HOLA para ibuk-ibuk petualang! Kali ini saya membuat catatan perjalanan yang sedikit tidak melelahkan, alias nggak terlalu susah trekking-trekkingan dengan krucils. Ceritanya nih, minggu ini kami memutuskan untuk sedikit "berdamai" dengan kondisi fisik yang sudah cukup menua (baca: gampang lelah). Jadinya, kami menjanjikan ke Mbak Qori kalau kita tetap akan jalan-jalan petualangan tapi yang sedikit saja jalannya tapi masih tetap enak buat nongkrong dan menikmati keindahan alam. Nah, kalau ini yang kalian cari, we highly recommend you to explore Puncak Suroloyo, yang merupakan titik tertinggi dari deretan perbukitan Menoreh. Sebenarnya kami sudah agak sering menjelajah Perbukitan Menoreh ini untuk beberapa proyek pribadi (petualangan keluarga sih lebih tepatnya), jadi kami punya banyak sekali stok spot-spot menarik di sekitar Menoreh. Nah, Puncak Suroloyo ini merupakan salah satu yang paling mudah dijangkau dan paling umum dikunjungi wisatawan. Plus, bagi para penyuka kopi atau teh, ini bisa jadi alternatif wisata kopi dan teh yang menjanjikan, dan ini memang tujuan utama kami datang kemari.
 |
| Puncak Nglinggo. Cantik ya! |
 |
| Perbukitan Menoreh di tengah-tengah kabut. |
PERBUKITAN Menoreh sebenarnya membentang di 3 wilayah Kabupaten: Magelang, Kulon Progo dan Purworejo. Secara administratif, Puncak Suroloyo ini masuk wilayah Kabupaten Kulon Progo, meskipun bisa dicapai dari arah Jogja maupun Magelang. Ada beberapa alternatif untuk mencapai tempat ini: Melalui Kecamatan Samigaluh di Kulonprogo, melalui rute Borobudur, dari pertigaan Pasar Jagalan, Kulon Progo, atau bisa juga dari jalur Kebun Teh Nglinggo, Samigaluh. Keempat rute alternatif tersebut cukup mudah dijangkau dengan motor maupun mobil, dengan jalan aspal yang cukup mudah dilalui. Nah, menurut cerita nih, Puncak Suroloyo ini disebut-sebut sebagai titik tengah tanah Jawa (sebenarnya banyak juga sih bukit-bukit dan gunung-gunung di Jawa yang mengklaim diri mereka sebagai pusatnya tanah Jawa). Tapi kata legenda lagi, tempat ini juga merupakan pesanggrahannya 'Ki Semar' (yang dalam beberapa cerita Jawa disebut juga sebagai penjelmaan Batara Guru, atau pimpinan para dewa). Nah, di tempat inilah, menurut legenda, Ki Semar mengasuh anak buahnya, Petruk, Bagong, Gareng serta para ksatria Pandawa (mungkin ini juga yang menjelaskan kenapa terdapat patung Punakawan di puncak Suroloyo). Kalau cerita yang masih berbau sejarah valid sih, konon, berdasarkan kisah dari Kitab Cabolek karya NGabehi Yasadipura, suatu ketika Mas Rangsang (atau yang kemudian disebut sebagai Sultan Agung, raja Mataram), mendapat wangsit untuk berjalan kaki dari Keraton Kotagede ke arah barat. Mas Rangsang kemudian menuruti wangsit tersebut, dan sampailah beliau di Puncak Suroloyo ini. Karena lelah setelah menempuh perjalanan jauh, Mas Rangsang kemudian tertidur, dan dalam mimpinya beliau mendapatkan wangsit lagi untuk membangun pertapaan di tempat tersebut. Maka dibangunlah pertapaan tersebut, yang saat ini diyakini sebagai sebuah batu besar yang terdapat di Puncak Suroloyo.
