}

Kamis, 25 Januari 2018

JANUARY REVIEW : COLONIA (2015)

Image taken from http://www.imdb.com/title/tt4005402/
REVIEW time for January! Film garapan Florian Gallenberger ini sebenarnya udah rilis tahun 2015 kemarin. Kebetulan dari hasil voting Friday Movie Club kami, nih film (or at least sinopsis dan thriller-nya) berhasil memenangkan hati para voter untuk tayang di Jumat siang minggu kemarin, menang tipis dengan Captain Fantastis - sebagai agenda rutin minggu bahagia kami. Sebenarnya sih aku nggak terlalu berharap-harap banyak dari Emma Watson, secara dari banyak film yang dia yang gue tonton kan kebanyakan drama-drama gitu yak (yah, walaupun aku cukup menikmati cerita dan karakter 'smart' dia sih). Yang jelas sih, meskipun dia no more Hermione Granger, sepertinya dari film-film dia yang lain yang aku tonton, kesan 'cewek pinter' semacam nggak bisa lepas dari karakter dia, termasuk pula di film Colonia ini. 

BERLATAR belakang kudeta militer Chile tahun 1973, Lena (Emma Watson), seorang pramugari pesawat Jerman Lufthansa, menyusul kekasihnya Daniel (Daniel Bruhl), pemuda berkebangsaan Jerman yang menjadi simpatisan Salvador Allende dan bergabung dengan gerakan pemuda simpatisan Allende di Santiago de Chile, ibukota Chile. Nuansa kudeta itu sendiri digambarkan sedikit di bagian awal film, ketika Daniel menerima telepon dari temannya mengabarkan kalau pemerintahan Allende telah jatuh dan Augusto Pinochet berkuasa. Merasa nggak aman berada di tempat tersebut (karena tentu saja Daniel sudah 'tercatat' sebagai simpatisan Allende meskipun dia berkewarga negaraan Jerman), dua kekasih itu kemudian keluar dari rumah. Di jalan, keadaan sudah benar-benar chaos: orang-orang dijajarkan dan ditangkap oleh militer, dipukul dll. Sementara Daniel dengan heroiknya (agak too much sih kata aku), menyelundupkan kamera dan memotret keadaan sekitar, sementara tentara masih berseliweran dan orang-orang berteriak ketakutan. Sebenarnya Lena sudah ngotot aja untuk pergi ke kedutaan besar or ke bandara menyelamatkan diri, tapi Daniel dengan gagah berani berkata bahwa 'kita harus mengabarkan ini pada dunia'. Lalu, dengan satu scene yang 'terlalu jelas', si Daniel berjalan mendekati kerumunan tentara sambil motret-motret (sepertinya sih pengennya kelihatan sembunyi-sembunyi, tapi ya itu tadi, 'terlalu jelas'). Gegara Daniel yang sok heroik itulah kemudian mereka ditangkap dan dibawa ke stadion (whic is sebelumnya tu dua pemuda sudah 'merengek-rengek' kalau mereka foreigner). Bersama penduduk sipil lainnya yang juga ditangkap, mereka dibariskan di stadion, lalu satu persatu mereka diidentifikasi apakah mereka ada hubungan dengan Salvador Allende atau tidak. Tiba giliran Daniel, bisa ketebak dong, kalau kemudian dia 'diciduk' dan dikenali sebagai si tukang bikin poster yang jadi simpatisan militan Allende. Nah, pas dia ditangkap itu, Daniel yang tadinya berlagak as urban hero merengek-rengek dan bilang kalau dia nggak boleh ditangkap, dia nggak ada hubungannya dengan sosialisme, dia orang Jerman dan bukan penduduk Chile dll, which is aku jadi mengerutkan kening, tiba giliran ada bahaya di depan mata, bisa aja ya orang berusaha menyelamatkan diri, bahkan dari sesuatu yang dulu mereka yakini sempurna dan membawa kepada kebaikan dan kebenaran (which is kalau dipikir-pikir manusiawi banget sih. Emang dipikir semua orang gagah berani macem Superman atau The Avenger yak?). 

SINGKAT kata, dibawalah si Daniel ini ke Colonia Dignidad, sebuah koloni Jerman nun jauh di pedesaan Chile sana. Disana dia diikat, ditelanjangi, disiksa, dipukulin, disetrum dll, sampai kemudian datanglah 'The Messiah', Paul Schafer (Michael Nyqvist), pemimpin sekte Colonia Dignidad. Daniel dirawat, diobati, dan dipekerjakan di Colonia. Selama tinggal di Colonia, Daniel pura-pura menjadi orang bodoh karena hasil penyiksaan yang membuat some nerve in his brain broken or whatsoever lah. 

