}

Jumat, 29 Desember 2017

CERITA TENTANG LUTUT: PASCA OPERASI ACL MINGGU PERTAMA

HOLA! Lama nian tak update konten blog. Bukan karena sudah malas jalan-jalan dan berpetualang dengan si kecil sih, kita masih tetap jalan-jalan selama ada kesempatan (dan alhamdulillah kita nggak pernah kekurangan kesempatan, apalagi libur akhir tahun seperti ini). But now, instead of berbagi cerita dan foto-foto cantik tentang jalan-jalan dan liburan, aku pengen sedikit berbagi cerita yang sedikit banyak agak nyambung dengan aktivitas jalan-jalan, yaitu tentang lutut dan sekitarnya. Jadi ceritanya nih, akhir bulan November kemarin, tepatnya tanggal 29 November, ketika Jogja sedang seru-serunya dilanda badai Cempaka, aku jatuh dari motor di sekitaran Jalan Kaliurang. Kayaknya sih luka luar yang nongol ringan saja, tapi aku emang kerasa ada sesuatu yang aneh dengan lutut kananku. Pas ketika jatuh emang si lutut ini kena aspal duluan, dan sakitnya luar biasa, dan ketika kupakai jalan rasanya lutut kananku goyang-goyang kanan kiri semacam nggak stabil gitu, plus nggak bisa diluruskan karena sakit banget. Karena merasa agak cemas dan butuh kepastian macam anak gadis udah lama dipacarin, akhirnya dengan dianter temen aku periksa ke RS. Panti Rapih yang emang nggak terlalu jauh dari TKP. Setelah diperiksa sana-sini sama dokter jaga IGD, ditekan dan dipencet-pencet di banyak bagian, disuruh rontgen dan menunggu agak lama, eh tiba-tiba si Mbak dokter muncul ditemenin sama bapak-bapak dokter tua berambut putih. Aku yang tadinya udah cengengesan jadi berasa agak-agak khawatir nih, apalagi ketika si Mbak dokter ngeluarin hasil rontgen dan bilang kalo ada yang aneh dengan tulang lutut aku, makanya beliau mengkonsultasikannya dengan dokter spesialis orthopedi, Pak Bambang Kisworo, yang tak lain tak bukan adalah bapak dokter berambut putih tadi. Lalu jreng jreeeng... datanglah berita buruk itu. Pertamanya sih beliau menerangkan tentang struktur lutut dan lain-lainnya, dan kemudian bilang bahwa dari hasil rontgen aku otot ACL aku, yaitu otot yang menghubungkan antara tulang tibia (tungkai bawah) dan femur (paha atas) putus, dan satu-satunya jalan adalah dengan operasi. Deng doooonggg... berasa kayak disambar petir deh pas denger om dokter ngomong gitu. Pas itu aku nggak tau sih tentang operasi ACL dll (cuma denger-denger aja dari berita kalo beberapa pemain sepak bola pernah ada yang operasi macam gini), tapi yang langsung terbayang di mata adalah khawatir kalo aku nggak bisa jalan-jalan dan melakukan olah raga lagi (secara kan aku mengklaim diriku physically active). Yang aku bayangin juga adalah ribetnya operasi dll-nya, karena harapan aku kan si dokter bilang kalau aku baik-baik saja dan bisa ditanggulangi sama tukang pijet. Si dokter bilang, kalo nggak dioperasi tar lutut kamu nggak akan stabil dan bisa goyang-goyang kesana kesini, which is aku nggak boleh olahraga berat atau melakukan aktivitas kaki yang berlebihan (kebayang dong gimana rasanya jadi 'pengangguran' saat liburan kalau nggak boleh naik gunung lagi). Jadi pada intinya, pak Bambang Kisworo, doktor orthopedi itu, membuatkan janji untuk operasi ACL secepatnya, yang nantinya akan dipasang pen di bagian lutut untuk ngiket tuh otot (or something like that), dan sebelum dioperasi, kaki kananku sama sekali tidak boleh dibuat menapak, alias aku harus pake kruk kemana-mana. Untuk memastikan kerusakan lain lagi, Dokter Bambang juga memeriksa lutut kananku, untuk memastikan apakah ada meniscus yang robek atau ada kerusakan lainnya, yang untungnya hanya ACL aku yang perlu direkonstruksi. Beliau juga memberiku tablet ketorolac, yang diminum kalau kakiku berasa sakit banget.   

SINGKAT kata, setelah perjalanan panjang mengurus asuransi dan lain-lain yang cukup bikin stress,  dua minggu kemudian aku kembali ke RS. Panti Rapih. Aku dijadwalkan operasi ACL Genu Dextra hari Kamis, tanggal 9 Desember 2017, yang karena ada alasan emergency lainnya (dokter Bambang harus melakukan rekonstruksi tulang dengan luka terbuka) akhirnya operasi harus diundur tanggal 10 Desember 2017, dan dijadwalkan akan dimulai jam 1 siang. Oke baiklah, asalkan segera ada kepastian dengan lututku tak apalah mundur sehari. Selama waktu menunggu itu juga aku diperiksa oleh dokter anestesi, melakukan foto thorax, diukur denyut nadi dan asupan oksigen, tes alergi terhadap antibiotik, dipasang infus dll, to make sure that I'm ready for the surgery. Mbak perawat juga berpesan supaya aku tetep harus banyak minum supaya tubuh tidak kekurangan cairan.

Officially jadi pasien! 

SESUAI prosedur biasanya, 6 jam sebelum operasi aku sudah disuruh puasa. Lalu jam 1 kurang 20 menit, 2 mbak perawat cantik dan baik hati menjemputku dari bangsal dan mengantarku ke ruang persiapan operasi. Di sana kembali data-dataku dikonfirmasi, dan ditanyai apakah aku sudah tahu operasi apa yang akan kulakukan, prosesnya seperti apa saja, sudah dijelaskan sama dokter atau belum dll. Beberapa saat menunggu, akhirnya aku dibawa ke ruang operasi. Pertama dokter anestesi yang menemuiku, menjelaskan kalau aku akan dibius spinal dengan suntikan di tulang belakang, yang nantinya akan membuat bagian pinggul ke bawah serasa mati rasa. Bagi yang pernah operasi caesar, kira-kira nanti rasanya akan semacam itulah. Beberapa saat setelah dibius, aku mulai merasakan kedua kakiku berat dan serasa kesemutan, dan aku nggak bisa mengangkat atau menggerakkan kedua kakiku. Otot perut bagian bawah juga semacam kayak nggak ada tenaga, macam kalau kita mau pingsan gitu, jadi pas saat batuk-batuk kesedak oksigen rasanya macam nggak enak banget deh, seperti nggak punya tenaga untuk mengontrol tubuh bagian bawah. So singkatnya, operasi dimulai jam 2. Aku nggak bisa melihat langsung sih prosesnya, karena tubuh bagian bawah dihalangi tirai gitu, sementara dua tanganku diiket di samping macam disalib jadi gak bisa dipake buat menyibakkan tirai ngintip2 dikit (tapi baguslah, takut aku pengsan kalo bisa lihat apa yang dilakuin sama lututku). Meskipun begitu, mata aku masih melek dan aku masih bisa merasakan dikit-dikit pas lututku disobek (gak sakit sih, cuma kerasa macam disenggol-senggol pake bulu), pas kaki kananku ditekuk-tekuk dan diiket-iket, juga pas dokter Bambang bekerja pake bor dll buat pasang pen di lututku plus kecium juga bau-bau sedikit gosong gitu pas tulang aku dibor (alamak!). Jam 3 sore pas operasi selesai, dan dokter Bambang bilang oke done, setelah ini ke ruang pemulihan dulu trus kembali ke kamar. Abis itu boleh langsung makan (yeay! padahal sebenernya aku juga kagak minat makan saking campur aduk perasaanku). Beliau juga berpesan, 24 jam bed rest dan hari berikutnya latihan jalan n berikutnya bisa pulang hari Minggu. Yeay! Seneng dong berasa singkat aja prosesnya.  

Penampakan kaki pasca operasi. Masih bisa foto-foto nih karena kaki belum kerasa sakit

AKU nunggu agak lama di ruang pasca operasi, sekitar hampir 1 jam, sampai kemudian mbak perawat yang baik hati kembali membawaku ke bangsal. O ya, sebelum balik ke kamar, aku disuntik ketorolac untuk pereda nyeri (which is saat itu aku belum berasa nyeri sih karena masih dalam pengaruh bius). So then aku kembali ke kamar, senyum-senyum ditemenin suami, dan langsung makan dengan lahap. Pas itu aku masih merasa baik-baik saja. Kaki kananku dibalut elastic bandage dari tengah paha sampai tengah betis, dan nothing feel wrong in my right foot kecuali rasa kebas akibat pengaruh bius spinal. Tapi sumpah deh, dibius itu ternyata nggak enak banget! Kulit rasanya tebel dan berat, dan pas kita coba garuk-garuk karena gatal, gak terasa blas tuh garukan, macem gatelnya ada di dalem lapisan lemak tebal di bawah kulit! Nah, baru setelah 2-3 jam kemudian, abis biusnya mulai berkurang, aku mulai berasa kakiku mulai berdenyut-denyut sakit dan panas gitu. Pertamanya sih biasa aja, tapi lama kelamaan tu sakit semakin berasa mengganggu karena terus menerus nggak ada berhentinya. Sakitnya sih, kalau kata aku, mungkin biasa aja dan tertahankan kalau cuma 1 atau 2 menit, atau paling gak 5 menit lah, macam kalau kita keiris pisau jarinya. Tapi karena perihnya itu terasa terus menerus tanpa berhenti, hewdeeewhhh... berasa mo nangis deh. Mana gak boleh duduk pula, cuma bisa guling kanan miring-miring sambil meringis. Sumpah deh, abis operasi itu aku semalaman nggak tidur, nangis dikit-dikit saking nggak tahannya. Kata mbak perawatnya, tar jam 12 malam aku bakalan dikasih pereda rasa sakit, tapi sumpah tuh obat kayak nggak ada efeknya. Sakitnya nggak juga reda, yang ada malah terus berasa perih dan panas yang bikin sedih minta ampun (aku lupa apa nama obatnya, tapi yang jelas bukan ketorolac). Aku sudah mencoba melupakan rasa sakit dengan mencoba bermeditasi dan memusatkan konsentrasi sama musik pengiring meditasi melalui aplikasi insight di iphone aku dan berbekal headset, tapi gagal, rasa sakit luar biasa di kaki bagian kanan berhasil mengalahkan konsentrasi aku untuk bermeditasi. Walhasil, semalaman itu beneran aku nggak tidur dan nangis sedikit-sedikit melegakan hati. Dari artikel yang aku baca kemudian, ada yang bilang kalo operasi ACL itu lebih menyakitkan daripada melahirkan. Well, tepatnya 5 tahun kurang sehari yang lalu, tanggal 9 Desember 2012, aku juga mengalami kesakitan luar biasa selama 12 jam lebih akibat kontraksi pas melahirkan Qori. Its way more painful sih sebenernya (secara aku merasa hampir pengsan pas jam-jam terakhir mau melahirkan, sampe keringetan dingin akibat nahan sakit), tapi kalau dalam proses melahirkan, ada jeda antara kontraksi satu dengan lainnya. Nah, di operasi ACL ini, sakitnya lunar binasa dan berasa nggak ada jeda, dan yang parah lagi nggak tau pula ini selesainya kapan. Plus, aku juga berasa nggak bisa mengalihkan perhatian dari rasa nyeri dengan membayangkan hal-hal lain selain rasa sakit tadi, jadi teknik pengalihan perhatian yang biasanya berhasil di aku berasa gagal total deh. 

SINGKATNYA, pereda rasa sakit diberikan setiap 8 jam sekali. Pas aku bilang kalau obat semalam nggak mempan blas, akhirnya si mbak perawat kembali ngasih aku ketorolac, yang ternyata lumayan manjur juga. At least selama 8 jam ke depan kamu akan merasa sedikit "enakan" lah, bisa senyum-senyum n makan-makan tanpa mikirin nyeri. Aku juga sudah mulai bisa menggerakkan telapak kaki, pakek gerakan pilates macem point en release gitu untuk mengurangi kekakuan kaki. Sehari setelah operasi, dokter Bambang nengokin, dan nyuruh aku menekuk lutut dari posisi tidur. Wedeeewwww... rasanya warbiyasah sakit dan kaku gak ketulungan! Kata Dokter Bambang sih udah lumayan itu kaki nekuknya, walopun rasanya sakit warbiyasahhhhh (padahal aku masih dalam pengaruh ketorolac lho!). Beliau bilang "nanti latihan jalan ya sama petugas fisioterapi, dan sekarang mulai latihan nekuk kaki". Widiwh, ngomongnya enak banget dan semacam optimis banget pasti bisa, tapi begitu si mbak fisio datang, alamaaaaakkkkk.... ampuuuunnnn! Buat turun dari tempat tidur aja rasanya kayak ni kaki disayat-sayat pakek seribu piso. Mana mbaknya super tega pulak (kayaknya emang protap dia harus tega deh), si mbak nyuruh aku nglurusin kaki sambil ongkang-ongkang di pinggir bed, dengan dia pegangi sih (tapi tetep ajah sakit banget boook!!!). Then akhirnya aku dipaksa jalan pake walker dengan tertatih-tatih ("diangkat ya mbak, jangan diseret", which is kata gue, alamaaaak, gini aja sakit bangettttt!). Si mbak bilang dalam dua minggu ini target aku adalah bisa menekuk 120 derajat (dari posisi berdiri lalu tungkai ditekuk ke belakang), dan dalam beberapa minggu ke depan bisa nekuk normal. Dia juga bilang supaya aku berlatih meluruskan kaki (flexion) yang juga sama menyakitkannya dengan menekuk kaki, hahaa... Dan pesannya si Mbak, harus dipaksa latihan sendiri, karena keberhasilan sangat tergantung sama usaha kita. Kalau misal sakit banget, 20 menit sebelum latihan bisa minum ketorolac supaya lebih tertahankan rasa sakitnya. Tapi sumpah deh, latihan jalan pertama ini beneran bikin aku berkeringat dingin dan berkunang-kunang macam mau pingsan saking sakitnya. Juga ketika pagi berikutnya aku nyoba turun dari bed dan mo ke kamar mandi dengan susah payah, kembali aku berkunang-kunang gak jelas mo pengsan saking sakitnya. So, setelah itu, atas anjuran mas bojo, aku bisa mulai latihan kaki setelah minum ketorolac, karena percuma juga kalau sakit banget secara psikologis aku jadi bakalan malas gerak. 

HARI Minggu siang akhirnya aku sudah diperbolehkan pulang. Dokter Bambang pesen supaya selama 1 bulan ke depan aku tetap pake kruk tapi kaki sudah boleh napak dikit-dikit. Kontrol selanjutnya satu minggu ke depan, dan ketorolac tetap diminum rutin sampai 3 hari ke depan. Jangan lupa latihan dan nggak boleh malas (maaaak, kalo sakit macam gini jadi malas pula aku berlatih). So, Minggu siang itu, dengan ditemenin suami plus geng hore-hore kantor, aku kembali ke rumah yang sudah sangat kurindukan. Jangan tanya gimana proses aku naik dan turun dari mobil ya, penuh tangis dan air mata pokoknya. Dan selama 5 hari pertama setelah aku pulang, rasanya udah kayak orang nggak bisa ngapa-ngapain deh. Yang jelas sih emang aku malas beranjak dari kamar (turun dari tempat tidur aja rempong jaya). Ibaratnya nih, sampe pipis en bab aja aku pake pispot, saking susah (dan malas kesakitan sih). Tapi dari hari ke hari aku makin merasa ni kaki makin enakan sih. Masih sakit di bagian lutut dan betis kalo dilurusin atau ditekuk dalam sudut yang nggak tepat, tapi at least nyeri-nyeri macam disayat sembilu itu sudah jarang muncul. Kabar baiknya, sekarang aku juga sudah bisa berdiri dengan kedua kaki, walau kaki kanan belum boleh napak 100%. Hari keempat aku udah bisa mulai jalan sendiri ke kamar mandi dan mandi keramas dengan bahagia, walaupun masih kesulitan kalo harus naik turun tempat yang lebih tinggi (di beberapa bagian rumah gue ada tempat yang dibikin agak lebih tinggian dari yang lainnya). Tapi lama kelamaan aku mulai lancar jalan dan sudah nggak tergantung lagi sama ketorolac. Selama menunggu waktu kontrol tanggal 14 Desember, latihan yang kulakukan adalah menekuk dan meluruskan kaki di tempat tidur sambil berbaring rebahan. Aku masih belum bisa duduk ongkang-ongkang di pinggir tempat tidur seperti yang disarankan mbak fisio (karena masih sakit banget, mentally aku belum siap mencoba). Menekuk kakipun masih sedikit-sedikit karena lutut berasa kaku banget, plus bengkak di bagian lutut, betis dan telapak kaki. Tapi sesering mungkin aku menggerakkan pergelangan kaki (point and release), meluruskan kaki di tempat tidur dan terus mencoba latihan menekuk. Dari browsing-browsing yang kudapat selama tergolek tak berdaya di tempat tidur, dua hal yang harus dilatih dalam 2 minggu pertama pasca operasi ACL adalah flexion dan flexibility. Sempet agak down juga sih lihat video-video post ACL surgery, secara banyak dari mereka yang seminggu pasca operasi aja udah bisa jalan en ngangkat-ngangkat kaki macam tak terjadi apapun dan tak merasakan apapun. Lah aku, mo turun dari tempat tidur aja setengah mati, apalagi naiknya (harus dibantu diangkat pake tangan boooo, kalo gak kagak kuat). Udah kebayang aja juga tuh gimana nih nanti nasib jogging dan pilates aku. Iya sih dokter Bambang bilang tar juga bisa back to the field asal sabar dan terus disiplin latihan, tapi ini hati dan pikiran udah nggak sabar aja pengen jalan-jalan. Mana tanggal 3 Desember Star Wars udah rilis di bioskop pulak! Jadi nih, selama menjelang kontrol tanggal 14 Desember itu, aku beneran rajin latihan jalan n melatih flexion dan flexibility aku dengan satu alasan: abis kontrol aku mo nonton Star Wars di bioskop! Aku udah bosen tingkat dewa terkurung di rumah dengan pergerakan yang hanya terbatas dari kamar ke kamar mandi doang hilir mudik! 

Susahnya sekadar mo melangkahkan kaki aja.

JADI singkatnya, selama abis operasi sampai seminggu, 4 hari pertama aku beneran nggak beranjak dari kamar (sakit dan malas gerak sih). Jadi you know what I did? Baca novel, gambar-gambar, main gitar, browsing artikel en yutup tentang post ACL recovery program plus stalking IG n facebook orang-orang n eksis di grup wasap (wekekeeeew... produktif banget kan hidup gue!). Niat hati sih mo sok-sok buka laptop en bikin artikel jurnal gitu, tapi entah kenapa begitu buka laptop yang ada kepala pening dan mata berair (tapi kalo nonton film nggak pening, oh nooo...!). 

SO, that is what I want to share tentang ACL surgery aku. Minggu depan aku bakalan ngoceh lagi tentang progres kemajuan pasca operasi di minggu ke dua, karena pada dasarnya aku mulai tracking down progres recovery aku setelah ketemu lagi sama dokter Bambang. Yang jelas sih aku bertekad bulat harus konsisten dan disiplin, karena aku pengen bisa segera physically active dan menjelajah dunia lagi! 

Its always a good thing to see (and to experience) new things!      
            

Jumat, 17 Februari 2017

ANTARA KOPI, TEH DAN NAIK GUNUNG: MENJELAJAH MENOREH DI PUNCAK SUROLOYO DAN KEBUN TEH NGLINGGO

HOLA para ibuk-ibuk petualang! Kali ini saya membuat catatan perjalanan yang sedikit tidak melelahkan, alias nggak terlalu susah trekking-trekkingan dengan krucils. Ceritanya nih, minggu ini kami memutuskan untuk sedikit "berdamai" dengan kondisi fisik yang sudah cukup menua (baca: gampang lelah). Jadinya, kami menjanjikan ke Mbak Qori kalau kita tetap akan jalan-jalan petualangan tapi yang sedikit saja jalannya tapi masih tetap enak buat nongkrong dan menikmati keindahan alam. Nah, kalau ini yang kalian cari, we highly recommend you to explore Puncak Suroloyo, yang merupakan titik tertinggi dari deretan perbukitan Menoreh. Sebenarnya kami sudah agak sering menjelajah Perbukitan Menoreh ini untuk beberapa proyek pribadi (petualangan keluarga sih lebih tepatnya), jadi kami punya banyak sekali stok spot-spot menarik di sekitar Menoreh. Nah, Puncak Suroloyo ini merupakan salah satu yang paling mudah dijangkau dan paling umum dikunjungi wisatawan. Plus, bagi para penyuka kopi atau teh, ini bisa jadi alternatif wisata kopi dan teh yang menjanjikan, dan ini memang tujuan utama kami datang kemari. 



Puncak Nglinggo. Cantik ya!



Perbukitan Menoreh di tengah-tengah kabut. 



PERBUKITAN Menoreh sebenarnya membentang di 3 wilayah Kabupaten: Magelang, Kulon Progo dan Purworejo. Secara administratif, Puncak Suroloyo ini masuk wilayah Kabupaten Kulon Progo, meskipun bisa dicapai dari arah Jogja maupun Magelang. Ada beberapa alternatif untuk mencapai tempat ini: Melalui Kecamatan Samigaluh di Kulonprogo, melalui rute Borobudur, dari pertigaan Pasar Jagalan, Kulon Progo, atau bisa juga dari jalur Kebun Teh Nglinggo, Samigaluh. Keempat rute alternatif tersebut cukup mudah dijangkau dengan motor maupun mobil, dengan jalan aspal yang cukup mudah dilalui. Nah, menurut cerita nih, Puncak Suroloyo ini disebut-sebut sebagai titik tengah tanah Jawa (sebenarnya banyak juga sih bukit-bukit dan gunung-gunung di Jawa yang mengklaim diri mereka sebagai pusatnya tanah Jawa). Tapi kata legenda lagi, tempat ini juga merupakan pesanggrahannya 'Ki Semar' (yang dalam beberapa cerita Jawa disebut juga sebagai penjelmaan Batara Guru, atau pimpinan para dewa). Nah, di tempat inilah, menurut legenda, Ki Semar mengasuh anak buahnya, Petruk, Bagong, Gareng serta para ksatria Pandawa (mungkin ini juga yang menjelaskan kenapa terdapat patung Punakawan di puncak Suroloyo). Kalau cerita yang masih berbau sejarah valid sih, konon, berdasarkan kisah dari Kitab Cabolek karya NGabehi Yasadipura, suatu ketika Mas Rangsang (atau yang kemudian disebut sebagai Sultan Agung, raja Mataram), mendapat wangsit untuk berjalan kaki dari Keraton Kotagede ke arah barat. Mas Rangsang kemudian menuruti wangsit tersebut, dan sampailah beliau di Puncak Suroloyo ini. Karena lelah setelah menempuh perjalanan jauh, Mas Rangsang kemudian tertidur, dan dalam mimpinya beliau mendapatkan wangsit lagi untuk membangun pertapaan di tempat tersebut. Maka dibangunlah pertapaan tersebut, yang saat ini diyakini sebagai sebuah batu besar yang terdapat di Puncak Suroloyo.   

Warung kopi Suroloyo. Kopinya enak punya!

Geblek, makanan khas Kulon Progo yang terbuat dari ketela. 
Para Punakawan, Semar dan murid-muridnya. 


SEPERTI yang saya sebutkan tadi, Perbukitan Menoreh memiliki beberapa tujuan wisata yang layak dicoba.Di sekitar Puncak Suroloyo sendiri, terdapat Puncak Sariloyo dan Puncak Kaendran yang letaknya berdekatan. Ada juga Puncak Kendil yang lebih menantang, Punthuk Gajah Mungkur, Sendang Kadewatan, Sendang Widodaren. Bagi yang ingin sedikit mendaki, bisalah naik-naik ke puncak bukit dengan tidak terlalu bersusah payah. Sudah ada anak tangga yang - walaupun terjal, tapi tidak begitu melelahkan (kecuali bagi yang gendong anak ya!). Bagi para pemburu sunrise dan sunset, tempat ini juga recommend banget, karena mudah dijangkau plus banyak warung dan camping ground dengan fasilitas yang lengkap. Nah, karena tujuan petualangan kali ini adalah wisata kopi dan teh, maka kami nggak terlalu ingin naik-naik ke puncak bukit. Selain karena sudah pernah, saat kami ke sini hari juga sedang mendung luar biasa. Jadi ya sudahlah. 

Arabica susu. Ini favorit saya!

Puncak Kendil. Bagi yang bosan duduk-duduk minum kopi dan butuh menggerakkan badan. 


KOPI Suroloyo mungkin belum begitu dikenal di kalangan pengopi Indonesia. Konon alkisah, kopi Suroloyo ini dibudidayakan dan diolah oleh penduduk setempat secara kolektif, untuk kemudian didistribusikan ke berbagai kota di Indonesia. Ada dua jenis kopi yang ditawarkan, Arabica dan Robusta, yang rasanya ciamik punya. Di Puncak Suroloyo, terdapat beberapa warung yang menyediakan kopi bagi para pengunjung, fresh grinding dari biji kopi grade 1. Favorit saya adalah Arabica susu, menurut saya, perpaduan antara pahitnya kopi, dengan sedikit rasa asam yang pas bisa benar-benar memanjakan lidah dan membuat bahagia luar biasa (dan inilah salah satu alasannya kenapa kami sering ke tempat ini - karena rindu kopi Suroloyo). Bagi yang tidak terlalu suka rasa asam khas Arabica, bisa mencoba Robusta Suroloyo, yang menurut saya rasanya juga luar biasa. Apalagi ditambah dengan geblek hangat, makanan khas Kulon Progo, rasanya betah saja mau duduk berjam-jam di tempat ini sambil menikmati pemandangan yang juga luar biasa. Bagi yang tertarik untuk meminum kopi Suroloyo di rumah, bisa juga kok beli kopi dalam kemasan. Cukup murah, untuk setiap 65 gramnya, Robusta Suroloyo dibandrol harga 13 ribu rupiah saja, dan Arabica Suroloyo 18 ribu rupiah. Tapi, bocoran dari mas baristanya nih, kopi kemasan ini adalah kualitas cinderamata alias grade 2, dipilih dari biji kopi yang kecil-kecil dan tidak lolos sortir untuk kopi grade 1. Tapi jangan khawatir, kalau kalian ingin kopi kualitas atas, bisa kok pesen untuk beli biji kopinya dan digiling sendiri di rumah. Kalau pendapat saya pribadi yang sudah mencoba Arabica dan Robusta dari 2 grade yang berbeda, saya lebih cocok Arabica grade 2 alias grade oleh-oleh, karena di lidah saya, rasa asem dan pahitnya kopi lebih pas dan lebih cucok dengan selera saya. 

Nglinggo. Cantik ya!

Yuk mari yang ingin offroad!
Jalanan sepanjang Kebun Teh Nglinggo. 
Jalanan sepanjang Kebun Teh Nglinggo. 


TIDAK suka atau tidak bisa minum kopi? Jangan khawatir, Perbukitan Menoreh masih punya alternatif lain kok! Cukup dengan melanjutkan perjalanan sekitar 30 menit dari Puncak Suroloyo, kita akan sampai ke Kebun Teh Nglinggo yang terletak di Kecamatan Samigaluh. Sepanjang perjalanan dari Puncak Suroloyo ke Kebun Teh Nglinggo, pemandangannya luar biasa, udaranya sejuk, dan jalannya cukup mudah dilaui dengan mobil maupun motor. Namanya juga kebun teh, jadi alih-alih kopi, kita akan menemui teh dimana-mana. Nggak cuma kebunnya yang indah dipandang mata, tapi kita bisa juga mencicipi teh khas Nglinggo, yang diolah secara tradisional oleh ibu-ibu setempat, dan diminum hangat-hangat sambil menikmati pemandangan yang romantis punya. Gimana nggak romantis, dari Puncak Nglinggo ini, kalau hari sedang cerah, kita bagaikan dikelilingi oleh gunung-gunung raksasa: Merbabu, Merapi, Sumbing, Ungaran. Belum lagi lekuk-lekuk indah perbukitan Menoreh yang menjadi latarnya, nggak kalah deh dengan pemandangan di luar negeri! Rasa tehnya sendiri menurut saya lumayan enak, segar dan tidak terlalu sepet. Jangan khawatir, sepanjang jalan di puncak Nglinggo ini banyak terdapat warung-warung yang menyediakan teh dan makanan lainnya kok, jadi kita bisa berlama-lama nongkrong sambil ngobrol. Bagi yang berminat untuk dibawa pulang buat oleh-oleh, bisa kok membelinya, dengan harga cukup 7000 rupiah sekantongnya. Perlu diingat, teh Nglinggo ini masih diolah dan dikemas secara sederhana, jadi begitu sampai rumah saya menyarankan supaya disimpan di tempat yang kedap supaya bau dan rasanya tidak hilang walau sudah disimpan lama. Atau, kalau ada yang tertarik mencoba teh putih, bisa juga beli dengan harga 20 ribu rupiah sekantong kecil (yah, kira-kira 2 sendok makan lah banyaknya). Mahal amat ya? Haha. Kata ibunya sih teh putih ini berkhasiat sebagai obat untuk macam-macam penyakit, diambil dari pucuk paling pucuk dari daun teh, dipetik harus saat sebelum menjelang matahari terbit (hawdewh), dan diolah dengan cara khusus, tidak boleh dijemur langsung di bawah sinar matahari. Pantas harganya mahal yak! 


Ngeteh bersama. Ini yang namanya wisata dari warung ke warung!

BOSAN duduk-duduk ngeteh doang? Eits, jangan khawatir, banyak spot menarik kok di Nglinggo, dan tidak kalah menarik dari Suroloyo. Bagi yang suka trekking atau sunrise hunter, silakan mencoba puncak Kukusan. Bagi yang ingin camping boleh banget. Atau, bagi yang hobi selfie atau foto-foto di tengah-tengah pohon teh, silakan saja. Banyak spot foto yang memang sengaja dirancang buat mereka yang hobi berfoto ria. 

SINGKAT kata, perjalanan kami kali ini adalah duduk dari satu warung ke warung lainnya, mencoba dari satu kopi ke teh dan ke kopi lainnya. Saya bisa bilang bahwa Puncak Suroloyo dan Puncak Nglinggo adalah the most exotic place to drink coffee and tea, karena pemandangannya yang indah, hawanya yang sejuk, dan lokasinya yang jauh dari keramaian. Mungkin ada yang tertarik minum teh/kopi saat sunrise atau saat malam bulan purnama? Sound a good idea! 

Wanna try? It's always a good thing to explore new things!

Overall rating : 8 

Tingkat kesulitan : 3
Suitable for kids : Absolutely yes! 

Kamis, 09 Februari 2017

TREKKING PUNCAK GIYANTI MAGELANG: BAGI YANG MERINDUKAN SENSASI NAIK GUNUNG

YEPS, buat mak-mak berbuntut yang merindukan sensasi naik gunung sambil mengajak kiddos menjelajah hutan belantara yang menantang dan mengasyikkan tapi masih tetap tidak merepotkan, saya kira Puncak Giyanti adalah perfect place to make your dream comes true. Terletak di antara perbukitan Giyanti di wilayah Kecamatan Windusari, jalur trekking ini bisa dibilang masih baru, baru sekitar 3 bulan dibuka untuk umum dan mulai dikunjungi para wisatawan (baca: petualang). Sebenarnya kami menemukan tempat ini dengan tidak sengaja juga. Kebetulan kami sedang mengunjungi Candi Selogriyo yang tersembunyi diantara perbukitan Giyanti (remember me to post this story of Selogriyo, this place is absolutely awesome!) saat tanpa sengaja melihat setitik kecil bendera merah putih berkibar di puncak bukit, ditemani siluet tenda dome di sampingnya. Langsung deh kami penasaran, siapa kira-kira yang berkemah di puncak bukit yang jauh dari mana-mana itu. Nah, selidik punya selidik, dari informasi bapak penjaga candi, ternyata itu adalah Puncak Giyanti, jalur trekking baru yang baru saja dibuka seminggu yang lalu (kami mengunjungi Candi Selogriyo di akhir Nopember 2016 lalu). Langsung deh antena kami meninggi, dan mencatat trekking Giyanti sebagai the next destination to explore, diantara sekian banyak bucket list wisata puncak-puncak bukit lainnya yang ingin kami datangi.  


Perbukitan Giyanti yang indah dan hijau. The other perfect getaway lagi di daerah Magelang.

BUKIT Giyanti, atau mungkin lebih tepat disebut sebagai perbukitan Giyanti, terletak di lereng Gunung Sumbing di Kabupaten Magelang. Lokasi awal trekking Giyanti terletak di Desa Balesari, Kecamatan Windusari. Cukup mudah mencapai tempat ini. Dari arah Magelang, kita bisa mengambil arah Bandongan menuju arah Windusari. Desa Balesari sendiri terletak tidak jauh dari jalan masuk menuju Candi Selogriyo, sekitar 4 kilometer ke arah Barat (Arah Kecamatan Windusari). Kita bisa dengan mudah menemukan tempatnya karena sudah terdapat papan penunjuk yang cukup jelas untuk wisata Puncak Giyanti. Dari arah jalan besar, kita tinggal mengikuti jalan cor yang cukup bagus melalui tengah perkampungan, tinggal mengikuti arah papan penunjuk jalan menuju tempat parkir, rumah terakhir di kaki bukit sebelum kita mulai mendaki. Karena masih tergolong tempat wisata baru, tempat parkir yang disediakan masih berupa halaman rumah penduduk setempat, yang dikelola oleh pemuda setempat pula, yang dengan antusias bertanya kepada kami dari mana kami mengetahui lokasi trekking Giyanti ini. Di sini kita akan diminta untuk mengisi buku tamu dan membayar retribusi Rp. 2000,- per orang, sudah termasuk biaya parkir kendaraan (murah ya!). Kata masnya sih tempat ini sudah lumayan rame dikunjungi, terutama bagi para pemburu sunrise. Banyak pula yang camping di puncak bukit, terutama kalau malam Minggu atau hari libur (aha!). Masih menurut si mas penjaga parkir, kira-kira diperlukan waktu sekitar 1 jam sampai puncak (kecepatan normal), tapi berhubung kami membawa balita, kami mengestimasi waktu yang dibutuhkan paling tidak 2 kali lipat atau sekitar 2 jam. Si mas juga memperingatkan kami untuk berhati-hati, karena jalanan saat ini licin dan becek, dan karena masih jalur baru, beberapa bagian masih cukup sulit dilewati terutama kalau hari hujan seperti saat kami berkunjung ke sana. Satu hal yang bikin kami terkesan juga, penduduk sekitar ramah-ramah dan baik hati, ala masyarakat pegunungan yang sering kami temui! (ah, jadi kangen lagi nih saya dengan suasana gunung). 

Meet their life. Para pencari rumput yang gigih menjalani hari-hari mereka. 

Jalur pendakian menuju pos I. Masih lumayan enak buat jalan. 

JADI, setelah mengecek perbekalan dan peralatan tempur, jadilah kami mendaki Bukit Giyanti dengan bersemangat. Agak jiper juga sih, karena baru 5 menit jalan, selepas dari perkampungan, kami langsung dihadapkan dengan jalan setapak yang super duper becek dan licin lunar binasa! Untungnya Mbak Qori yang benci lumpur dan tempat kotor itu memakai sepatu (yang jadi penemuan canggih kami untuk mengatasi kerewelan Mbak Qori menghadapi medan yang becek dan berlumpur). jadi dia tidak terlalu mempermasalahkan ketika kami harus berbecek-becek ria. Kondisi seperti ini kami lalui sepanjang sekitar setengah kilometer, sampai akhirnya kami sampai di perbatasan hutan pinus di kaki bukit, tempat jalanan mulai menanjak dengan (agak) serius (walaupun di sana sini masih becek juga sih). Nah, dari kaki hutan inilah kami mulai merasakan sensasi 'naik gunung'. 

Bentar lagi pos I, semangat yak!

ADA dua pos pendakian yang harus kami lalui sebelum sampai puncak. Tidak terlalu jauh sih, masing-masing pos mungkin hanya berjarak sekitar 30 menit berjalan kaki dengan kecepatan normal. Di masing-masing pos ini disediakan bangungan semacam gubug kayu terbuka tempat istirahat (dan berfoto serta menikmati pemandangan), bangku-bangku kayu tempat selonjor, dan sumber air bersih. Lokasinya juga lumayan yahud dan pemandangannya juga enak dilihat kok. Pokoknya sudah kerasa lumayan tinggi deh. Jadi nih, bagi yang minat camping tapi tidak mau jalan terlalu tinggi, atau kebetulan puncak bukit sedang ramai, bisa kok menggelar tenda di Pos I atau Pos II. Lokasinya lumayan enak kok untuk buka tenda (walau nggak tahu sih, apa sunrise kelihatan dari sini). 

Pemandangan dari Pos I. Diambil sore hari pas kami turun, jadi nggak terlalu jelas deh. 

Masih ada Pos Dua. Semangat Kakak!


Menuju Pos II. Semangat Bapak!

Hutan kebon kopi. 

DARI kaki hutan sampai pos I diperlukan waktu sekitar 30 menit jalan kaki, dengan kemiringan yang - yah, lumayan lah (lumayan bikin capek maksudnya, hehe). Jalannya, walaupun ada beberapa bagian yang becek, tapi lumayan enak dilewati. Dari Pos I menuju Pos II juga sama, kemiringannya masih so so, medannya nggak terlalu berat untuk ukuran balita (at least Mbak Qori masih bisa menikmatinya). Selepas Pos II, jalanan agak mulai datar, dan kami melewati perkebunan kopi yang terletak di sela-sela pohon pinus. Kami sudah excited aja tuh melihat pohon kopi dimana-mana, berharap menemukan kopi khas Giyanti yang enak macam Kopi Suroloyo. Tapi, kata ibu di tempat kami parkir motor, kopi-kopi tersebut dikumpulkan oleh tengkulak dan diolah entah dimana. Kami pikir, setelah melewati punggungan bukit ini, kami akan segera sampai di puncak. Tapi ternyata kami salah besar! Begitu deretan pohon kopi habis, terdapat anak tangga yang dibuat dari potongan-potongan kayu yang terlihat masih baru, lumayan curam, menaiki satu lagi punggungan bukit. Kata mas-mas yang kami temui di jalan sih jaraknya masih lumayan jauh, yang bikin kami agak deg-degan juga karena tiba-tiba langit yang cerah berubah agak mendung. Tapi apa mau dikata sudah bertekad baja, kami melanjutkan perjalanan lagi. Dan benar saja, selepas jalan bertangga-tangga ini, kami masih harus memutari punggungan lagi, dan mendaki lagi, and here's the true challenge begin! Punggungan terakhir, jalan setapak menuju puncak yang harus kami lewati, lumayan terjal dan curam. Dengan Mbak Qori bersama kami, kami harus ekstra hati-hati memastikan supaya dia tidak salah langkah atau terpeleset ke bawah. Cerita jadi makin sulit lagi karena jalan setapak itu licin karena hujan. Bagi kami yang dewasa saja sudah harus mengeluarkan tenaga dan konsentrasi ekstra supaya tidak terpeleset, apalagi dengan tambahan balita bersama kami! 


Menuju puncak! 





AND finally, setelah sekitar 20 menit mblakrak-mblakrak (istilah masa muda kami untuk menggambarkan situasi dimana kami harus berjalan dengan segala cara dan upaya), sampailah kami di puncak! Yeay! Lebih gembira lagi karena ternyata di atas bukit ada warung sederhana yang menjual kopi dan teman-temannya (yang ini nih yang bikin Bapak girang setengah mati). Puncaknya, well, nggak seluas yang kami bayangkan sih (yang kata masnya bisa menampung 100 an tenda kalau pas ramai), tapi ini beneran puncak seperti puncak-puncak gunung itu! Haha... Dan dari atas sini, kami bisa melihat puncak-puncak perbukitan giyanti lainnya, termasuk bukit jambul yang memiliki bentuk yang khas itu. Surprisingly, ternyata dari atas kami bisa melihat Candi Selogriyo, tersembul dengan anggun di lembah di bawah kami, masih tersembunyi di antara kaki-kaki bukit Giyanti yang elok nian. Dan beneran lho di atas bukit ada tiang benderanya! 

Puncak! Yeay!
Candi Selogriyo dari Puncak Giyanti. Such a beautiful mystery!
Itu lho tiang benderanya!

Puncak tetangga.
1200 mdpl! Lumayan juga kan!
And its always a good thing to explore new things!


Warung kopi kesayangan Bapak.
Puncak! Puncak! Puncak!


PUAS jalan-jalan dan menikmati pemandangan yang spektakuler, kami memutuskan untuk turun. Si Bapak sudah cemas saja takut kemalaman di jalan, jadi dia mengultimatum maksimal jam tiga seperempat kami harus sudah mulai turun ke bawah. Well, membayangkan susahnya tanjakan terakhir sebelum puncak tadi bikin kami agak jiper juga sih, ngebayangin harus turun dengan menggendong Mbak Qori kalau tiba-tiba saja dia tidak berani (yang untungnya tidak perlu terjadi, karena dari mulai mendaki sampai turun Mbak Qori keukeuh dengan semangat no gendongnya, haha). Kata mas penjaga warungnya sih sebenernya ada juga jalur menuju Wonoroto dari puncak, tapi medannya agak sulit karena jarang dilalui (yang bikin mata kami berbinar-binar dan mencatatnya dalam the next destination). Oya, bagi yang berminat camping, jangan khawatir, warung puncak gunung ini buka 24 jam non stop, jadi kalau kebetulan tidak ada pendaki lain di puncak, jangan khawatir kesepian dan kekurangan suplai kopi atau mie! Atau, bagi para pemburu sunrise, jangan khawatir, si mas pasti dengan setia dan bahagia akan menyediakan kopi dan mie dan minuman hangat lainnya! 

Judulnya adalah: kotor dan bahagia!

PERJALANAN naik kami tempuh selama 2 jam, begitu juga perjalanan turun. Lama banget yak, haha. Seperti yang saya bilang tadi, jalan setapak yang kami lalui super duper licin dan becek dimana-mana, jadi kami harus ekstra hati-hati. Jadilah kami turun dengan kecepatan siput juga, sama seperti naiknya. Ada sih, adegan-adegan kepeleset beberapa kali, tapi yang bikin kami tenang sepertinya Mbak Qori lebih confidence ketika turun daripada ketika naik tadi, padahal menurut kami lebih sulit karena jalan yang ekstra licin dan tanjakan yang lumayan curam, terutama di trek menjelang puncak. Tapi, overall, perjalanan ini mengasyikkan dan bikin nagih. Selain jaraknya yang masih balita-able, medannya cukup menantang dan lumayan memuaskan adrenalin. Bagus juga untuk menantang keberanian anak-anak bereksplorasi di alam bebas.  

Nah, bagaimana? Wanna try? It's always a good thing to explore new things!

Overall rating: 9
Tingkat kesulitan : 8
Suitable for kids : moderate. 

Selasa, 07 Februari 2017

JURANG JERO: A PERFECT GETAWAY FOR SOLITUDE LOVERS

YEPS, bagi yang merasa butuh kedamaian, jauh dari suara dan hiruk pikuk modernisme, bisingnya lalu lintas mobil dan motor, ataupun sinyal HP yang membuat ponselmu bunyi tang-ting-tung tiap menit, I would definitely recommend this place for your short break vacation! Terletak di lereng Merapi dan masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu-Merapi, naga-naganya tempat ini sudah mulai dilirik para bikers dan motor crosser untuk touring dan menjelajah kawasan yang dulunya merupakan bekas jalan lahar dari kawah Merapi yang emang ciamik punya buat crossing-crossingan. Saya inget banget, waktu kecil Ibu pernah ngajak saya ke tempat ini, waktu tempat ini dulu masih berupa hutan setengah belantara dan belum banyak dikunjungi wisatawan. Yang saya ingat jaman dulu sih ada semacam monumen gitu di tengah hutan belantara ini, diresmikan dan ditandatangani sama Presiden Soeharto. Kata Ibu saya, tempat ini merupakan jalan lahar buatan (jadi dulu ada sabo dam yang saya inget dalaaaaaammmm banget), jadi semacam sungai buatan gitu laaah, untuk mengalirkan lahar sewaktu-waktu Merapi meletus (karena ini memang jalur lahar favorit sebelum letusan 94). Tapi apa nyana dikata, setelah jalan lahar ini selesai, ternyata sampai letusan terakhir tahun 2014, arah aliran lahar selalu mengarah ke Jogja (kecuali letusan tahun 2010), melewati Kali Gendol di Cangkringan sana. Beberapa tahun kemudian, waktu saya SMA, saya pernah juga pergi ke tempat ini bareng teman, dan kondisinya masih sama: jauh dari mana-mana (perkampungan terdekat sekitar 5 km jauhnya), jalannya jelek berbatu (iyalah, yang lewat situ cuma truk-truk pasir segede gaban), dan masih sunyi sepi menyejukkan. Bahkan, seinget saya dulu, kita bahkan harus menyeberangi sungai (literally) untuk bisa sampai lokasi dimana terdapat prasasti Soeharto ini. 




 Pemandangan Merapi dari arah Jurang Jero (sayangnya sedang berkabut jadi puncak Merapi tidak terlalu jelas). 


The old woman and her firewood. Tipikal pemandangan yang akan sering dijumpai di daerah pegunungan Indonesia.





Prasasti Soeharto, masih berdiri gagah saja sampai sekarang. 

SESUAI dengan namanya, yang kalau diterjemahkan literally adalah jurang yang dalam, objek pemandangan utama di tempat ini adalah jurang (atau lebih tepatnya sungai bekas aliran lahar) yang memang sangat dalam. Well, tidak sedalam yang saya ingat waktu terakhir kali saya datang ke sini sih, tapi tetap saja cukup dalam. Kata teman saya, wisata Jurang Jero ini mulai ngetren di awal-awal 2013an, dan mulai diserbu para wisatawan dan petualang yang hobi crossing-crossing-an, entah pake sepeda, motor, maupun jeep (meskipun ada juga sih wisatawan 'reguler' seperti saya yang niat utamanya adalah hiking dan mencari kesunyian). Bagusnya lagi, sebenarnya tempat ini tidak terlalu cocok untuk wisatawan super reguler ataupun wisatawan keluarga, karena sama seperti dulu, tempatnya tidak terlalu mudah dijangkau dengan kendaraan (mobil) biasa. Jalur yang paling utama untuk mencapai tempat ini adalah melalui Pertigaan Jumoyo atau Pertigaan Gulon menuju arah Srumbung. Buat yang bermobil, dari arah Srumbung menuju Desa Ngargosuko. Dari sini, kita harus menempuh jalan ekstra berbatu yang memang pada dasarnya digunakan sebagai jalur truk pengangkut batu dan pasir, yang panjangnya kira-kira sekitar 3 km (lumayanlah mengocok perut). Bagi yang bermotor, kita bisa mengambil rute memutar melewati perkampungan dengan jalan yang sudah dicor, lewat desa Tegalrandu. Fyi, jalan ini hanya cukup untuk satu jalur, sehingga dibuat pengaturan hanya mobil dari arah Jurang Jero saja yang bisa lewat jalur ini, dan tidak sebaliknya. 

SECARA umum sih saya bilang tempat ini tidak terlalu mudah dijangkau, karena tidak ada angkutan umum, tidak terlalu nyaman untuk mobil biasa (kecuali mobil off road). Kalau mau nyaman, saya menyarankan pakai motor saja - atau, kalau memang niat, bisa jalan kaki dari Ngargosuko. Tapi sulitnya akses menuju tempat ini sepadan kok dengan apa yang akan kalian dapat di sana! Seperti yang saya bilang tadi, tempat ini jauh dari mana-mana. Begitu sampai di lokasi, kita akan disambut dengan hutan pinus yang hijau, bau rumput dan udara yang menyegarkan, serta hanya terdengar suara angin, gesekan daun-daun, dan kicau burung di segala penjuru. There will be no modern noises kecuali satu dua motor atau mobil pendatang. Bahkan, sinyal HP-pun kembang kempis di tempat ini. Perfect paradise untuk mengasingkan diri pokoknya. 

TIKET yang harus dibayar adalah Rp.5000 untuk 1 motor dan Rp.10.000 untuk satu mobil. Begitu, sampai, kita akan mendapati kompleks bumi perkemahan yang memiliki fasilitas kamar mandi, musholla, serta ada beberapa warung (yang sayangnya tidak buka 24 jam non stop). Ada dua pilihan kalau kita sampai di tempat ini, wisata cantik (foto-foto dan selfie cantik) di kawasan wisata Randu Ijo, atau melanjutkan perjalanan sampai ke atas, ke tempat Monumen Suharto. Kalau kalian memilih yang pertama, tinggal meneruskan perjalanan ke arah barat sekitar 1 kilometer, kalian akan menemukan area Wisata Alam Berbasis Konservasi Kelompok Tani Hutan Randu Ijo. Ada warung menarik yang bisa jadi tempat nongkrong asyik di sana. Bagi yang doyan foto-foto, tersedia juga spot-spot ala-ala foto jaman sekarang yang bisa dicoba, lumayanlah buat upload-upload keren di sosmed, hehe... Overall, tempat ini menarik buat yang pengen duduk-duduk manis menikmati pemandangan alam tapi nggak pengen jalan terlalu jauh dan melelahkan. 


Wisata Alam Berbasis Konservasi Kelompok Tani Hutan Randu Ijo, buat yang doyan selfie dan foto-foto cantik. 


KARENA tujuan kami adalah untuk hiking, maka kami memutuskan untuk melanjutkan ke atas, menuju arah Monumen Suharto. Jadilah kami meretas hutan pinus dengan jalan setapak yang lumayan enak untuk dijadikan rute hiking. Bagi yang ingin bersepeda, tersedia juga jalur khusus yang cukup menantang untuk dicoba. Atau, bagi yang berkendaraan (motor atau mobil), silakan kembali menyusuri jalan-jalan penuh batu yang juga merupakan jalur truk pengangkut pasir (just imagine yourself how this road looks like). Yang saya suka dari trip Jurang Jero ini, jalur hikingnya enak banget! Tidak terlalu menanjak, tidak terlalu melelahkan, adem dan sejuk terlindung di sela-sela pepohonan, dan banyak yang bisa kita amati. Kita juga akan dimanjakan oleh suara burung dan angin yang bertiup di sela pepohonan. Bagi yang mengajak balita dan anak-anak, saya recommend banget jalur ini buat ber hiking ria keluarga. Untuk sampai ke Monumen Suharto, diperlukan sekitar 45 menit jalan kaki (sekitar 3 km dari tempat parkir). Di sini (lagi-lagi) kita akan ketemu juga dengan beberapa spot rumah pohon dan tempat-tempat 'kekinian' untuk foto cantik. 




Jalur trekking menuju Monumen Soeharto. Tidak terlalu menanjak dan cukup mengasyikkan buat kiddos.


MONUMEN Suharto sendiri terletak di lokasi yang terbuka, tempat kita bisa melihat 'jurang jero', jalur  sabo dam yang membentang ke arah Gunung Merapi di sebelah timur. Kalian bisa membayangkan sabo dam ini sebagai sungai lebar dan dalam yang di dalamnya penuh berisi pasir dan batu-batu, mulai dari yang sebesar kerikil sampai yang segede rumah. Sepanjang mata memandang, yang ada hanya deretan pepohonan, dam yang lebar, batu-batu besar. Well, suasananya tidak terlalu berubah sih seperti sejak saya terakhir datang ke sini - cuma (menurut perasaan saya) jurangnya tidak sedalam dulu lagi, karena mungkin sudah terisi material dari gunung Merapi. Sebagai informasi, katanya, letusan tahun 2010 kemarin cukup 'memporak porandakan' tempat ini, dan tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar aliran sabo dam hangus terbakar, walaupun sekarang sudah hijau kembali. 



Motor trail sepanjang jalur lava di dasar sabo. Wanna try?


River walk sepanjang aliran jalan lahar. Nice to try!





Wanna pics like this? It's totally cool!


BAGI yang doyan jalan, kalian bisa melanjutkan untuk terus ke atas, menyusuri dam raksasa ini sampai ke atas, yang berjarak sekitar 5 km dari Monumen Suharto. Kalian juga bisa berhenti di atas dam raksasa ini, dan merasakan betapa kecil dan mungilnya kita di antara kemegahan alam semesta (agak lebay sih, tapi this is what I really feel when I stand on this place). Kalian juga bisa bersepeda (onthel maupun motor) untuk menyusuri dam. Beberapa saya juga lihat ada yang menggunakan motor trail untuk turun ke dasar sungai. Atau, kita juga bisa jalan kaki menyusuri dasar sungai, sok-sok river walking gitu deh. Nggak ada airnya kok, karena dimana-mana hanya ada pasir, batu, batu, batu dan batu lagi. Tapi, kalau kalian pengen mencoba river walking, pastikan dulu hari tidak hujan dan Gunung Merapi berada dalam status aman ya, takutnya kalau tiba-tiba ada banjir lahar dari atas kalau pas hari hujan (yang begini ini sering kejadian, sampai-sampai ada beberapa truk dan penumpangnya yang ikut hanyut karena tidak sempat melarikan diri saking cepatnya banjir datang). And believe me, its worth it to try, untuk river walking maksudnya! Buat yang ngajak anak kecil, jangan khawatir - seperti yang saya bilang tadi, it's suitable for kids! At least, saya bisa bilang, Mbak Qori (4 y.o.), sangat menikmati perjalanan ini, dan hanya sesekali mengeluh capek yang langsung hilang lagi terkalahkan oleh semangat mengeksplorasi batu-batu segede gajah yang berserakan di mana-mana.




Menyusuri jalan lahar. Pengalaman yang berharga buat emak dan anaknya :) 




Mendaki dinding sabo dam. Meskipun dengan ketinggian sekitar 7 meter dan kemiringan 90 derajat, sepertinya Mbak Qori masih menikmatinya dan tetap ceria. 


SO, bagi mak-mak yang kelebihan adrenalin dan butuh sedikit 'tantangan' dan menggerakkan badan, i would say that this is a perfect getaway pokoknya. Kita bisa jalan-jalan, petualangan, dan tidak perlu khawatir medannya akan terlalu berat buat anak-anak. Juga, for those who need short breakout from your daily routine and modern life, I would definitely said that you must try this! Terutama sekali, saya suka its quietness, keterasingan dari dunia modern (nggak ada suara motor, mobil, hiruk pikuk manusia, sinyal hape, dll), sehingga selama 3 jam perjalanan menjelajah sabo dam, kita bener-bener akan terbebas dari kesibukan bermain HP dan upload-upload foto dan real time check-in on social media! 

Wanna try? It's always a good thing to explore new things!

Overall rating : 9 

Tingkat kesulitan : 6
Suitable for kids : Yes (with supervision).