 |
| Warung kopi Suroloyo. Kopinya enak punya! |
 |
| Geblek, makanan khas Kulon Progo yang terbuat dari ketela. |
 |
| Para Punakawan, Semar dan murid-muridnya. |
SEPERTI yang saya sebutkan tadi, Perbukitan Menoreh memiliki beberapa tujuan wisata yang layak dicoba.Di sekitar Puncak Suroloyo sendiri, terdapat Puncak Sariloyo dan Puncak Kaendran yang letaknya berdekatan. Ada juga Puncak Kendil yang lebih menantang, Punthuk Gajah Mungkur, Sendang Kadewatan, Sendang Widodaren. Bagi yang ingin sedikit mendaki, bisalah naik-naik ke puncak bukit dengan tidak terlalu bersusah payah. Sudah ada anak tangga yang - walaupun terjal, tapi tidak begitu melelahkan (kecuali bagi yang gendong anak ya!). Bagi para pemburu sunrise dan sunset, tempat ini juga recommend banget, karena mudah dijangkau plus banyak warung dan camping ground dengan fasilitas yang lengkap. Nah, karena tujuan petualangan kali ini adalah wisata kopi dan teh, maka kami nggak terlalu ingin naik-naik ke puncak bukit. Selain karena sudah pernah, saat kami ke sini hari juga sedang mendung luar biasa. Jadi ya sudahlah.
 |
| Arabica susu. Ini favorit saya! |
 |
| Puncak Kendil. Bagi yang bosan duduk-duduk minum kopi dan butuh menggerakkan badan. |
KOPI Suroloyo mungkin belum begitu dikenal di kalangan pengopi Indonesia. Konon alkisah, kopi Suroloyo ini dibudidayakan dan diolah oleh penduduk setempat secara kolektif, untuk kemudian didistribusikan ke berbagai kota di Indonesia. Ada dua jenis kopi yang ditawarkan, Arabica dan Robusta, yang rasanya ciamik punya. Di Puncak Suroloyo, terdapat beberapa warung yang menyediakan kopi bagi para pengunjung, fresh grinding dari biji kopi grade 1. Favorit saya adalah Arabica susu, menurut saya, perpaduan antara pahitnya kopi, dengan sedikit rasa asam yang pas bisa benar-benar memanjakan lidah dan membuat bahagia luar biasa (dan inilah salah satu alasannya kenapa kami sering ke tempat ini - karena rindu kopi Suroloyo). Bagi yang tidak terlalu suka rasa asam khas Arabica, bisa mencoba Robusta Suroloyo, yang menurut saya rasanya juga luar biasa. Apalagi ditambah dengan geblek hangat, makanan khas Kulon Progo, rasanya betah saja mau duduk berjam-jam di tempat ini sambil menikmati pemandangan yang juga luar biasa. Bagi yang tertarik untuk meminum kopi Suroloyo di rumah, bisa juga kok beli kopi dalam kemasan. Cukup murah, untuk setiap 65 gramnya, Robusta Suroloyo dibandrol harga 13 ribu rupiah saja, dan Arabica Suroloyo 18 ribu rupiah. Tapi, bocoran dari mas baristanya nih, kopi kemasan ini adalah kualitas cinderamata alias grade 2, dipilih dari biji kopi yang kecil-kecil dan tidak lolos sortir untuk kopi grade 1. Tapi jangan khawatir, kalau kalian ingin kopi kualitas atas, bisa kok pesen untuk beli biji kopinya dan digiling sendiri di rumah. Kalau pendapat saya pribadi yang sudah mencoba Arabica dan Robusta dari 2 grade yang berbeda, saya lebih cocok Arabica grade 2 alias grade oleh-oleh, karena di lidah saya, rasa asem dan pahitnya kopi lebih pas dan lebih cucok dengan selera saya.