DI lain pihak, Lena, sang kekasih, berniat menolong Daniel dengan segala cara. Dia yang seharusnya dijadwalkan terbang pulang ke Jerman membatalkan penerbangannya, dan alih-alih kembali ke Eropa, dia 'pura-pura' bergabung dengan Colonia Dignidad untuk mencari kekasihnya. Yeps mereka memang bertemu di sana, dan bertahan sampai 134 hari di dalam koloni. The rest of the movie menceritakan bagaimana mereka bertahan di koloni yang 'aneh' tersebut, dengan banyak peraturan yang nyleneh, dimana kontak antar setiap orang sangat dibatasi dan kekuasaan tunggal ada di pendeta agung Paul Schafer, yang bertindak layaknya diktator. Mereka juga bertemu Ursel, cewek Jerman (or keturunan Jerman), yang the whole of her life tinggal di Colonia dan never see the world outside. Singkat kata, dua pasangan itu akhirnya berhasil lolos dari tempat tersebut, dan berhasil kembali ke Jerman dengan membawa bukti-bukti berupa foto yang menggambarkan 'kekejaman yang terselubung' yang dilakukan di Colonia Dignidad. Not an easy escape, tentu saja, dan bahkan digambarkan juga bahwa Kedubes Jerman masa itu bersikap seolah 'melindungi' praktik yang dilakukan Schafer. 

TO BE HONEST, sepanjang menonton film ini, aku merasa frustated. Bukan karena filmnya atau apanya, tapi seperti yang gue bilang sama teman gue, I hate time when I start questioning myself of the meaning being human being, and humanity itself. Meskipun tidak tergolong film gore dengan adegan-adegan penyiksaan yang bikin ngeri, film ini bagi aku mentally torturing, dengan adegan lorong-lorong bawah tanah, ruang penyiksaan, ketegangan tiada henti tentang bagaimana orang diperlakukan di Colonia. Sebenarnya, jika berbicara tentang kudeta Chile tahun 1973, nggak beda jauh dari peristiwa kudeta Jakarta 1965 (bahkan dari banyak literatur dan sumber yang kubaca, kudeta Chile ini 'terinspirasi' oleh kudeta Jakarta, dan sama-sama disponsori oleh CIA). Dan seperti halnya kudeta berdarah lainnya, pastilah menuntut banyak korban jiwa, ratusan, ribuan bahkan jutaan. Tentang kudeta Chile ini sendiri aku sudah sedikit banyak membaca dan mendengar dari berbagai sumber, tapi mengenai Colonia Dignidad ini sendiri baru kudengar dari nih film. Walhasil, karena terlalu menghayati, browsinglah aku mengenai what's behind Colonia Dignidad dan siapa itu Paul Schafer. Well, sejarah kelam memang tak boleh dilupakan, tapi terlalu pahit untuk dikenang. Selama masa pemerintahan diktator Augusto Pinochet (1973-1990), Colonia Dignidad dijadikan sebagai 'penjara' dan kamp penyiksaan bagi musuh-musuh sang diktator, satu dari sekian banyak detention camp yang didirikan oleh Pinochet untuk menyingkirkan musuh politiknya. Ratusan orang disiksa, dibunuh, dikuburkan, ataupun 'dipaksa' menjadi anggota koloni - dengan kehidupan yang bagaikan perbudakan.

COLONIA DIGNIDAD, menempati lahan seluas 137 hektar di pinggiran Chile. Pertama kali koloni ini berdiri di era 50-an, tempat sekumpulan orang Jerman yang tinggal di Chile setelah PD II dan tetap ingin mempertahankan Bavarian culture, hidup dengan gaya Bavaria seperti laiknya mereka ketika di Jerman, lengkap dengan budaya, musik, makanan, pakaian dan lain sebagainya. Tahun 1961, Paul Schifer datang ke koloni ini setelah berhasil menghindari hukuman penjara karena sex abuse kepada anak-anak di Jerman, dan menjadi pemimpin koloni yang paling notorious. Para penghuni koloni hidup bagaikan budak, mereka dipaksa bekerja keras siang malam, didoktrinasi, dan diputus hubungannya dengan dunia luar. Selama 4 dekade, sampai tahun 2006 ketika dia ditangkap karena tuduhan child abuse, Colonia Dignidad menjadi tempat yang penuh mimpi buruk bagi penghuninya: dikelilingi oleh pagar besi dengan menara pengawas, kehidupan yang dibatasi, bahkan kontak antara perempuan, anak-anak dan laki-laki pun dibatasi, serta kekejaman dan teror sepanjang hari yang seperti tiada habisnya. Sampai akhir Schifer berkuasa, hanya sedikit (5 orang) yang berhasil meloloskan diri dari Colonia Dignidad. Bahkan, bukti-bukti kekejamannyapun, meskipun sudah diedarkan ke publik, seakan-akan tak mampu mencegah pelanggaran hak asasi manusia yang ada di sana. Dalam beberapa artikel juga disebutkan bahwa pihak Kedutaan Besar Jerman sekalipun bertindak seolah-olah menutup mata atas apa yang dilakukan Schifer dan hubungannya dengan sang diktator Pinochet.  

