kami jelajahi, dan baru sekitar 50% saja yang sudah kami kunjungi. Eksplorasi candi ini sebenarnya menarik, sama menariknya dengan petualangan-petualangan lainnya, karena candi-candi yang ada di seputaran Magelang - Jogja itu terletak menyebar, banyak diantaranya terdapat di tengah perkampungan, persawahan, kaki bukit, bahkan juga puncak bukit! Dan jangan dibayangkan candi-candi tersebut semuanya semegah the famous Borobudur atau Prambanan dan Ratu Boko, banyak diantaranya yang hanya berupa bangunan batu kecil yang berdiri sendiri, ataupun dikelilingi dengan beberapa candi perwara (anak candi yang mengelilingi candi induk) lainnya. Bahkan, diantaranya pula hanya berupa tumpukan batu yang belum sempat direkonstruksi, dan hanya terlihat bekas pondasinya saja, seperti yang kami kunjungi minggu ini. 


KARENA kami menginginkan eksplorasi candi dengan sedikit trekking dan pemandangan dari ketinggian, serta lokasi yang tidak terlalu jauh, akhirnya pilihan kami jatuh ke Candi Gunung Sari. Tidak banyak yang tahu keberadaan candi ini, bahkan banyak pula penduduk Magelang yang belum pernah mendengar namanya. Tak heran, saat kami berusaha browsing, informasi yang kami peroleh juga sangat minim. Kami pun baru mendengar tentang candi ini dari penjaga Candi Gunung Wukir saat kami berkunjung ke sana beberapa waktu yang lalu. Menurut Pak Penjaga yang saya lupa namanya, Candi Gunung Sari sebenarnya lebih tua dan lebih besar dibandingkan Candi Gunung Wukir, tapi memang belum banyak penelitian dan ekskavasi yang dilakukan di sana, sehingga sejarah dan cerita mengenai candi inipun masih minim. 

SESUAI namanya, Candi Gunung Sari terletak di puncak bukit Gunung Sari, yang terletak di Dusun Gunung Sari, Desa Gulon, Kecamatan Muntilan. Letaknya cukup mudah ditemukan. Dari arah Jogja, sebelum memasuki Kota Muntilan, berbelok ke arah barat (belok kiri) di pertigaan Gulon (pertigaan ini terletak sekitar 1 kilometer setelah Jembatan Kali Putih) menuju bukit Gunung Sari di Dusun Gunung Sari. Sebenarnya, dari arah Jalan Magelangpun kita sudah bisa melihat bukit Gunung Sari, yang terletak di sebelah kanan jalan jika kita datang dari arah Jogja. Tidak perlu takut tersasar juga, karena akan ada papan penunjuk jalan yang cukup jelas untuk menuju ke bukit ini. 

Bukit Gunung Sari, tempat reruntuhan Candi Gunung Sari berada. 



Jalur pendakian di tepi jalan raya Gulon. Sepertinya terlihat lebih menantang. 


NAH, seperti yang sudah saya tulis tadi, Candi Gunung Sari terletak di puncak bukit, jadi perlu sedikit waktu dan tenaga untuk naik-naik ke puncak bukit menuju ke reruntuhan. Sebenarnya ada dua alternatif jalan untuk menuju ke puncak, yang pertama melalui jalur trekking yang terletak tepat di pinggir jalan raya Gulon, tapi dilihat dari kenampakan bentuknya, jalur ini sepertinya penuh dengan rerumputan tinggi dan sekilas terlihat hanya seperti jalan setapak kecil yang jarang dilalui orang. Lebih menantang sih, tapi karena kali ini kami bepergian tanpa si Ayah, akhirnya kami memilih alternatif jalan yang lebih familiar, yaitu lewat jalur menuju pemakaman di tengah Dusun Gunung Sari - yang kata ibu setempat lebih sering dilalui. Jadilah kami menuju dusun Gunung Sari, dan menemukan pelataran masjid dengan petunjuk menuju candi yang jelas, dengan anak tangga yang terlihat misterius dan sunyi. Di sini kami memarkir motor, dan memulai perjalanan menuju puncak bukit. 

ANAK tangga tersebut membawa kami ke pemakaman umum yang terletak sekitar 50 meter dari kaki bukit. Sampai di sini, anak tangga habis, dan kami harus melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak di tengah rerimbunan pohon dan semak belukar. Tidak terlalu terjal dan tidak terlalu sulit, tapi lumayan juga mendaki bukit setinggi sekitar 200 meter tersebut bersama anak-anak. Untungnya, pepohonan yang rindang dan suara burung sangat menghibur sehingga kami menikmati perjalanan dengan bahagia. Ditambah pula, dari kerimbunan pepohonan di sekitar, sesekali terlihat pemandangan Kota Magelang yang indah, dengan latar Gunung Merbabu-Merapi di kejauhan yang tampak cantik. Dilihat dari semangatnya anak-anak mendaki, yang masih bisa bernyanyi, tertawa dan berlari sesekali, saya menggolongkan bukit ini cukup nyaman untuk didaki.  