 |
| Nglinggo. Cantik ya! |
 |
| Yuk mari yang ingin offroad! |
 |
| Jalanan sepanjang Kebun Teh Nglinggo. |
 |
| Jalanan sepanjang Kebun Teh Nglinggo. |
TIDAK suka atau tidak bisa minum kopi? Jangan khawatir, Perbukitan Menoreh masih punya alternatif lain kok! Cukup dengan melanjutkan perjalanan sekitar 30 menit dari Puncak Suroloyo, kita akan sampai ke Kebun Teh Nglinggo yang terletak di Kecamatan Samigaluh. Sepanjang perjalanan dari Puncak Suroloyo ke Kebun Teh Nglinggo, pemandangannya luar biasa, udaranya sejuk, dan jalannya cukup mudah dilaui dengan mobil maupun motor. Namanya juga kebun teh, jadi alih-alih kopi, kita akan menemui teh dimana-mana. Nggak cuma kebunnya yang indah dipandang mata, tapi kita bisa juga mencicipi teh khas Nglinggo, yang diolah secara tradisional oleh ibu-ibu setempat, dan diminum hangat-hangat sambil menikmati pemandangan yang romantis punya. Gimana nggak romantis, dari Puncak Nglinggo ini, kalau hari sedang cerah, kita bagaikan dikelilingi oleh gunung-gunung raksasa: Merbabu, Merapi, Sumbing, Ungaran. Belum lagi lekuk-lekuk indah perbukitan Menoreh yang menjadi latarnya, nggak kalah deh dengan pemandangan di luar negeri! Rasa tehnya sendiri menurut saya lumayan enak, segar dan tidak terlalu sepet. Jangan khawatir, sepanjang jalan di puncak Nglinggo ini banyak terdapat warung-warung yang menyediakan teh dan makanan lainnya kok, jadi kita bisa berlama-lama nongkrong sambil ngobrol. Bagi yang berminat untuk dibawa pulang buat oleh-oleh, bisa kok membelinya, dengan harga cukup 7000 rupiah sekantongnya. Perlu diingat, teh Nglinggo ini masih diolah dan dikemas secara sederhana, jadi begitu sampai rumah saya menyarankan supaya disimpan di tempat yang kedap supaya bau dan rasanya tidak hilang walau sudah disimpan lama. Atau, kalau ada yang tertarik mencoba teh putih, bisa juga beli dengan harga 20 ribu rupiah sekantong kecil (yah, kira-kira 2 sendok makan lah banyaknya). Mahal amat ya? Haha. Kata ibunya sih teh putih ini berkhasiat sebagai obat untuk macam-macam penyakit, diambil dari pucuk paling pucuk dari daun teh, dipetik harus saat sebelum menjelang matahari terbit (hawdewh), dan diolah dengan cara khusus, tidak boleh dijemur langsung di bawah sinar matahari. Pantas harganya mahal yak!
 |
| Ngeteh bersama. Ini yang namanya wisata dari warung ke warung! |
BOSAN duduk-duduk ngeteh doang? Eits, jangan khawatir, banyak spot menarik kok di Nglinggo, dan tidak kalah menarik dari Suroloyo. Bagi yang suka trekking atau sunrise hunter, silakan mencoba puncak Kukusan. Bagi yang ingin camping boleh banget. Atau, bagi yang hobi selfie atau foto-foto di tengah-tengah pohon teh, silakan saja. Banyak spot foto yang memang sengaja dirancang buat mereka yang hobi berfoto ria.
SINGKAT kata, perjalanan kami kali ini adalah duduk dari satu warung ke warung lainnya, mencoba dari satu kopi ke teh dan ke kopi lainnya. Saya bisa bilang bahwa Puncak Suroloyo dan Puncak Nglinggo adalah the most exotic place to drink coffee and tea, karena pemandangannya yang indah, hawanya yang sejuk, dan lokasinya yang jauh dari keramaian. Mungkin ada yang tertarik minum teh/kopi saat sunrise atau saat malam bulan purnama? Sound a good idea!
Wanna try? It's always a good thing to explore new things!
Overall rating : 8
Tingkat kesulitan : 3
Suitable for kids : Absolutely yes!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar