}

Senin, 23 Januari 2017

WEEKEND SHORT BREAK INSPIRATION: CANDI GUNUNG SARI

MINGGU ini kami tidak punya banyak waktu untuk bereksplorasi seharian seperti biasanya. Kebetulan si Ayah sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, jadi akhirnya kami memutuskan untuk 'berekspedisi' sendiri tanpa si Ayah. Karena tidak banyak persiapan juga, akhirnya kami memutuskan untuk mengeksplorasi Candi, hobi lama yang sepertinya sudah beberapa saat tidak dilakukan. Sebenarnya ada banyak candi di seputaran Magelang - Jogja yang bisa kami jelajahi, dan baru sekitar 50% saja yang sudah kami kunjungi. Eksplorasi candi ini sebenarnya menarik, sama menariknya dengan petualangan-petualangan lainnya, karena candi-candi yang ada di seputaran Magelang - Jogja itu terletak menyebar, banyak diantaranya terdapat di tengah perkampungan, persawahan, kaki bukit, bahkan juga puncak bukit! Dan jangan dibayangkan candi-candi tersebut semuanya semegah the famous Borobudur atau Prambanan dan Ratu Boko, banyak diantaranya yang hanya berupa bangunan batu kecil yang berdiri sendiri, ataupun dikelilingi dengan beberapa candi perwara (anak candi yang mengelilingi candi induk) lainnya. Bahkan, diantaranya pula hanya berupa tumpukan batu yang belum sempat direkonstruksi, dan hanya terlihat bekas pondasinya saja, seperti yang kami kunjungi minggu ini. 


KARENA kami menginginkan eksplorasi candi dengan sedikit trekking dan pemandangan dari ketinggian, serta lokasi yang tidak terlalu jauh, akhirnya pilihan kami jatuh ke Candi Gunung Sari. Tidak banyak yang tahu keberadaan candi ini, bahkan banyak pula penduduk Magelang yang belum pernah mendengar namanya. Tak heran, saat kami berusaha browsing, informasi yang kami peroleh juga sangat minim. Kami pun baru mendengar tentang candi ini dari penjaga Candi Gunung Wukir saat kami berkunjung ke sana beberapa waktu yang lalu. Menurut Pak Penjaga yang saya lupa namanya, Candi Gunung Sari sebenarnya lebih tua dan lebih besar dibandingkan Candi Gunung Wukir, tapi memang belum banyak penelitian dan ekskavasi yang dilakukan di sana, sehingga sejarah dan cerita mengenai candi inipun masih minim. 

SESUAI namanya, Candi Gunung Sari terletak di puncak bukit Gunung Sari, yang terletak di Dusun Gunung Sari, Desa Gulon, Kecamatan Muntilan. Letaknya cukup mudah ditemukan. Dari arah Jogja, sebelum memasuki Kota Muntilan, berbelok ke arah barat (belok kiri) di pertigaan Gulon (pertigaan ini terletak sekitar 1 kilometer setelah Jembatan Kali Putih) menuju bukit Gunung Sari di Dusun Gunung Sari. Sebenarnya, dari arah Jalan Magelangpun kita sudah bisa melihat bukit Gunung Sari, yang terletak di sebelah kanan jalan jika kita datang dari arah Jogja. Tidak perlu takut tersasar juga, karena akan ada papan penunjuk jalan yang cukup jelas untuk menuju ke bukit ini. 

Bukit Gunung Sari, tempat reruntuhan Candi Gunung Sari berada. 



Jalur pendakian di tepi jalan raya Gulon. Sepertinya terlihat lebih menantang. 


NAH, seperti yang sudah saya tulis tadi, Candi Gunung Sari terletak di puncak bukit, jadi perlu sedikit waktu dan tenaga untuk naik-naik ke puncak bukit menuju ke reruntuhan. Sebenarnya ada dua alternatif jalan untuk menuju ke puncak, yang pertama melalui jalur trekking yang terletak tepat di pinggir jalan raya Gulon, tapi dilihat dari kenampakan bentuknya, jalur ini sepertinya penuh dengan rerumputan tinggi dan sekilas terlihat hanya seperti jalan setapak kecil yang jarang dilalui orang. Lebih menantang sih, tapi karena kali ini kami bepergian tanpa si Ayah, akhirnya kami memilih alternatif jalan yang lebih familiar, yaitu lewat jalur menuju pemakaman di tengah Dusun Gunung Sari - yang kata ibu setempat lebih sering dilalui. Jadilah kami menuju dusun Gunung Sari, dan menemukan pelataran masjid dengan petunjuk menuju candi yang jelas, dengan anak tangga yang terlihat misterius dan sunyi. Di sini kami memarkir motor, dan memulai perjalanan menuju puncak bukit. 

ANAK tangga tersebut membawa kami ke pemakaman umum yang terletak sekitar 50 meter dari kaki bukit. Sampai di sini, anak tangga habis, dan kami harus melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak di tengah rerimbunan pohon dan semak belukar. Tidak terlalu terjal dan tidak terlalu sulit, tapi lumayan juga mendaki bukit setinggi sekitar 200 meter tersebut bersama anak-anak. Untungnya, pepohonan yang rindang dan suara burung sangat menghibur sehingga kami menikmati perjalanan dengan bahagia. Ditambah pula, dari kerimbunan pepohonan di sekitar, sesekali terlihat pemandangan Kota Magelang yang indah, dengan latar Gunung Merbabu-Merapi di kejauhan yang tampak cantik. Dilihat dari semangatnya anak-anak mendaki, yang masih bisa bernyanyi, tertawa dan berlari sesekali, saya menggolongkan bukit ini cukup nyaman untuk didaki.  



Mendaki Bukit Gunung Sari mencapai puncak. 

HANYA butuh waktu kurang dari 30 menit untuk mencapai puncak bersama anak-anak, itupun dengan diselingi istirahat beberapa kali. Jadi, kalau dengan kecepatan normal, mungkin hanya diperlukan waktu sekitar 20 menit untuk sampai puncak. Sampai di puncak, seperti yang sudah kami browse sebelumnya, kami menemukan reruntuhan Candi Gunung Sari dalam sebuah pelataran datar berpagar, dengan sebuah pohon besar menjulang dan sebuah pondok kecil untuk para penjaga. Suasana di atas sunyi, hanya kami bertiga yang saat itu ada di sana. Di tengah jalan tadi kami bertemu dengan mas penjaga yang sedang akan istirahat siang, jadi sayang sekali kami tidak bisa mengobrol dan menodong cerita dari mas penjaga. Dan benar saja seperti yang sudah diceritakan oleh mas penjaga di Candi Gunung Wukir beberapa waktu yang lalu, informasi mengenai Candi Gunung Sari ini masih sangat minim. Candi ini ditemukan secara tidak sengaja di tahun 1980-an, saat Pemerintah hendak membangun menara TVRI di puncak bukit ini. Saat melakukan penggalian, mereka menemukan bongkahan-bongkahan batu yang merupakan bagian dari candi, dan menemukan lebih banyak lagi setelah dilakukan penggalian lebih intensif. Dari yang kami lihat, kami hanya melihat bekas pondasi candi induk dengan dimensi sekitar 10 x 10 meter, dan tidak menemukan bekas reruntuhan adanya candi perwara di dekatnya - meskipun kami tidak tahu karena berdasarkan informasi, masih banyak bagian candi yang belum digali dan terkubur di perut bukit. Beberapa sumber menyebutkan, karena masih banyak araca dan bagian lain candi yang belum digali, menyebabkan proses rekonstruksi mengalami kesulitan, sehingga sampai saat ini yang bisa kami lihat memang hanya berupa tumpukan batu di sekitar pondasi bangunan utama candi. Informasi di papan informasipun sangat minim, hanya menyebutkan bahwa Candi Gunung Sari merupakan candi Hindu yang dibangun di abad IX - yang ditandai dengan adanya arca Mahakala yang ditemukan saat dilakukan penggalian. Tapi, sudah berkeliling beberapa kalipun, kami tidak menemukan dimana letak Arca Mahakala itu berada, pun sesuatu yang mirip atau dapat teridentifikasi sebagai arca. Dari informasi papan petunjuk di halaman depan candi juga disebutkan bahwa Candi Gunung Sari terdiri dari satu bangunan candi utama (bagian pondasi besar dengan banyak reruntuhan yang belum disusun), satu bangunan bukan candi utama, bangunan berstruktur batu bata dan bangunan berstruktur batu putih (yang juga tidak kami temukan bekasnya). Yah, meskipun sangat minim informasi - yang mungkin disebabkan karena memang belum banyak penelitian yang dilakukan untuk mengungkap sejarah dan misteri Candi Gunung Sari ini, overall, kami sangat menikmati petualangan ini. Terutama karena sejuknya suasana dan indahnya pemandangan sekeliling dari puncak bukit, yang membuat kami seolah-olah merasa berada di suatu negeri misterius yang menyimpan banyak cerita dan kejutan. 




Pelataran candi utama dilihat dari sisi barat.Kondisi candi yang belum sempat direkonstruksi menyebabkan batu-batu penyusun bangunan candi utama masih berserakan di sekitar pondasi utama.


Pelataran candi utama dilihat dari sisi timur.


Bereksplorasi di pelataran candi utama.


Pintu gerbang utama Candi Gunung Sari. 


Pemandangan dari atas bukit Gunung Sari

JADI, meskipun masih minim informasi, tapi bagi yang berada di sekitaran Magelang - Jogja, Candi Gunung Sari bisa menjadi alternatif untuk pilihan shortbreak, wisata sejarah sekaligus wisata trekking yang tidak terlalu merepotkan, terutama untuk mereka yang membawa anak-anak. Jangan lupa untuk membawa bekal makanan dan minuman ya, karena tidak ada pedagang di sekitar candi maupun di kaki bukit. Selain itu, kita juga bisa menikmati suasana kehidupan pedesaan yang kental terasa di Dusun Gunung Sari, tempat bukit ini berada. Bagi yang kebetulan sedang menjelajah Magelang, bisa juga jadi alternatif wisata selain mengunjungi the famous Borobudur, Mendut dan Pawon yang sepertinya sudah menjadi destinasi wajib di kota ini! It's always a good thing to explore new things! 

Overall rating : 7
Tingkat kesulitan : 3 
Suitable for kids : yes.  











Selasa, 17 Januari 2017

CAMPING WITH KIDDOS: BERPETUALANG BERSAMA ANAK


exploring the beach


USIA Mbak Qori 2 tahun kurang saat pertama kali kami mengajak dia camping, atau dalam artian yang lebih sederhana, bermalam di alam bebas. Sebenarnya, meskipun Mbak Qori menunjukkan tanda-tanda ketertarikan terhadap alam bebas, tapi sampai saat inipun dia masih belum terlalu easy going untuk bereksplorasi dan berpetualang di alam bebas: Mbak Qori masih sering takut kotor, tidak mau basah-basah dan kena lumpur, takut kegelapan, dan masih harus sering 'ditemani' a.k.a 'dipaksa' untuk menikmati medan-medan ekstrim dan mencoba hal-hal ekstrim. Cuma karena emak dan bapaknya saja yang ngotot melibatkan si bocah dalam kesenangan-kesenangan ekstrim seperti ini, makanya sampai sekarang kami masih konsisten mengajak Mbak Qori 'berpetualang' ala kami, dan masih setia menemani kami hunting tempat-tempat 'eksotis' dan mencoba hal-hal 'manis'.

CAMPING pertama kami dengan bocah sebenarnya tidak terlalu ekstrim juga. Kami memang sengaja memilih lokasi yang tidak terlalu 'merepotkan', bisa dinikmati oleh semua umur, menarik buat anak-anak, sekaligus 'dekat' dengan fasilitas-fasilitas umum. Yah, namanya juga pengalaman pertama, kami agak khawatir juga kalau Mbak Qori rewel karena merasa takut, cemas atau tidak nyaman. Jadilah kami memilih Pantai Sundak sebagai lokasi camping pertama kami. Jauh-jauh hari sebelumnya, saya sudah berpesan pada Mbak Qori bahwa kita akan berpetualang (ini juga yang sampai sekarang masih menjadi kata andalan tiap kali kami mengajak Qori bereksplorasi), Kami jelaskan bawah berpetualang artinya adalah kita mencoba hal baru, kadang-kadang tidak enak dan menakutkan, tapi tidak apa-apa karena kita akan dapat pengalaman (saya juga masih menggunakan kata ini sampai sekarang untuk membujuk Mbak Qori kalau di tengah perjalanan tiba-tiba dia ngambek, atau rewel karena takut, malas dan lain sebagainya). Sebagai mak-mak, jauh-jauh hari juga saya sudah rempong menyiapkan segala macam benda dan senjata untuk bekal camping pertama. Karena ini pengalaman pertama, saya jadi belum punya gambaran dan agak ketakutan juga kalau tetiba Mbak Qori rewel, tidak enak badan dan lain sebagainya. Mulai dari tenda, matras, sarung, bantal guling, termos air panas, senter, susu, camilan, mainan, buku, seabreg baju ganti, baju renang, obat-obatan, topi, kaus kaki dan lain sebagainya masuk dalam daftar saya. Kebayang kan, seberapa banyak barang bawaan kami waktu itu? Sampai-sampai kata suami saya, lebih repot daripada kalau kita pergi aja ke Jakarta naik kereta, hihii... (maklumlah, waktu itu saya masih 'awang-awangen' mengajak anak-anak camping ke alam bebas, takut dia kenapa-napa!)


Tenda kami diantara tenda-tenda yang lainnya.


PERJALANAN kami sebenarnya menyenangkan dan baik-baik saja. Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 5 sore, dan baru sampai lokasi pada jam 11 malam karena tersasar-sasar. Waktu itu, sebenarnya kami tidak punya rencana khusus akan membuka tenda di mana, yang penting di pinggir pantai saja! Jadi, setelah mensurvey lebih dari 3 pantai yang berdekatan di sepanjang pesisir Gunung Kidul, akhirnya kami menambatkan pilihan pada Pantai Sundak, karena selain memiliki bagian pantai yang lumayan datar, di sepanjang bibir pantai juga terdapat pepohonan yang akan jadi tempat berlindung yang lumayan dari angin laut di malam hari dan tempat berteduh yang nyaman di siang hari, selain juga supaya si Bapak bisa mencoba berayun-ayun di hammock yang sudah jauh-jauh hari diangan-angankan! Sempat sih Mbak Qori tidak bisa tidur karena takut gelap dan pergantian suasana dari biasanya bikin dia merasa sedikit tidak nyaman, cuma so far, we enjoy our journey a lot! 

NAH, berdasarkan pengalaman kami, ada beberapa catatan yang mungkin akan bisa membantu para mak-mak yang juga bernafsu untuk mengajak krucilsnya jalan-jalan dan menginap di alam bebas, jangan ragu dan just do it! Apakah repot? Tentu saja! Bawa anak kondangan yang cuma 2 jam saja persiapannya bisa tiga hari penuh, apalagi kemping yang notabene lebih menantang dan lebih tidak terduga. Kebayang repotnya kan? Tapi jangan khawatir, para emak bisa simak kok beberapa catatan berikut ini:

  1. Penting untuk brainstorming dengan anak tentang apa yang akan dihadapi nanti. Sebelum berangkat, saya sudah menjelaskan pada Mbak Qori bahwa nanti kita akan tidur di pinggir pantai di dalam tenda. Nanti suasananya akan agak gelap karena tidak ada lampu, dan kita akan tidur di atas pasir pakai matras, yang artinya tidak sama seperti tidur di atas kasur. Di awal pada saat saya menjelaskan sih Mbak Qori iya iya aja, karena dia belum bisa membayangkan camping itu seperti apa. Agak rewel juga sih waktu sudah sampai lokasi, tapi saat kami kemudian menjelaskan bahwa ini adalah pengalaman baru, petualangan baru dan lain sebagainya, akhirnya dia enjoy juga. 
  2. Bawa beberapa mainan atau buku cerita favorit mereka, meskipun tidak perlu terlalu banyak. Yang namanya anak-anak, kadang mereka bosan juga melihat pemandangan alam atau bermain-main dengan apa yang ada di situ. Kadang mereka membutuhkan permainan atau kegiatan yang familiar, jadi untuk mengatasi kebosanan (dan kerewelan), ada baiknya para emak membekali diri dengan benda-benda 'keseharian' mereka. 
  3. Yang penting anak-anak tidak kedinginan dan tidak basah. Nah, saya agak parno untuk masalah ini, kayaknya sudah kadung didoktrin sama para orang tua jaman dulu, kalau anak kecil itu jangan sampai kedinginan dan kebasahan terlalu lama, nanti masuk angin! Jadinya, tiap kali saya kemanapun bersama Mbak Qori, entah menginap entah tidak, saya selalu bawa seabreg baju ganti, baju hangat, selimut, topi dan kaos kaki, yang saya untel-untel di dalam kantong plastik dan baru dimasukkan ke ransel, untuk menghindari basah dan kehujanan. 
  4. Bawa portable lamp yang rechargeable. Ini untuk mengantisipasi kalau pasukan kecil takut gelap, sekaligus juga sangat membantu untuk penerangan di malam hari. Bisa kebayang kan, repotnya kebutuhan balita yang penuh pernik-pernik kecil. Jadi, dengan penerangan yang memadai (dan ramah lingkungan), adegan gagap-gagap mencari benda-benda mungil dan kecil bisa sedikit direduksi. 
  5. Bawa bekal makanan dan camilan yang high calory, termasuk juga susu kotak kemasan praktis dan persediaan air minum yang mencukupi. Adakalanya, lokasi yang kita kunjungi tidak selamanya dekat dengan warung atau tempat makan, dan adakalanya memasak bisa begitu merepotkan atau bahkan tidak memungkinkan. Dengan memastikan makanan yang cukup kalori tersedia seperti biskuit susu, coklat dan lain sebagainya, paling tidak kita bisa mengganjal lapar dan memastikan si kecil tetap punya suplai tenaga yang memadai untuk the rest of the day. Yang penting si kecil dan orang tuanya jangan sampai kehabisan energi deh!
NAH, itu sebagian tips mengajak krucils menginap di alam bebas. Repot sih, tapi believe me, it's worth to try, coz It's always a good thing to explore new things!