Mendaki Bukit Gunung Sari mencapai puncak. 

HANYA butuh waktu kurang dari 30 menit untuk mencapai puncak bersama anak-anak, itupun dengan diselingi istirahat beberapa kali. Jadi, kalau dengan kecepatan normal, mungkin hanya diperlukan waktu sekitar 20 menit untuk sampai puncak. Sampai di puncak, seperti yang sudah kami browse sebelumnya, kami menemukan reruntuhan Candi Gunung Sari dalam sebuah pelataran datar berpagar, dengan sebuah pohon besar menjulang dan sebuah pondok kecil untuk para penjaga. Suasana di atas sunyi, hanya kami bertiga yang saat itu ada di sana. Di tengah jalan tadi kami bertemu dengan mas penjaga yang sedang akan istirahat siang, jadi sayang sekali kami tidak bisa mengobrol dan menodong cerita dari mas penjaga. Dan benar saja seperti yang sudah diceritakan oleh mas penjaga di Candi Gunung Wukir beberapa waktu yang lalu, informasi mengenai Candi Gunung Sari ini masih sangat minim. Candi ini ditemukan secara tidak sengaja di tahun 1980-an, saat Pemerintah hendak membangun menara TVRI di puncak bukit ini. Saat melakukan penggalian, mereka menemukan bongkahan-bongkahan batu yang merupakan bagian dari candi, dan menemukan lebih banyak lagi setelah dilakukan penggalian lebih intensif. Dari yang kami lihat, kami hanya melihat bekas pondasi candi induk dengan dimensi sekitar 10 x 10 meter, dan tidak menemukan bekas reruntuhan adanya candi perwara di dekatnya - meskipun kami tidak tahu karena berdasarkan informasi, masih banyak bagian candi yang belum digali dan terkubur di perut bukit. Beberapa sumber menyebutkan, karena masih banyak araca dan bagian lain candi yang belum digali, menyebabkan proses rekonstruksi mengalami kesulitan, sehingga sampai saat ini yang bisa kami lihat memang hanya berupa tumpukan batu di sekitar pondasi bangunan utama candi. Informasi di papan informasipun sangat minim, hanya menyebutkan bahwa Candi Gunung Sari merupakan candi Hindu yang dibangun di abad IX - yang ditandai dengan adanya arca Mahakala yang ditemukan saat dilakukan penggalian. Tapi, sudah berkeliling beberapa kalipun, kami tidak menemukan dimana letak Arca Mahakala itu berada, pun sesuatu yang mirip atau dapat teridentifikasi sebagai arca. Dari informasi papan petunjuk di halaman depan candi juga disebutkan bahwa Candi Gunung Sari terdiri dari satu bangunan candi utama (bagian pondasi besar dengan banyak reruntuhan yang belum disusun), satu bangunan bukan candi utama, bangunan berstruktur batu bata dan bangunan berstruktur batu putih (yang juga tidak kami temukan bekasnya). Yah, meskipun sangat minim informasi - yang mungkin disebabkan karena memang belum banyak penelitian yang dilakukan untuk mengungkap sejarah dan misteri Candi Gunung Sari ini, overall, kami sangat menikmati petualangan ini. Terutama karena sejuknya suasana dan indahnya pemandangan sekeliling dari puncak bukit, yang membuat kami seolah-olah merasa berada di suatu negeri misterius yang menyimpan banyak cerita dan kejutan. 




Pelataran candi utama dilihat dari sisi barat.Kondisi candi yang belum sempat direkonstruksi menyebabkan batu-batu penyusun bangunan candi utama masih berserakan di sekitar pondasi utama.


Pelataran candi utama dilihat dari sisi timur.


Bereksplorasi di pelataran candi utama.


Pintu gerbang utama Candi Gunung Sari. 


Pemandangan dari atas bukit Gunung Sari

JADI, meskipun masih minim informasi, tapi bagi yang berada di sekitaran Magelang - Jogja, Candi Gunung Sari bisa menjadi alternatif untuk pilihan shortbreak, wisata sejarah sekaligus wisata trekking yang tidak terlalu merepotkan, terutama untuk mereka yang membawa anak-anak. Jangan lupa untuk membawa bekal makanan dan minuman ya, karena tidak ada pedagang di sekitar candi maupun di kaki bukit. Selain itu, kita juga bisa menikmati suasana kehidupan pedesaan yang kental terasa di Dusun Gunung Sari, tempat bukit ini berada. Bagi yang kebetulan sedang menjelajah Magelang, bisa juga jadi alternatif wisata selain mengunjungi the famous Borobudur, Mendut dan Pawon yang sepertinya sudah menjadi destinasi wajib di kota ini! It's always a good thing to explore new things! 

Overall rating : 7
Tingkat kesulitan : 3 
Suitable for kids : yes.