IT'S HURT to know that sometimes, di belahan dunia antah berantah dimana kita tidak pernah berada atau terlibat di dalamnya, pelanggaran terhadap hak asasi manusia sering terjadi, tak tersentuh oleh hukum negara maupun hukum kemanusiaan, dan masih terus berlangsung - bahkan nyaris tak terlihat. Indonesiapun juga memiliki sejarah kemanusiaan dengan apa yang terjadi di Chile. Perjuangan menuju keadilan dan menciptakan bumi sebagai tempat yang nyaman bagi seluruh makhluk hidup, meskipun di era modern saat ini sudah mencapai banyak pencapaian, masihlah harus terus berlanjut. Perang, diskriminasi terhadap ras tertentu, kelaparan, persamaan hak, pendidikan, dan banyak isu kemanusiaan lain yang masih harus kita perjuangkan. Karena kita diciptakan untuk peduli, karena kita diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi. 

IT'S always a good thing to care and to embrace the world.         

Kamis, 18 Januari 2018

JANUARY FAVOURITES!

SO THE IDEA will be like this: tiap bulan, menjelang tengah or akhir bulan, aku akan bikin sedikit tulisan mengenai whats favorites of this month! It can be anything, mulai dari orang, barang, film, buku, acara, peristiwa, pengalaman, jalan-jalan or seperti yang kubilang tadi: anythings! Why did I do this? To be honest sebenernya aku terinspirasi oleh  youtube channel ini, yang aku subscribe dan sering kuintipin kalo aku lagi bosen berat dan butuh menyegarkan diri. Kedua, aku sedang berlatih membiasakan diri untuk melakukan self gratitude. There's bunch of things in my everyday yang sebenernya membuat hidup kita lebih indah, lebih nyaman, lebih berwarna, lebih ceriyah. Tapi kadang kita lupa dengan hal-hal kecil tersebut karena terlalu fokus sama le grande choses, as if  bahagia itu cuma bisa disimbolkan dengan rumah megah mobil mewah jalan-jalan foto-foto keluar negeri. Pay attention on small things in everyday life juga bisa jadi latihan efektif untuk creating happiness in everyday life, biar gak gampang stress, pundung, mutung, marah-marah dan berasa hidup paling berat sedunia macam drama korea. This won't be kind of review ato ulasan ato resensi, I'll just write about how I feel tentang barang/peristiwa/film/barang ini dan kenapa ini menjadi istimewa. So lets check out my January list! 

1. Friday Movie Club 


JADI ceritanya, salah satu resolusi 2018 aku adalah having fun and spread fun. So, bareng sama temen aku yang kebetulan sesama penyuka 'jalan kegelapan' - alias movie maniac, kita iseng-iseng bikin Friday Movie Time gitu di kampus. Formatnya sih sederhana aja gapake ribet bin rempong, tiap minggu kami bakal nyodorin 2-3 judul filem untuk di-vote sama temen-temen (gw pake situs ini buat bikin online vote) trus filem mana yang menang itu yang bakal kami puter buat nonton bareng. Kebetulan nih di perpustakaan kampus aku kan ada fasilitas ruang audio visual yang lumayan keren dan nyaman buat menyepi dan 'mencari kegelapan', jadi tiap Jumat siang kerjaan kita nongkrongin di sana buat nobar sama para mahasiswa yang imut dan centil. So far acara perdana kami sukses, dan sekarang sudah masuk minggu ke dua, cuma tinggal gimana caranya supaya ni acara bisa tetep konsisten berjalan rutin ajah. 

2. My Small Pocket Mirror


HOHOOO, ini dia salah satu amunisi perang penting kalo lagi mo ngelenong! Jadi nih ceritanya, abis baca bukunya Marie Kondo Life Changing Magic of Tidying Up , aku kayak semacam enlightened gitu, terinspirasi luar dalam untuk mulai declutter my life, my stuff, my mind. Pokoknya hidup simpel praktis minimalis iritis gitu deh. Dulu nih, aku yang sukanya bawa tas kura-kura ninja dengan bawaan selemari penuh yang bikin pundak pegel minta ampun, mulai dengan teganya (or ditega-tegain seh) untuk 'membuang' dan 'menyingkirkan' benda-benda yang you don't use anymore, you don't use oftenly dan don't spark joy buat kamu, termasuk juga urusan bawa-bawa make-up. Nah, this tiny mirror ini beneran macem life saviour buat aku, simpel praktis dan nggak banyak makan tempat. Tinggal diselipin aja di sela-sela kantong make-up, siap deh dipake kalo lagi mo ngelenong dimana ajah! Nih cermin dulu kubeli di Daiso - toko serba 100 yen-nya Jepang, yang kubeli waktu tahun kemarin maen ke Tokyo. Dulu ada sih aku punya pocket mirror laen, tapi dibandingin ini jauh lebih bulky en impractical. 

3.  The Body Shop Metal Lip Liquid Pink Nickel mixed with Wardah Matte Lip Cream Hello Ruby! 


YANG namanya lipen ini emang beneran racun wanita deh! Jadi ceritanya, awal tahun kemarin gw merasa perlu boosting warna hidup gegara hatiku yang suram sembilu abis operasi ACL. Singkat cerita, aku nyobain metal lip liquid series-nya TBS, kayaknya seru aja lihat pidio swatch-nya. Lalu walhasil jatuhlah pilihan ke Pink Nickel C25 ini. Pas dioles pertama sih kayaknya seru, tapi setelah dilihat dari kejauhan, kok aku berasa makin tambah mblusuk ya mukanya. Semacam kusem gitu gegara bibir berwarna nude metalik gituh, mungkin karena dipaduin sama muka aku yang emang tone dasarnya gelap gitu. Trus iseng punya iseng, nih metalic lipen aku mix sama koleksi lipen aku lainnya yang bejibun, dan ternyata pas kukawinin sama Hello Ruby-nya Wardah, hasilnya cakep banget! Kerasa banget glam en gorgeous-nya, apalagi kalau dipake malam hari. Jadinya tuh, perpaduan dua brand lokal dan interlokal ini jadi favorit aku banget di bulan ini, apalagi kalo suasana hati lagi pengen kelihatan bold gituh. 

4.  Tendercare Oriflame 



YUPS! Aku sebenernya nggak pake produk oriflame sih, tapi untuk ni produk emang oke di kulit aku. Aku nemu si mungil tendercare ini di lemari rias ibu aku, dan berhubung pas itu bibir aku lagi pecah-pecah karena kurang minum ya udah kuangkut ajah, yang pada akhirnya dengan berat hati diikhlaskan juga sama si ibu. Mostly aku suka sama kemasannya yang imut dan lucu, trus seperti fatwa di katalognya, si tendercare ini emang ampuh banget untuk menjernihkan segala kekeringan dan dahaga di kulit, di bibir, di pinggir-pinggir kuku dan bagian mana aja yang perlu disejukkan (termasuk di hati kali ya! Ahahaa..). Aku juga pake ni produk di sekitar luka bekas operasi aku yang di pinggirnya pada kering pecah-pecah dan gatel, minimal 2 kali sehari, pagi abis mandi dan malam sebelum tidur. 


5. Kopi Man-trex Temanggung. 



YANG namanya kopi sih sebenernya aku cinta segala cuaca segala suasana, apalagi kopi tubruk pait or dicampur susu dikit. Nah, kopi Man-Trex Temanggung ini kutemuin secara tak sengaja di koperasi kantor, karena tumben-tumbenan koperasi kantor punya kopi item instead of kopi instant, jadi kucoba deh beli satu bungkus. Murah, 100 gram cuma 15 ribu perak, dan ternyata nih kopi mayan juga. Paitnya pas, dan secara anehnya, walaupun ini jenis robusta, bersahabat dengan asam lambung yang sering suka kumat kalo maksain minum kopi lebih dari dua gelas. Apalagi dengan embel-embel kopi lokal Temanggung yang emang mayan terkenal enak, akhirnya sampai minggu ini aku udah repurchase sampai 3 kantong. 

6. The Happiness Project. 



BOOK of the month! Sebenernya buku ini udah kubeli lama, ada kali 2 tahunan nangkring di rak buku rumah, tapi entah kenapa baru kebaca bulan ini. Dulu sempat sih baca sampai 10-20 halaman, tapi aku merasa this book is not totally to be read this time, kayak nggak sesuai gitu dengan suasana hati aku. Nah, setelah kemarin bongkar-bongkar rak untuk bikin list buku yang mau kubaca di tahun 2018, nih buku tetiba aja nongol dan masuk di daftar. Mungkin karena temanya sedang sesuai dengan rencana hidupku untuk hafe fun spread fun, jadi kayak macam pas aja dibaca. Intinya sih sebenarnya ni buku separuh novel separuh self-improvement book gitu kali ya, gak murni fiction. Tapi so far good to be read, masih kerasa bau fictionnya tapi nggak menggurui dan sok mulia ala buku self help, yang kalo kubaca bisa berasa pengen menghela napas panjang. Kapan-kapan deh kucoba bikin review-nya! 

7. Masih Tetep Jawara, Pinky Ransel!


ANOTHER life saviour! Jadi ceritanya, salah satu alasan aku memutuskan untuk mulai decluttering life adalah untuk "memaksa" diriku bawa barang sedikit kalo pergi ke mana-mana, termasuk pergi ke kantor, supaya bisa pake tas cantik dan feminim ala mbak-mbak kantoran gitu deh. Quite work untuk beberapa bulan sebenarnya, asalkan pas nggak ada jadwal ngajar, jadi nggak perlu bawa-bawa laptop dan printilannya. Nah, semenjak kaki aku sakit dan bawa kruk kemana-mana, tas cantik yang terselempang indah di bahu ato dijinjing manis di tangan itu bener-bener nggak bisa bersahabat dengan dua tongkat ajaib penopang kaki. Rempong kemana-mana, muter gak jelas bikin susah jalan. Walhasil, dengan lapang dada dan penuh keikhlasan serta budi pekerti luhur, aku kembali pulang ke selera asal: si pinky ransel yang sudah sejak sekian lama menemani aku berkelana ke mana-mana. Udah deh tinggal masukin semua barang ke situ dan lempar ke punggung, langsung siap jalan!

Its always a good thing to embrace life and be grateful!

Kamis, 11 Januari 2018

CERITA TENTANG LUTUT: PASCA OPERASI ACL MINGGU KETIGA

HOLA! Sudah minggu ketiga aja nih setelah operasi ACL! Banyak kabar yang perlu diupdate, dan banyak hal yang perlu dishare supaya teman-teman yang mengalami nasib yang sama dengan aku punya gambaran tentang apa yang akan kalian hadapi selanjutnya. Tentu saja apa yang aku rasakan dan aku jalani akan berbeda dengan yang dirasakan orang, jadi sekali lagi, latihan, progres perkembangan dll-nya adalah sangat tergantung dari individu masing-masing dan cedera yang dialami. 

NAH, minggu ke tiga ini aku anggap sebagai minggu yang sangat penting selama masa recovery. Kenapa? Karena ini adalah akhir tahun dan banyak libur!!! Bayangkan aja, cuti bersama, libur natal dan tahun baru, plus jatah cuti tahunan yang membentang di depan mata, dan ransel di almari yang udah melambai-lambai minta diajak pergi. Seding dong deng rasanya, secara selama setahun penuh ini aku merasa sudah bekerja keras dan perlu me-reward diriku sendiri dengan liburan, jalan-jalan, petualangan bareng keluarga. Belum lagi Mbak Qori yang udah menagih janji naik gunung dan susur pantai, yang dengan sangat sedih cuma bisa aku iyain dan kembali dijanjiin kapan-kapan kalo ibuk udah sembuh. Meh banget kannnn....! Tapi akhirnya suami punya solusi cerdas, his palace of wisdom menitahkan kami untuk liburan aja bareng keluarga besar, ke gunung-gunung boleh, tapi yang bisa dijangkau pake mobil (or at least yang di parkirannya ada warung dan tempat nongkrong, jadi kalo Ibuk 'terpaksa' harus nungguin mereka jalan-jalan tar gak bosen-bosen amat). So jadilah akhirnya di minggu ke tiga pasca operasi ini kami memboyong keluarga besar ke Dieng, Wonosobo. Cerita perjalanan kami akan aku update secepatnya, tapi yang jelas gegara pengalaman hidup yang satu ini, aku jadi semakin aware bahwa fasilitas untuk para diffable di tempat umum itu sangat-sangat penting.  

My, my family, the cruthes and Kawah Sikidang. Life must go on!

YANG jelas, minggu ke tiga ini aku udah mulai lumayan lancar jalan pake dua kruk. Latihan masih, porsi makin ditingkatkan, walau kaki masih terasa sakit banget kalau pas awal mulai latihan. Kaki kanan aku masih bengkak di bagian paha dan lutut, dan bengkak makin gede tiap kali aku melakukan aktivitas yang agak intensif menggunakan kaki. Nah, kalo dah bengkak gini nih, berasa kaki gajah banget, jadi kebas gitu nih kaki kalau buat jalan. Trus di akhir minggu ke tiga ini aku juga mulai agak "nyolong-nyolong" coba jalan pake satu kruk, masih agak susah - karena kupikir kan di akhir minggu ke empat aku harus udah mulai latihan jalan tanpa kruk, jadi diusahakan sedikit-sedikit memberikan beban lebih kepada kaki kanan supaya mulai agak terbiasa dengan beban badan aku. Kalau di dalam rumah sih aku selalu usahain pake satu kruk, tapi kalau keluar rumah aku masih bawa-bawa dua biji, in case mendapatkan jalan yang sulit, rumit dan berliku dan kakiku tak mampu menopang berat beban hidup (halah, lebay 180 derajat!). 

KABAR baiknya, kaki aku udah mulai agak lumayan fleksibel, udah bisa ditekuk lebih banyak dari minggu kemarin. Paling gak kalau duduk di kursi udah bisa menekuk nyaris 90 derajat sih. Buat gerakan tertentu, misalnya mengayunkan kaki ke depan dan ke belakang dari posisi duduk masih sakit di bagian sambungan lutut, mungkin karena luka bekas operasi di bagian dalam belum sepenuhnya sembuh kali ya. Tapi memang pada minggu ini aku agak hardcore sih melatih kaki, terdorong oleh kebutuhan (atau keinginan ya?) supaya bisa halan-halan liburan dengan kaki nyaman, tapi worth it lah! Sesuai prinsip aku: no pain no gain! 

Sengaja dandan pake 'kostum perang lengkap'  macam mo lari pagi kalo mau latihan di rumah, biar berasa serius en just to make me feel better aja sih!

SO, kesimpulannya, dari apa yang aku rasakan selama 3 minggu ini dan dari apa yang aku baca (dari seabrek sumber), it's really a matter of consistency and hard work. Yeps kadang (sering sebenernya) aku merasa frustasi banget, pengen cepet bisa nekuk-nekuk, jalan-jalan, lari-lari, lompat-lompatan dll, tapi ini kaki semacam nggak bisa diajak kompromi. Udah ditekuk-tekuk sampai menjerit-jerit sakit tapi ni otot berasa keras kepala banget cuma mentok bisa segitu. Udah diangkat-angkat sampe meringis-ringis nahan perih masih aja tu lutut lemes serasa tak berdaya. Yah, kalau kata aku sih, tahap recovery ini emang lebih berat daripada rasa sakit setelah operasi, karena kita harus tetap menjaga semangat dan kesabaran supaya nggak mutung dan pundung yang akhirnya berujung pada malas latihan (yeps pengakuan dosa, kadang aku malas latihan sih, tapi cuma boleh kuijinkan sehari dalam seminggu untuk ngambil jatah 'malas', ahahaa). Tapi demi langit dan bumi dan semua tempat yang belum pernah kukunjungi, tetap semangat dan pantang menyerah. Life must go on! 

It's always a good idea to see and to experience new things! 

Kamis, 04 Januari 2018

CERITA TENTANG LUTUT: PASCA OPERASI ACL MINGGU KE DUA

HOLA! Update kemajuan pasca operasi ACL minggu ke dua. Minggu ini aku dijadwalkan untuk kontrol dokter, ketemu dr. Bambang Kisworo lagi setelah seminggu yang lalu beliao membedah-bedah lutut kananku. Well, tadinya aku agak pesimis sih, gimana mo jalan dan berangkat dari rumah, mengingat beberapa hari yang lalu ni kaki masih sakit banget digerakin dan digeser-geser, apalagi ditekuk-tekuk. Tapi setelah 2 hari sebelumnya aku berhasil nekad turun dari tempat tidur dan jalan ke kamar mandi dengan kaki diseret-seret macem ulat bulu (kaki kanan masih sakit banget untuk ditekuk), akhirnya aku berhasil memberanikan diri untuk jalan lebih jauh lagi (kayaknya emang beneran deh kalau first step always hard -literally in my case). Jadinya neh, pas hari kontrol tiba, aku memutuskan memberanikan diri untuk membonceng naik motor. Caranya? Gonceng miring dong. Agak susah sih emang, karena harus narik kaki waktu mo duduk di jok belakang, lalu menumpangkan kaki kanan (surgery one) ke kaki kiri (healthy one). Tapi finally, walaupun masih meringis waktu mo naik, akhirnya bisa juga aku dan suami berboncengan menuju RS. Panti Rapih (dan kebayang betapa bosannya aku selama berhari-hari gak pergi-pergi keluar rumah, so this fact that aku bisa membonceng motor adalah suatu pencapaian penting!). 

SINGKAT kata, kami pergi ke Panti Rapih dan bertemu dr. Bambang. Sebelumnya om dokter meminta aku untuk rontgen kaki lagi. Hasil rontgen sih bilangnya its OK, operasinya berjalan bagus, pen sudah terpasang bagus di lutut aku, menghubungkan antara paha dan betis. Lalu si dokter nyuruh aku berbaring di meja periksa dia, dan lagi-lagi menyuruh aku untuk menekuk lutut dalam posisi berbaring seperti yang dia lakukan waktu visit post operasi. Well, nggak terlalu banyak progres sih, karena emang aku nggak terlalu banyak melatih flexibility (sakit bo, jadi malas ceunah!). Om dokter kemudian ngasih aku beberapa exercise yang harus aku latih sendiri di rumah supaya kaki kananku bisa kembali kuat. Pertama, dalam kondisi berbaring, dia nyuruh aku untuk ngangkat kaki kanan (dalam keadaan lurus). Wanna know the result? Gue kagak bisa dooong, angkat kaki gue, beratnyaaaaa muinta ampun! Berasa ni kaki kagak ada tenaga sama sekali, plus sakit lunar binasa di bagian sambungan lutut. Dipaksa-paksa sampe berkeringat sekalipun aku hanya bisa ngangkat kaki 3 cm dari matras, itupun hanya tahan beberapa detik. Sempat frustasi dong gue, secara dalam hati aku merasa kan otot kaki aku lumayan, buktinya aku bisa lari 10 km dengan santai! Kata pak dokter dan asistennya, aku harus konsisten melakukan gerakan ini, angkat kaki dan ditahan sampai 10 detik, minimal 100 kali per hari (buset, keringetan gak sih. Ngangkat 3 senti aja sudah ampun juragan!). Then dokter juga menyuruh aku untuk duduk di tepi tempat tidur dengan kaki menggantung, dan membengkokkan kaki sampai 90 derajat ke arah dalam, dengan pantat tetap ditekan ke matras. Bisa sih, tapi sakit! Jadi dokter Bambang bilang kalau oke, udah bisa menekuk 90 derajat, so kemajuan selanjutnya adalah beneran di tangan kamu. Harus rajin latihan dan jangan malas bergerak. Kaki sudah boleh menapak, tapi kruk masih tetap harus digunakan selama satu bulan ke depan (okebaiklah!).Dokter Bambang juga berpesan bahwa perban bisa dilepas beberapa hari ke depan, dan luka bekas jahitan sudah bisa kena air. Pesannya lagi: jangan manja, harus mandiri, dan tetap latihan! Bahkan secara literal dia berpesan ke suami aku untuk tidak usah membantu aku, biarkan aku melakukan dan mengusahakan sendiri. Baiklah! Selama bisa mandi dan mempercantik diri, I think I'll be fine!  

SAMPAI 9 hari post operasi, tepatnya 2 hari setelah kontrol, aku masih belum bisa ngangkat kaki dalam posisi lurus seperti yang disarankan Pak Bambang. Alamaaak sedih nian aku, berasa selamanya nggak akan bisa gitu deh (baper ya!). Selama hari-hari itu pula aku intensif baca blog sana sini, nonton yutub kemana-mana, just to know how people recover from their ACL surgery. Iya sih, tidak bisa dibandingkan metode latihannya, karena luka dan operasinya juga beda-beda. But at least kalau kita tahu apa yang harus dilakukan, jadi sedikit ayem dan ada gambaran lah kalau kondisi kita ternyata "normal". Jadi aku merujuk ke video latihan kaki pasca acl ini sebagai referensi, meskipun nggak semua gerakan kuikuti dan tetap yang utama adalah arahan dokter. Jadi mulailah, karena aku bertekad kuat supaya bisa back to the field aku harus benar-benar bisa memaksa diri dan disiplin latihan. 

FIRST time is always hard emang beneran kurasakan. Seperti yang kutulis tadi, sampai 9 hari post operasi aku masih belum bisa ngangkat kaki dari posisi tidur. Seberapapun kuat aku mencoba, kaki semacam gak ada tenaga gitu deh. Jadi, berdasarkan video yang aku tonton ini, aku menggunakan bantuan handuk untuk mengangkat kaki. Jadi handuk kukaitkan di tumit (dalam posisi duduk selonjor), lalu kutarik ke atas supaya kakiku ikut naik ke atas. 5-6 kali gerakan setiap sesi, satu hari bisa 2-3 sesi tergantung kondisi mental (males atau nggak). Pertama sih sakit, tapi lama kelamaan biasa juga. Aku juga pake bantuan handuk untuk latihan menekuk kaki. Caranya sama, dengan dikaitkan ke lutut (dalam posisi duduk selonjor), lalu handuk ditarik pelan-pelan ke depan supaya kaki kita tertekuk, lalu ditahan selama 10 detik. Sakit sih kagak terlalu, tapi emang kerasa kalau lututku kaku setengah mati. Kalau lagi pengen latihan hardcore, suami aku ikutan bantu, dengan memegangi dan menarik kakiku sampai menekuk maksimal (maksudnya sampai aku mengaduh minta ampun), ditahan 10 detik dan dilepas pelan-pelan. Biasanya sih suami kagak percaya kalau aku bilang sakit banget, jadi kalau kata dia (menurut dia) lutut aku masih bisa didorong menekuk lebih dalam lagi, dia akan 'maksain' mendorong tumitku lebih dalam lagi dan ditahan selama 10 detik. Bener sih, ternyata aku bisa, dan setelah itu lutut akan terasa lebih enakan. Jadi intinya emang push your limit deh! 

