BAGI yang menyukai film yang nggak terlalu biasa, Captain
Fantastic sepertinya bisa menjadi salah satu pertimbangan dalam daftar movie to watch. Berkisah tentang seorang
ayah eksentrik, Ben Cash, yang hidup di hutan di pedalaman Washington bersama keenam anaknya: Bo, Kielyr, Vespyr, Rellian, Zaja dan Nai Cash. Cerita dibuka dengan adegan seorang remaja
laki-laki yang berkostum ala pribumi masa lalu dengan wajah coreng moreng
dengan tanah yang berburu dan membunuh seekor rusa dengan bersenjatakan panah
dan pisau. Remaja laki-laki itu adalah Bo Cash, anak pertama pasangan Ben dan Leslie Cash yang sedang
menjalani ujian ‘kedewasaan’ dari ayahnya. Perburuan rusa itu adalah salah satu perlambang ritual bahwa Bo sudah , dan dengan berhasil dibunuhnya rusa
itu, maka luluslah dia dari ujian ‘menjadi laki-laki sejati’.
KELUARGA Cash memang unik dan eksentrik. Pasangan Ben dan Leslie memutuskan
untuk hidup mengasingkan diri di pedalaman hutan, bertahan hidup dengan cara ‘berburu dan
meramu’ dari apa yang disediakan oleh alam di sekitar mereka. Instead of merayakan natal yang bagi mereka terlalu common, mereka merayakan Noam Chomsky. Mereka telah 'dipersenjatai' dengan senjata tajam sejak usia dini. Anak-anak Cash juga
tidak bersekolah di sekolah biasa seperti anak-anak pada umumnya, tapi lebih
memilih homeschooling dengan
mempelajari buku-buku yang disediakan oleh orang tua mereka, di samping pula latihan fisik yang secara ketat dilatih oleh ayahnya. Meskipun begitu,
keenam anak itu tumbuh menjadi anak-anak super jenius, mereka memahami tentang
teori kuantum dengan sangat baik, membaca karya-karya klasik serta buku-buku textbook perkuliahan sejak masih kecil (well, agak
overwhelming sih menurut aku, tapi
okelah. Kita sedang berbicara tentang film yang memang butuh didramatisir dari
kehidupan nyata). Bukan hanya kepandaian intelektual, merekapun dilatih fisik bak atlet oleh ayah mereka: lari naik turun gunung, panjat
tebing, berhujan-hujan di tengah badai without
any single chance to whine, karena seperti yang selalu ayah mereka
tekankan, dalam setiap kesulitan apapun, jangan pernah berharap ada orang lain
yang akan datang menolongmu dan menawarkan bantuan. Always depend on yourself.
SINGKAT cerita, kehidupan mereka yang blend with nature mulai terusik terjadi ketika ibu mereka yang sudah sejak lama menderita bipolar disorder dan sedang dirawat oleh orang tuanya di New
Mexico, dikabarkan meninggal dunia. Ben sangat sedih dengan kematian istrinya.
Ayah mertuanya, bapak dari istrinya, melarang dia untuk menghadiri upacara
pemakaman Leslie karena dia tidak ingin menantunya yang eksentrik itu mengacaukan
upacara pemakaman yang harusnya khidmad dan sakral. Dia bahkan menyebut Ben sebagai “the worst thing ever happen in
his family”, dia menganggap bahwa Ben yang telah membuat keadaan putrinya
menjadi kacau balau dan semakin parah sehingga akhirnya bunuh diri, karena
tidak mampu mengontrol pemikirannya sendiri. Mulanya Ben memutuskan untuk
memenuhi perintah ayah mertuanya untuk tidak muncul di pemakaman Leslie, tapi for the sake of love and family bond dia dan
keenam anaknya kemudian memutuskan untuk menempuh perjalanan ke New Mexico untuk menghadiri pemakaman
ibu mereka. Mereka menganggap bahwa kematian adalah sebuah proses siklus
kehidupan yang biasa saja – setiap orang akan mengalaminya, dan bahwa pemakaman
ibunya haruslah menjadi momen yang membahagiakan dengan penuh nyanyian dan
tarian, dan bahwa ibu mereka yang menganut ajaran budhism menginginkan agar dia
dikremasi di suatu tempat yang sepi dan abunya dibuang di toilet umum (seperti
yang tertulis di surat wasiatnya).
MEREKA yang ‘turun gunung’ ini kemudian harus menghadapi
berbagai kenyataan yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Selama
‘pengembaraan’ mereka ke dunia nyata, ‘gaya hidup’ hutan mereka tetaplah
dijunjung tinggi. Dalam beberapa scene ditunjukkan
bagaimana sang ayah mengorganisir ‘pencurian’ bahan makanan di sebuah toko wholesale dengan alasan “pembebasan makanan dari kapitalisme“. Juga ketika mereka mampir ke rumah bibi mereka, bagaimana sang ayah beradu
pendapat tentang bagaimana seharusnya bersikap in a common sense ketika berbicara di depan anak-anak, because its inappropriate to discuss some
sensitive issues di depan anak-anak.
Meanwhile, si ayah berpendapat
bahwa kita bisa bebas membicarakan apapun di depan anak-anak karena mereka
berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan words are only words, they don’t mean anything ketika kita
menerimanya sebagai sebuah informasi – literally.
DI HARI pemakaman ibu mereka, ayah dan anak-anaknya itu
muncul di gereja dengan pakaian hippies. Singkat
cerita, masalah muncul ketika keluarga ibunya menolak untuk mengkremasi jenazah
Leslie, sementara Ben tetap memaksa bahwa mereka harus menuruti wasiat terakhir Leslie sebagai amanat darinya. Satu persatu masalah kemudian muncul ketika
mereka bertemu keluarga besar. Sang kakek menganggap Ben tidak becus dalam
mendidik anak-anaknya dan apa yang dia lakukan adalah child abuse, melakukan hal-hal yang membahayakan keselamatan
cucu-cucunya dan membuat mereka tidak siap menghadapi dunia luar. Masalah lain mulai mengemuka ketika Bo mulai tertarik dengan gadis lain from outside world, dan ketika ternyata dia diterima kuliah di hampir semua universitas terkenal Amerika.
BEN, dengan falsafah hidupnya yang memang eksentrik, mendidik anak-anaknya dengan apa yang dia yakini benar sebagai orang tua. Namun, dia mulai meragukan apa yang selama ini dia anggap benar dan ideal ketika Vespyr, anak perempuannya, jatuh dari atap dan mengalami cidera fatal saat melakukan misi penyelamatan Rellian. Kenyataan ini yang kemudian menyebabkan dia memutuskan untuk memberikan hak asuh anak-anak mereka kepada mertuanya. At the end, film ini memang berakhir dengan happy ending. Keluarga Cash tetap bersatu. Bo, meskipun mengurungkan niatnya untuk kuliah, memutuskan untuk berpetualang ke Namimbia. Keluarga itupun, meskipun masih menempuh jalan hidup 'naturalis', pindah tinggal ke pinggiran hutan dan anak-anaknya pergi ke sekolah biasa. Kehidupan eksentrik mereka sedikit demi sedikit mulai diadaptasikan dengan kehidupan normal. Finally Ben mulai sedikit mengalah bahwa memang, dalam kehidupan nyata, sesuatu yang benar-benar ideal akan sangat sulit untuk diwujudkan. Memiliki idealisme memanglah perlu, dan setiap manusia mempunyai hak untuk menjadi seperti apapun yang dia mau. Tapi, sebagai orang tua, aku memang bisa merasakan 'keraguan' atas kehidupan ideal yang kita yakini tersebut ketika mulai terbentur dengan hal-hal yang bersangkutan dengan anak, kebutuhannya dan masa depannya.
WELL, aku adalah orang yang percaya bahwa it is important to live every moment dan untuk menjadi diri sendiri. We are the artist of our life story. meskipun kadang-kadang something happened and we can't control when life changing us to a direction we haven't planned. Dan, film ini memang memberikan gambaran yang cukup kuat mengenai hal itu, tentang bagaimana kematian Leslie yang kemudian merubah kehidupan seluruh keluarga. Bagaimana kita menghadapinya, untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk, itu benar-benar sangat tergantung dengan bagaimana kita menghadapinya.
Your life can totally change even by only a single phone call, but you can always adjust how you perceive and reacts on those change. Because its always a good thing to experience and to feel new things!

