}

Kamis, 08 Februari 2018

FEBRUARY REVIEW: CAPTAIN FANTASTIC (2016)




BAGI yang menyukai film yang nggak terlalu biasa, Captain Fantastic sepertinya bisa menjadi salah satu pertimbangan dalam daftar movie to watch. Berkisah tentang seorang ayah eksentrik, Ben Cash, yang hidup di hutan di pedalaman Washington bersama keenam anaknya: Bo, Kielyr, Vespyr, Rellian, Zaja dan Nai Cash. Cerita dibuka dengan adegan seorang remaja laki-laki yang berkostum ala pribumi masa lalu dengan wajah coreng moreng dengan tanah yang berburu dan membunuh seekor rusa dengan bersenjatakan panah dan pisau. Remaja laki-laki itu adalah Bo Cash, anak pertama pasangan Ben dan Leslie Cash yang sedang menjalani ujian ‘kedewasaan’ dari ayahnya. Perburuan rusa itu adalah salah satu perlambang ritual bahwa Bo sudah , dan dengan berhasil dibunuhnya rusa itu, maka luluslah dia dari ujian ‘menjadi laki-laki sejati’.

KELUARGA Cash memang unik dan eksentrik. Pasangan Ben dan Leslie memutuskan untuk hidup mengasingkan diri di pedalaman hutan,  bertahan hidup dengan cara ‘berburu dan meramu’ dari apa yang disediakan oleh alam di sekitar mereka. Instead of merayakan natal yang bagi mereka terlalu common, mereka merayakan Noam Chomsky. Mereka telah 'dipersenjatai' dengan senjata tajam sejak usia dini. Anak-anak Cash juga tidak bersekolah di sekolah biasa seperti anak-anak pada umumnya, tapi lebih memilih homeschooling dengan mempelajari buku-buku yang disediakan oleh orang tua mereka, di samping pula latihan fisik yang secara ketat dilatih oleh ayahnya. Meskipun begitu, keenam anak itu tumbuh menjadi anak-anak super jenius, mereka memahami tentang teori kuantum dengan sangat baik, membaca karya-karya klasik serta buku-buku textbook perkuliahan sejak masih kecil (well, agak overwhelming sih menurut aku, tapi okelah. Kita sedang berbicara tentang film yang memang butuh didramatisir dari kehidupan nyata). Bukan hanya kepandaian intelektual, merekapun dilatih fisik bak atlet oleh ayah mereka: lari naik turun gunung, panjat tebing, berhujan-hujan di tengah badai without any single chance to whine, karena seperti yang selalu ayah mereka tekankan, dalam setiap kesulitan apapun, jangan pernah berharap ada orang lain yang akan datang menolongmu dan menawarkan bantuan. Always depend on yourself.

SINGKAT cerita, kehidupan mereka yang blend with nature mulai terusik terjadi ketika ibu mereka yang sudah sejak lama menderita bipolar disorder dan sedang dirawat oleh orang tuanya di New Mexico, dikabarkan meninggal dunia. Ben sangat sedih dengan kematian istrinya. Ayah mertuanya, bapak dari istrinya, melarang dia untuk menghadiri upacara pemakaman Leslie karena dia tidak ingin menantunya yang eksentrik itu mengacaukan upacara pemakaman yang harusnya khidmad dan sakral. Dia bahkan menyebut Ben sebagai “the worst thing ever happen in his family”, dia menganggap bahwa Ben yang telah membuat keadaan putrinya menjadi kacau balau dan semakin parah sehingga akhirnya bunuh diri, karena tidak mampu mengontrol pemikirannya sendiri. Mulanya Ben memutuskan untuk memenuhi perintah ayah mertuanya untuk tidak muncul di pemakaman Leslie, tapi for the sake of love and family bond dia dan keenam anaknya kemudian memutuskan untuk menempuh perjalanan  ke New Mexico untuk menghadiri pemakaman ibu mereka. Mereka menganggap bahwa kematian adalah sebuah proses siklus kehidupan yang biasa saja – setiap orang akan mengalaminya, dan bahwa pemakaman ibunya haruslah menjadi momen yang membahagiakan dengan penuh nyanyian dan tarian, dan bahwa ibu mereka yang menganut ajaran budhism menginginkan agar dia dikremasi di suatu tempat yang sepi dan abunya dibuang di toilet umum (seperti yang tertulis di surat wasiatnya).  

MEREKA yang ‘turun gunung’ ini kemudian harus menghadapi berbagai kenyataan yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Selama ‘pengembaraan’ mereka ke dunia nyata, ‘gaya hidup’ hutan mereka tetaplah dijunjung tinggi. Dalam beberapa scene ditunjukkan bagaimana sang ayah mengorganisir ‘pencurian’ bahan makanan di sebuah toko wholesale dengan alasan “pembebasan makanan dari kapitalisme“. Juga ketika mereka mampir ke rumah bibi mereka, bagaimana sang ayah beradu pendapat tentang bagaimana seharusnya bersikap in a common sense ketika berbicara di depan anak-anak, because its inappropriate to discuss some sensitive issues di depan anak-anak.  Meanwhile, si ayah berpendapat bahwa kita bisa bebas membicarakan apapun di depan anak-anak karena mereka berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan words are only words, they don’t mean anything ketika kita menerimanya sebagai sebuah informasi – literally.

DI HARI pemakaman ibu mereka, ayah dan anak-anaknya itu muncul di gereja dengan pakaian hippies. Singkat cerita, masalah muncul ketika keluarga ibunya menolak untuk mengkremasi jenazah Leslie, sementara Ben tetap memaksa bahwa mereka harus menuruti wasiat terakhir Leslie sebagai amanat darinya. Satu persatu masalah kemudian muncul ketika mereka bertemu keluarga besar. Sang kakek menganggap Ben tidak becus dalam mendidik anak-anaknya dan apa yang dia lakukan adalah child abuse, melakukan hal-hal yang membahayakan keselamatan cucu-cucunya dan membuat mereka tidak siap menghadapi dunia luar. Masalah lain mulai mengemuka ketika Bo mulai tertarik dengan gadis lain from outside world, dan ketika ternyata dia diterima kuliah di hampir semua universitas terkenal Amerika. 

BEN, dengan falsafah hidupnya yang memang eksentrik, mendidik anak-anaknya dengan apa yang dia yakini benar sebagai orang tua. Namun, dia mulai meragukan apa yang selama ini dia anggap benar dan ideal ketika Vespyr, anak perempuannya, jatuh dari atap dan mengalami cidera fatal saat melakukan misi penyelamatan Rellian. Kenyataan ini yang kemudian menyebabkan dia memutuskan untuk memberikan hak asuh anak-anak mereka kepada mertuanya. At the end, film ini memang berakhir dengan happy ending. Keluarga Cash tetap bersatu. Bo, meskipun mengurungkan niatnya untuk kuliah, memutuskan untuk berpetualang ke Namimbia. Keluarga itupun, meskipun masih menempuh jalan hidup 'naturalis', pindah tinggal ke pinggiran hutan dan anak-anaknya pergi ke sekolah biasa. Kehidupan eksentrik mereka sedikit demi sedikit mulai diadaptasikan dengan kehidupan normal. Finally Ben mulai sedikit mengalah bahwa memang, dalam kehidupan nyata, sesuatu yang benar-benar ideal akan sangat sulit untuk diwujudkan. Memiliki idealisme memanglah perlu, dan setiap manusia mempunyai hak untuk menjadi seperti apapun yang dia mau. Tapi, sebagai orang tua, aku memang bisa merasakan 'keraguan' atas kehidupan ideal yang kita yakini tersebut ketika mulai terbentur dengan hal-hal yang bersangkutan dengan anak, kebutuhannya dan masa depannya. 

WELL, aku adalah orang yang percaya bahwa it is important to live every moment dan untuk menjadi diri sendiri. We are the artist of our life story. meskipun kadang-kadang something happened and we can't control when life changing us to a direction we haven't planned. Dan, film ini memang memberikan gambaran yang cukup kuat mengenai hal itu, tentang bagaimana kematian Leslie yang kemudian merubah kehidupan seluruh keluarga. Bagaimana kita menghadapinya, untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk, itu benar-benar sangat tergantung dengan bagaimana kita menghadapinya.  

Your life can totally change even by only a single phone call, but you can always adjust how you perceive and reacts on those change. Because its always a good thing to experience and to feel new things!     



Kamis, 01 Februari 2018

MY DIGITAL ACTIVITIES: MOST VISITED WEBSITE



NAH, minggu ini gue mau buka rahasia tentang browser history gue nih! Ehehewww... gue termasuk orang yang (agak) tergantung sama internet sebenernya. Kalo duduk di meja kerja gak ada komputer nyala dan internet kesambung rasanya berasa sedih dan hampa gitu deh. Lebih lagi gue menganggap kalo kerjaan gue (agak) tergantung sama internet. Pokoknya sok digital gitu deh! Nah, kalo mo ngintip what's behind my browser history, cekidot yups! Fyi, daftar ini nggak diurutkan berdasarkan the most to the list ya, tapi yang jelas masih top eight, yang tiap pagi nyalain komputer selalu kubuka duluan secara otomatis (#spoiler: I'm not kind of social media addicted, so I would not mention any social media site on this list!). 

1. yahoo, gmail dan printhilannya macam google calendar dan google translate. 

YUPS! Gue selalu membuka hari dengan mengecek e-mail (pada hari kerja doang. Sabtu - Minggu gue beneran off dari dunia maya). Ada dua e-mail pokok yang aku punya, satu yahoo (untuk urusan pribadi) dan akun institusi berbasis gmail. Jadi nih, tiap kali buka browser, dua situs itu yang pasti pertama kali gue ketik di browser bar. Ngecek imel, balas imel kalo sekiranya mendesak, asalkan tidak lebih dari 10 menit. Untuk e-mail yang butuh mikir atau butuh kerja lebih buat balas, biasanya gue skip sampai menjelang makan siang (selama tidak mendesak dan tidak menyangkut hajat hidup rakyat banyak). Nah untuk printhilannya macam google translate, biasanya aku otomatis buka kalau lagi mo kerja dengan hal-hal berbau Inggris (maklum, suka sering berasa kehilangan kata). Untuk google calendar, karena pada dasarnya aku suka feel stay organized (baca: merasa rapi dan terorganisir - merasa aja ya), pagi hari biasanya aku input jadwal-jadwal gue ke depan, macam rapat, tugas ke luar dll dll, termasuk bikin to do list mo ngapain aja hari ini (paper based en digital based).   

2. Youtube atau spotify. 

I CANT work without music! Tergantung settingan mood, dua situs (dan aplikasi) ini selalu on di awal aku buka komputer. Biasanya, kalau lagi melo sendu pilu sembilu gitu, aku puter musik-musik instrumental yang calming, tapi kalau lagi semangat membara ya lagu-lagu yang ngehips en ngehits gitu lah. Biasanya, pilihan musik ini akan menentukan mood aku for the rest of my day, ahahaa... 
3. Evernote

I depend too much on this website! Gue pake evernote untuk bikin catatan, bikin konsep, nyimpen potongan website yang mau dibaca nanti or mau digunakan untuk beberapa tujuan, termasuk bikin diary dan mencatat potongan-potongan ide yang sering berantakan terlintas di otak. Gue juga instal aplikasinya di tab dan di laptop rumah, jadi wherever aku pergi dan butuh nengok balik catatan yang kusimpen, bisa dibuka dimana saja kapan saja (its way more convenience rather than save your file on pc's foleder). Dan overall, evernote is the best app I've ever found to organize my file! 

4. Dropbox 

NAH,  kalo yang ini bisa dibilang sih musiman, akan sering dibuka kalau murid-murid gue lagi banyak tugas yang harus dikumpulkan. Gue bikin peraturan ketat kalau sebisa mungkin memberi tugas yang paperless ke mahasiswa gue (untuk mengurangi eksploitasi sumberdaya alam), dan melarang mahasiswa gue ngumpulin tugas lewat e-mail. Kebayang aja kalau gue punya 3 kelas, 40 mahasiswa, 4 tugas, dan semuanya dikirim lewat e-mail, bakalan penuh inbox gue, belum lagi susah menyortir ini tugasnya siapa tugasnya yang mana. Jadi, setiap kelas gue bikini folder di dropbox tempat mereka mengupload tugas or apapun yang berhubungan dengan perkuliahan, termasuk upload slide presentasi, materi kuliah dll, demi efisiensi komunikasi perkuliahan. 

5. Trello 

SEPERTI kubilang tadi, gue orangnya suka kalo feel organized. Jadi, gue bikin catatan tentang kerjaan/proyek/ide (termasuk to do list) pake Trello ini. Sebenernya dulu gue install app-nya di HP, tapi gue nggak terlalu suka karena layarnya kecil n nggak convenience buat aku, jadi sekarang aku pake versi website-nya di komputer. Aku nyaman banget pake Trello ini, selain karena tampilannya menarik, this is what really I need untuk keep tracking kerjaan aku dan menyimpan ide-ide yang suka berantakan di kepala, termasuk juga mind mapping, karena card yang ada di trello ini bisa digeser di sana sini. 

6. Coursera dan EdX

AT LEAST, once in a week gue buka website ini. Bagi yang belum got the idea tentang coursera dan EdX, dua platform ini sebenernya adalah penyedia jasa online course from all over the world, dari banyak universitas di seluruh dunia. Ada banyak pilihan kursus yang disediakan, mulai dari self-development, computer, science, life-science, matematika, sampai life skill macem fotografi, teknik presentasi, teknik negosiasi dll dll, banyak yang gratis dan ada yang berbayar. Gue sebenernya sudah sign up dari tahun 2014, tapi baru sejak 2016 aku berkomitmen untuk menyelesaikan at least 2 kursus dalam setahun (dan bisa lebih). Jadi, setidaknya setiap hari Jumat gue mendedikasikan diri sejam dua jam untuk ikut kursus online, either lewat coursera or EdX. Such a good learning experience deh, sampai-sampai gue selalu berpesan sama mahasiswa gue untuk nyobain ikut online course at least once in a lifetime.  

7. Whatsapp Web 

AHA! Hari gini siapa sih yang nggak pake whatsapp? Karena gue nggak tipikal orang yang sabar ber-HP, jadi gue lebih nyaman komunikasi lewat whatsapp web tinimbang whatsapp app di HP. Alasannya sih karena HP gue kecil n ngetik pake kibor biasa lebih nyaman daripada ngetik di HP. Tapi nih, gue mengaku dosa, whatsapp ini beneran the best distraction kalo kita lagi mo beneran fokus sama kerjaan yang butuh konsentrasi, en seringnya bikin emosi. So, kalau lagi perlu (dan pengen) autis, matikan hape tutup aplikasi whatsapp en stay focus! 

8. Breaker  

BUTUH konsentrasi? Well, kadang kendala terbesar ketika kita butuh fokus adalah stay focus itu sendiri. Buanyak sekali distraksi yang bikin kita gagal fokus dan gagal muv-on ke kerjaan yang seharusnya dilakukan. Kadang juga gue merasa hal paling berat juga adalah ketika mau mengerjakan pekerjaan itu sendiri. First step always hard, and thats true. Nah, dari online course yang pernah aku ikuti, aku menemukan cara ampuh untuk put off  all distractions dan stay focus, dengan teknik Pomodoro. Caranya sebenernya sederhana, fokus selama beberapa menit tanpa berhenti (biasanya aku pakai 25 menit), lalu istirahat (10 menit). Nah, si Breaker ini sebenernya adalah aplikasi time-counting untuk teknik pomodoro ini, jadi dia akan kasih tau kapan waktu kita harus fokus dan kapan berhenti istirahat, dan berapa set fokus-istirahat yang kita mau. Tadinya aku pake versi online, tapi beberapa waktu ini aku install app-nya di komputer. Efektif? Bagi gue yes banget! 

ITS always a good thing to explore and browse new things!