Nah, ngangkat kaki yang berasa sepele gini nih yang bikin aku frustasi setengah mati karena nggak bisa-bisa!


NAH, setelah 3 hari latihan hardcore, secara tiba-tiba, nggak tau angin dari mana, pas aku lagi iseng coba ngangkat kaki, tetiba saja kakiku bisa mulus terangkat ke atas dengan ajaib, kagak ada lagi perasaan berat dan lunglai di lutut! Wew kebayang dong betapa senengnya aku (eureka!). Ini baru bisa kulakukan di hari ke 10. Kabar baiknya lagi, di hari ke 10 ini aku juga udah mulai bisa tidur miring ke kiri, dengan kaki kanan (injury leg) berada di atas kaki kiri. Fyi, sebelum ini aku selalu tidur miring ke kanan karena kalau miring ke kiri kakiku terasa pegal dan tertarik. So, karena sudah bisa mengangkat kaki, mulai hari ke 10 itu aku mendisiplinkan diri berlatih (50 kali angkat kaki sehari instead of 100). Jangan kira akan mulus-mulus saja ya, karena pada awal-awalnya, ketika melakukan gerakan pertama, lutut bagian persambungan antar tulang rasanya sakit minta ampun! Setelah 3-4 kali gerakan sih biasanya lancar-lancar saja, tapi ya itu tadi, first step always painful! Aku juga terus melatih menekuk dan membengkokkan kaki. Update lainnya, bengkak masih terlihat, terutama di bagian paha (paha aku jadi berasa kayak paha gajah euy!). Dan, bengkak ini makin membesar sampai ke bawah lutut dan telapak kaki setiap sore hari, terutama kalau aku banyak beraktivitas dengan kaki atau kalau abis latihan hardcore. Kalo udah gini nih biasanya kaki jadi makin berasa kaku dan gak enak digerakin. Dari hasil intip-intip yang berjibun sih katanya bengkak ini biasa terjadi lama, bahkan ada yang sampai 6-7 minggu masih bengkak kakinya. So, sabar aja, kalo bengkak tetap aja buat berlatih dan beraktivitas, karena dengan semakin kuat otot kita, semakin berkurang juga bengkaknya. Kalo mau bisa juga dikompres pake air dingin biar agak kempes, tapi believe me, dia akan datang lagi sampai waktunya dia sirna ....

Latihan angkat kaki. Minggu pertama aku masih pakai bantuan anduk macam gini karena lutut belum kuat ngangkat beban kaki. Dilakukan 3 set, masing-masing set 10 kali angkat dengan ditahan selama 10 detik. 
Variasi latihan, nggak pakai nekuk kaki kiri.

Eureka! Gini nih gerakannya. Angkat, tahan 10 detik, turunkan. Angkat, ayun atas bawah 5 kali pelan-pelan, turunkan.

Latihan keseimbangan, kalau mau berdiri dari posisi duduk. 

O YA, minggu ke dua pasca operasi ini aku juga sudah mulai masuk kantor. Selain cuti sakit sudah habis, aku juga sudah bosan setengah mati ngendon di rumah dengan pergerakan terbatas (kalo masih bisa maen sih oke aja!). Daaaaaan karena ruangan aku ada di lantai atas, jadi aku juga harus membiasakan diri naik-naik ke puncak gedung dengan menapaki anak tangga satu-satu, gak bisa lagi gegayaan sambil lari-lari lompat-lompat macam dulu. Pertamanya sih agak-agak takut gimana gitu sih, tapi lama-lama biasa juga kok.  

SO, kesimpulannya, minggu kedua pasca operasi: sakit masih bersisa dikit (untuk gerakan tertentu masih berasa sakit banget, apalagi kalau habis bangun tidur dan kaki kaku), kaki kaku masih bersisa dan masih belum bisa nekuk maksimal, dan bengkak juga masih ada. Tapi mostly kita masih bisa melakukan aktivitas normal walo pelan-pelan. Yang penting pokoknya rajin dan konsisten berlatih dan (mencoba) mandiri. Sakit itu pasti, tapi jangan menyerah pokoknya. Push your limit and find your true strength! 

Because it's always a good thing to experience new things!