HOLA! Lama nian tak update konten blog. Bukan karena sudah malas jalan-jalan dan berpetualang dengan si kecil sih, kita masih tetap jalan-jalan selama ada kesempatan (dan alhamdulillah kita nggak pernah kekurangan kesempatan, apalagi libur akhir tahun seperti ini). But now, instead of berbagi cerita dan foto-foto cantik tentang jalan-jalan dan liburan, aku pengen sedikit berbagi cerita yang sedikit banyak agak nyambung dengan aktivitas jalan-jalan, yaitu tentang lutut dan sekitarnya. Jadi ceritanya nih, akhir bulan November kemarin, tepatnya tanggal 29 November, ketika Jogja sedang seru-serunya dilanda badai Cempaka, aku jatuh dari motor di sekitaran Jalan Kaliurang. Kayaknya sih luka luar yang nongol ringan saja, tapi aku emang kerasa ada sesuatu yang aneh dengan lutut kananku. Pas ketika jatuh emang si lutut ini kena aspal duluan, dan sakitnya luar biasa, dan ketika kupakai jalan rasanya lutut kananku goyang-goyang kanan kiri semacam nggak stabil gitu, plus nggak bisa diluruskan karena sakit banget. Karena merasa agak cemas dan butuh kepastian macam anak gadis udah lama dipacarin, akhirnya dengan dianter temen aku periksa ke RS. Panti Rapih yang emang nggak terlalu jauh dari TKP. Setelah diperiksa sana-sini sama dokter jaga IGD, ditekan dan dipencet-pencet di banyak bagian, disuruh rontgen dan menunggu agak lama, eh tiba-tiba si Mbak dokter muncul ditemenin sama bapak-bapak dokter tua berambut putih. Aku yang tadinya udah cengengesan jadi berasa agak-agak khawatir nih, apalagi ketika si Mbak dokter ngeluarin hasil rontgen dan bilang kalo ada yang aneh dengan tulang lutut aku, makanya beliau mengkonsultasikannya dengan dokter spesialis orthopedi, Pak Bambang Kisworo, yang tak lain tak bukan adalah bapak dokter berambut putih tadi. Lalu jreng jreeeng... datanglah berita buruk itu. Pertamanya sih beliau menerangkan tentang struktur lutut dan lain-lainnya, dan kemudian bilang bahwa dari hasil rontgen aku otot ACL aku, yaitu otot yang menghubungkan antara tulang tibia (tungkai bawah) dan femur (paha atas) putus, dan satu-satunya jalan adalah dengan operasi. Deng doooonggg... berasa kayak disambar petir deh pas denger om dokter ngomong gitu. Pas itu aku nggak tau sih tentang operasi ACL dll (cuma denger-denger aja dari berita kalo beberapa pemain sepak bola pernah ada yang operasi macam gini), tapi yang langsung terbayang di mata adalah khawatir kalo aku nggak bisa jalan-jalan dan melakukan olah raga lagi (secara kan aku mengklaim diriku physically active). Yang aku bayangin juga adalah ribetnya operasi dll-nya, karena harapan aku kan si dokter bilang kalau aku baik-baik saja dan bisa ditanggulangi sama tukang pijet. Si dokter bilang, kalo nggak dioperasi tar lutut kamu nggak akan stabil dan bisa goyang-goyang kesana kesini, which is aku nggak boleh olahraga berat atau melakukan aktivitas kaki yang berlebihan (kebayang dong gimana rasanya jadi 'pengangguran' saat liburan kalau nggak boleh naik gunung lagi). Jadi pada intinya, pak Bambang Kisworo, doktor orthopedi itu, membuatkan janji untuk operasi ACL secepatnya, yang nantinya akan dipasang pen di bagian lutut untuk ngiket tuh otot (or something like that), dan sebelum dioperasi, kaki kananku sama sekali tidak boleh dibuat menapak, alias aku harus pake kruk kemana-mana. Untuk memastikan kerusakan lain lagi, Dokter Bambang juga memeriksa lutut kananku, untuk memastikan apakah ada meniscus yang robek atau ada kerusakan lainnya, yang untungnya hanya ACL aku yang perlu direkonstruksi. Beliau juga memberiku tablet ketorolac, yang diminum kalau kakiku berasa sakit banget.
SINGKAT kata, setelah perjalanan panjang mengurus asuransi dan lain-lain yang cukup bikin stress, dua minggu kemudian aku kembali ke RS. Panti Rapih. Aku dijadwalkan operasi ACL Genu Dextra hari Kamis, tanggal 9 Desember 2017, yang karena ada alasan emergency lainnya (dokter Bambang harus melakukan rekonstruksi tulang dengan luka terbuka) akhirnya operasi harus diundur tanggal 10 Desember 2017, dan dijadwalkan akan dimulai jam 1 siang. Oke baiklah, asalkan segera ada kepastian dengan lututku tak apalah mundur sehari. Selama waktu menunggu itu juga aku diperiksa oleh dokter anestesi, melakukan foto thorax, diukur denyut nadi dan asupan oksigen, tes alergi terhadap antibiotik, dipasang infus dll, to make sure that I'm ready for the surgery. Mbak perawat juga berpesan supaya aku tetep harus banyak minum supaya tubuh tidak kekurangan cairan.
SESUAI prosedur biasanya, 6 jam sebelum operasi aku sudah disuruh puasa. Lalu jam 1 kurang 20 menit, 2 mbak perawat cantik dan baik hati menjemputku dari bangsal dan mengantarku ke ruang persiapan operasi. Di sana kembali data-dataku dikonfirmasi, dan ditanyai apakah aku sudah tahu operasi apa yang akan kulakukan, prosesnya seperti apa saja, sudah dijelaskan sama dokter atau belum dll. Beberapa saat menunggu, akhirnya aku dibawa ke ruang operasi. Pertama dokter anestesi yang menemuiku, menjelaskan kalau aku akan dibius spinal dengan suntikan di tulang belakang, yang nantinya akan membuat bagian pinggul ke bawah serasa mati rasa. Bagi yang pernah operasi caesar, kira-kira nanti rasanya akan semacam itulah. Beberapa saat setelah dibius, aku mulai merasakan kedua kakiku berat dan serasa kesemutan, dan aku nggak bisa mengangkat atau menggerakkan kedua kakiku. Otot perut bagian bawah juga semacam kayak nggak ada tenaga, macam kalau kita mau pingsan gitu, jadi pas saat batuk-batuk kesedak oksigen rasanya macam nggak enak banget deh, seperti nggak punya tenaga untuk mengontrol tubuh bagian bawah. So singkatnya, operasi dimulai jam 2. Aku nggak bisa melihat langsung sih prosesnya, karena tubuh bagian bawah dihalangi tirai gitu, sementara dua tanganku diiket di samping macam disalib jadi gak bisa dipake buat menyibakkan tirai ngintip2 dikit (tapi baguslah, takut aku pengsan kalo bisa lihat apa yang dilakuin sama lututku). Meskipun begitu, mata aku masih melek dan aku masih bisa merasakan dikit-dikit pas lututku disobek (gak sakit sih, cuma kerasa macam disenggol-senggol pake bulu), pas kaki kananku ditekuk-tekuk dan diiket-iket, juga pas dokter Bambang bekerja pake bor dll buat pasang pen di lututku plus kecium juga bau-bau sedikit gosong gitu pas tulang aku dibor (alamak!). Jam 3 sore pas operasi selesai, dan dokter Bambang bilang oke done, setelah ini ke ruang pemulihan dulu trus kembali ke kamar. Abis itu boleh langsung makan (yeay! padahal sebenernya aku juga kagak minat makan saking campur aduk perasaanku). Beliau juga berpesan, 24 jam bed rest dan hari berikutnya latihan jalan n berikutnya bisa pulang hari Minggu. Yeay! Seneng dong berasa singkat aja prosesnya.
![]() |
| Officially jadi pasien! |
SESUAI prosedur biasanya, 6 jam sebelum operasi aku sudah disuruh puasa. Lalu jam 1 kurang 20 menit, 2 mbak perawat cantik dan baik hati menjemputku dari bangsal dan mengantarku ke ruang persiapan operasi. Di sana kembali data-dataku dikonfirmasi, dan ditanyai apakah aku sudah tahu operasi apa yang akan kulakukan, prosesnya seperti apa saja, sudah dijelaskan sama dokter atau belum dll. Beberapa saat menunggu, akhirnya aku dibawa ke ruang operasi. Pertama dokter anestesi yang menemuiku, menjelaskan kalau aku akan dibius spinal dengan suntikan di tulang belakang, yang nantinya akan membuat bagian pinggul ke bawah serasa mati rasa. Bagi yang pernah operasi caesar, kira-kira nanti rasanya akan semacam itulah. Beberapa saat setelah dibius, aku mulai merasakan kedua kakiku berat dan serasa kesemutan, dan aku nggak bisa mengangkat atau menggerakkan kedua kakiku. Otot perut bagian bawah juga semacam kayak nggak ada tenaga, macam kalau kita mau pingsan gitu, jadi pas saat batuk-batuk kesedak oksigen rasanya macam nggak enak banget deh, seperti nggak punya tenaga untuk mengontrol tubuh bagian bawah. So singkatnya, operasi dimulai jam 2. Aku nggak bisa melihat langsung sih prosesnya, karena tubuh bagian bawah dihalangi tirai gitu, sementara dua tanganku diiket di samping macam disalib jadi gak bisa dipake buat menyibakkan tirai ngintip2 dikit (tapi baguslah, takut aku pengsan kalo bisa lihat apa yang dilakuin sama lututku). Meskipun begitu, mata aku masih melek dan aku masih bisa merasakan dikit-dikit pas lututku disobek (gak sakit sih, cuma kerasa macam disenggol-senggol pake bulu), pas kaki kananku ditekuk-tekuk dan diiket-iket, juga pas dokter Bambang bekerja pake bor dll buat pasang pen di lututku plus kecium juga bau-bau sedikit gosong gitu pas tulang aku dibor (alamak!). Jam 3 sore pas operasi selesai, dan dokter Bambang bilang oke done, setelah ini ke ruang pemulihan dulu trus kembali ke kamar. Abis itu boleh langsung makan (yeay! padahal sebenernya aku juga kagak minat makan saking campur aduk perasaanku). Beliau juga berpesan, 24 jam bed rest dan hari berikutnya latihan jalan n berikutnya bisa pulang hari Minggu. Yeay! Seneng dong berasa singkat aja prosesnya.
![]() |
| Penampakan kaki pasca operasi. Masih bisa foto-foto nih karena kaki belum kerasa sakit |
AKU nunggu agak lama di ruang pasca operasi, sekitar hampir 1 jam, sampai kemudian mbak perawat yang baik hati kembali membawaku ke bangsal. O ya, sebelum balik ke kamar, aku disuntik ketorolac untuk pereda nyeri (which is saat itu aku belum berasa nyeri sih karena masih dalam pengaruh bius). So then aku kembali ke kamar, senyum-senyum ditemenin suami, dan langsung makan dengan lahap. Pas itu aku masih merasa baik-baik saja. Kaki kananku dibalut elastic bandage dari tengah paha sampai tengah betis, dan nothing feel wrong in my right foot kecuali rasa kebas akibat pengaruh bius spinal. Tapi sumpah deh, dibius itu ternyata nggak enak banget! Kulit rasanya tebel dan berat, dan pas kita coba garuk-garuk karena gatal, gak terasa blas tuh garukan, macem gatelnya ada di dalem lapisan lemak tebal di bawah kulit! Nah, baru setelah 2-3 jam kemudian, abis biusnya mulai berkurang, aku mulai berasa kakiku mulai berdenyut-denyut sakit dan panas gitu. Pertamanya sih biasa aja, tapi lama kelamaan tu sakit semakin berasa mengganggu karena terus menerus nggak ada berhentinya. Sakitnya sih, kalau kata aku, mungkin biasa aja dan tertahankan kalau cuma 1 atau 2 menit, atau paling gak 5 menit lah, macam kalau kita keiris pisau jarinya. Tapi karena perihnya itu terasa terus menerus tanpa berhenti, hewdeeewhhh... berasa mo nangis deh. Mana gak boleh duduk pula, cuma bisa guling kanan miring-miring sambil meringis. Sumpah deh, abis operasi itu aku semalaman nggak tidur, nangis dikit-dikit saking nggak tahannya. Kata mbak perawatnya, tar jam 12 malam aku bakalan dikasih pereda rasa sakit, tapi sumpah tuh obat kayak nggak ada efeknya. Sakitnya nggak juga reda, yang ada malah terus berasa perih dan panas yang bikin sedih minta ampun (aku lupa apa nama obatnya, tapi yang jelas bukan ketorolac). Aku sudah mencoba melupakan rasa sakit dengan mencoba bermeditasi dan memusatkan konsentrasi sama musik pengiring meditasi melalui aplikasi insight di iphone aku dan berbekal headset, tapi gagal, rasa sakit luar biasa di kaki bagian kanan berhasil mengalahkan konsentrasi aku untuk bermeditasi. Walhasil, semalaman itu beneran aku nggak tidur dan nangis sedikit-sedikit melegakan hati. Dari artikel yang aku baca kemudian, ada yang bilang kalo operasi ACL itu lebih menyakitkan daripada melahirkan. Well, tepatnya 5 tahun kurang sehari yang lalu, tanggal 9 Desember 2012, aku juga mengalami kesakitan luar biasa selama 12 jam lebih akibat kontraksi pas melahirkan Qori. Its way more painful sih sebenernya (secara aku merasa hampir pengsan pas jam-jam terakhir mau melahirkan, sampe keringetan dingin akibat nahan sakit), tapi kalau dalam proses melahirkan, ada jeda antara kontraksi satu dengan lainnya. Nah, di operasi ACL ini, sakitnya lunar binasa dan berasa nggak ada jeda, dan yang parah lagi nggak tau pula ini selesainya kapan. Plus, aku juga berasa nggak bisa mengalihkan perhatian dari rasa nyeri dengan membayangkan hal-hal lain selain rasa sakit tadi, jadi teknik pengalihan perhatian yang biasanya berhasil di aku berasa gagal total deh.
SINGKATNYA, pereda rasa sakit diberikan setiap 8 jam sekali. Pas aku bilang kalau obat semalam nggak mempan blas, akhirnya si mbak perawat kembali ngasih aku ketorolac, yang ternyata lumayan manjur juga. At least selama 8 jam ke depan kamu akan merasa sedikit "enakan" lah, bisa senyum-senyum n makan-makan tanpa mikirin nyeri. Aku juga sudah mulai bisa menggerakkan telapak kaki, pakek gerakan pilates macem point en release gitu untuk mengurangi kekakuan kaki. Sehari setelah operasi, dokter Bambang nengokin, dan nyuruh aku menekuk lutut dari posisi tidur. Wedeeewwww... rasanya warbiyasah sakit dan kaku gak ketulungan! Kata Dokter Bambang sih udah lumayan itu kaki nekuknya, walopun rasanya sakit warbiyasahhhhh (padahal aku masih dalam pengaruh ketorolac lho!). Beliau bilang "nanti latihan jalan ya sama petugas fisioterapi, dan sekarang mulai latihan nekuk kaki". Widiwh, ngomongnya enak banget dan semacam optimis banget pasti bisa, tapi begitu si mbak fisio datang, alamaaaaakkkkk.... ampuuuunnnn! Buat turun dari tempat tidur aja rasanya kayak ni kaki disayat-sayat pakek seribu piso. Mana mbaknya super tega pulak (kayaknya emang protap dia harus tega deh), si mbak nyuruh aku nglurusin kaki sambil ongkang-ongkang di pinggir bed, dengan dia pegangi sih (tapi tetep ajah sakit banget boook!!!). Then akhirnya aku dipaksa jalan pake walker dengan tertatih-tatih ("diangkat ya mbak, jangan diseret", which is kata gue, alamaaaak, gini aja sakit bangettttt!). Si mbak bilang dalam dua minggu ini target aku adalah bisa menekuk 120 derajat (dari posisi berdiri lalu tungkai ditekuk ke belakang), dan dalam beberapa minggu ke depan bisa nekuk normal. Dia juga bilang supaya aku berlatih meluruskan kaki (flexion) yang juga sama menyakitkannya dengan menekuk kaki, hahaa... Dan pesannya si Mbak, harus dipaksa latihan sendiri, karena keberhasilan sangat tergantung sama usaha kita. Kalau misal sakit banget, 20 menit sebelum latihan bisa minum ketorolac supaya lebih tertahankan rasa sakitnya. Tapi sumpah deh, latihan jalan pertama ini beneran bikin aku berkeringat dingin dan berkunang-kunang macam mau pingsan saking sakitnya. Juga ketika pagi berikutnya aku nyoba turun dari bed dan mo ke kamar mandi dengan susah payah, kembali aku berkunang-kunang gak jelas mo pengsan saking sakitnya. So, setelah itu, atas anjuran mas bojo, aku bisa mulai latihan kaki setelah minum ketorolac, karena percuma juga kalau sakit banget secara psikologis aku jadi bakalan malas gerak.
HARI Minggu siang akhirnya aku sudah diperbolehkan pulang. Dokter Bambang pesen supaya selama 1 bulan ke depan aku tetap pake kruk tapi kaki sudah boleh napak dikit-dikit. Kontrol selanjutnya satu minggu ke depan, dan ketorolac tetap diminum rutin sampai 3 hari ke depan. Jangan lupa latihan dan nggak boleh malas (maaaak, kalo sakit macam gini jadi malas pula aku berlatih). So, Minggu siang itu, dengan ditemenin suami plus geng hore-hore kantor, aku kembali ke rumah yang sudah sangat kurindukan. Jangan tanya gimana proses aku naik dan turun dari mobil ya, penuh tangis dan air mata pokoknya. Dan selama 5 hari pertama setelah aku pulang, rasanya udah kayak orang nggak bisa ngapa-ngapain deh. Yang jelas sih emang aku malas beranjak dari kamar (turun dari tempat tidur aja rempong jaya). Ibaratnya nih, sampe pipis en bab aja aku pake pispot, saking susah (dan malas kesakitan sih). Tapi dari hari ke hari aku makin merasa ni kaki makin enakan sih. Masih sakit di bagian lutut dan betis kalo dilurusin atau ditekuk dalam sudut yang nggak tepat, tapi at least nyeri-nyeri macam disayat sembilu itu sudah jarang muncul. Kabar baiknya, sekarang aku juga sudah bisa berdiri dengan kedua kaki, walau kaki kanan belum boleh napak 100%. Hari keempat aku udah bisa mulai jalan sendiri ke kamar mandi dan mandi keramas dengan bahagia, walaupun masih kesulitan kalo harus naik turun tempat yang lebih tinggi (di beberapa bagian rumah gue ada tempat yang dibikin agak lebih tinggian dari yang lainnya). Tapi lama kelamaan aku mulai lancar jalan dan sudah nggak tergantung lagi sama ketorolac. Selama menunggu waktu kontrol tanggal 14 Desember, latihan yang kulakukan adalah menekuk dan meluruskan kaki di tempat tidur sambil berbaring rebahan. Aku masih belum bisa duduk ongkang-ongkang di pinggir tempat tidur seperti yang disarankan mbak fisio (karena masih sakit banget, mentally aku belum siap mencoba). Menekuk kakipun masih sedikit-sedikit karena lutut berasa kaku banget, plus bengkak di bagian lutut, betis dan telapak kaki. Tapi sesering mungkin aku menggerakkan pergelangan kaki (point and release), meluruskan kaki di tempat tidur dan terus mencoba latihan menekuk. Dari browsing-browsing yang kudapat selama tergolek tak berdaya di tempat tidur, dua hal yang harus dilatih dalam 2 minggu pertama pasca operasi ACL adalah flexion dan flexibility. Sempet agak down juga sih lihat video-video post ACL surgery, secara banyak dari mereka yang seminggu pasca operasi aja udah bisa jalan en ngangkat-ngangkat kaki macam tak terjadi apapun dan tak merasakan apapun. Lah aku, mo turun dari tempat tidur aja setengah mati, apalagi naiknya (harus dibantu diangkat pake tangan boooo, kalo gak kagak kuat). Udah kebayang aja juga tuh gimana nih nanti nasib jogging dan pilates aku. Iya sih dokter Bambang bilang tar juga bisa back to the field asal sabar dan terus disiplin latihan, tapi ini hati dan pikiran udah nggak sabar aja pengen jalan-jalan. Mana tanggal 3 Desember Star Wars udah rilis di bioskop pulak! Jadi nih, selama menjelang kontrol tanggal 14 Desember itu, aku beneran rajin latihan jalan n melatih flexion dan flexibility aku dengan satu alasan: abis kontrol aku mo nonton Star Wars di bioskop! Aku udah bosen tingkat dewa terkurung di rumah dengan pergerakan yang hanya terbatas dari kamar ke kamar mandi doang hilir mudik!
![]() |
| Susahnya sekadar mo melangkahkan kaki aja. |
JADI singkatnya, selama abis operasi sampai seminggu, 4 hari pertama aku beneran nggak beranjak dari kamar (sakit dan malas gerak sih). Jadi you know what I did? Baca novel, gambar-gambar, main gitar, browsing artikel en yutup tentang post ACL recovery program plus stalking IG n facebook orang-orang n eksis di grup wasap (wekekeeeew... produktif banget kan hidup gue!). Niat hati sih mo sok-sok buka laptop en bikin artikel jurnal gitu, tapi entah kenapa begitu buka laptop yang ada kepala pening dan mata berair (tapi kalo nonton film nggak pening, oh nooo...!).
SO, that is what I want to share tentang ACL surgery aku. Minggu depan aku bakalan ngoceh lagi tentang progres kemajuan pasca operasi di minggu ke dua, karena pada dasarnya aku mulai tracking down progres recovery aku setelah ketemu lagi sama dokter Bambang. Yang jelas sih aku bertekad bulat harus konsisten dan disiplin, karena aku pengen bisa segera physically active dan menjelajah dunia lagi!
Its always a good thing to see (and to experience) new things!



Mbak mau tanya, sekarang kondisinya bagaimana? Apakah sudah sembuh total?
BalasHapusBelum sembuh total, kaki masih kaku dan kerasa agak sakit kalau buat jalan jauh or naik tangga, dan belum bisa buat nekuk total (kalau buat sholat belum bisa normal pas duduk). tapi sudah lumayan banget, paling gak udah bisa lari-lari kecil sebentar.
HapusSy operasi lutut fracture 1.5 bln kemudian bisa naik motor dan nyetir dan sdh 2 bln nekuk hampir normal cm sholat blm bisa nekuk total...agak panas mlo buat nekuk dipaksa. Klo ACL memang agak repot
BalasHapusmalam mb, saya mau tanya2 lbh lanjut ttg operasi ini boleh ndak ya? kalo boleh saya minta alamat email/no hp mb saja monggo.. makasih mb:)
BalasHapus