}

Jumat, 06 April 2018

KEDAI KOPI PAK ROHMAT & CURUG PERAWAN: ANOTHER ONE DAY TRIP EXPLORING MENOREH

YUPS! Kami memang fans berat perbukitan Suroloyo yang membentangi ujung barat wilayah DIY. Karena lokasinya yang berbatasan dengan Magelang, kami yang tiap weekend pulang Magelang jadi enak banget kalo mau main ke sini, selain bisa dituju sambil perjalanan pulang ke Magelang, nggak jauh juga kalau kita mau menuju ke sana kalau ditempuh langsung dari kampung halaman tercinta. Plus lagi, kami sudah kadung amat sangat jatuh cinta dengan kopi Suroloyo yang ciamik punya. Kayaknya nih, segala masalah hidup bisa langsung terlupakan kalau sudah minum kopi Suroloyo di tempat asalnya dia ditanam, diproses plus dibikin sampai jadi segelas kopi pahit panas. Tambah lagi dengan pemandangan hijau seksi plus kabut syahdu yang jadi latar belakang, its almost perfecto deh! 

KALAU di  tulisan yang sebelumnya  kami sempat mengupas masalah kopi Suroloyo dan beberapa spot menarik di sekitar puncak Suroloyo, kali ini kami memutuskan untuk menyusuri sisi selatan Suroloyo yang sudah masuk area Yogyakarta. Awalnya sih kami berencana untuk mencari Kedai Kopi Pak Rohmat, satu lagi tempat ngopi di Suroloyo yang direkomendasikan temen sebagai salah satu tempat must go bagi para pemburu kopi. Kami cukup heran juga sih, setelah puluhan kali menjelajah Suroloyo kok belum pernah sekalipun kami lihat petunjuk menuju Kedai Kopi Pak Rohmat ini. Setelah tanya sana sini dan browsing sana sini, akhirnya ketemu juga lokasi si kedai kopi, yang ternyata nggak jauh-jauh amat dari Watu Tekek, salah satu destinasi wisata lain yang dikelola dalam konsep perhutanan rakyat (kapan-kapan kami akan tulis sedikit ulasan mengenai watu tekek ini). Dan pantas saja sih kalau kami nggak pernah lihat keberadaan kedai kopi yang konon katanya nggak kalah asik dari Kedai Kopi Suroloyo di puncak Suroloyo sana, karena nih kedai kopi lebih mudah dan lebih dekat dicapai dari Yogyakarta, melalui Boro. Atau, kalau dari arah Magelang, tempat ini lebih nyaman ditemukan kalau lewat jalur Pasar Bendo ketimbang Pasar Jagalan, jalur yang biasanya kami tempuh kalau mau ke Suroloyo. Jadi bagi kalian yang berangkat dari Jogja, akan lebih nyaman kalau lewat jalur Godean - Boro dan langsung menuju arah pegunungan Suroloyo. Atau, kalian bisa menempuh jalan Nanggulan - Ngluwar dan naik dari Pasar Bendo.

Halaman Depan Kedai Kopi Pak Rohmat
  LETAK Kedai Kopi Pak Rohmat memang agak nylempit di tengah bukit. Kalau kalian pernah berkunjung ke Watu Tekek, letak kedai kopi ini persis di bawah bukit tempat Watu Tekek berada. Sekilas, kalau nggak ada papan penunjuk, kita juga nggak bakalan tau kalau bangunan yang layaknya rumah penduduk biasa itu adalah kedai kopi. Emang rumah biasa sih, tapi di halaman belakang rumah terdapat beberapa gazebo dan teras dengan kursi-kursi bambu berderet laiknya warung kopi. Tempatnya juga adem dan sepi, pas dan memenuhi kriteria menyepi yang jauh dari bising suara kendaraan bermotor dan suara-suara aktivitas modern lainnya. Plus lagi, sinyal hape kami kembang kempis di sini, jadi kita bisa bebas dan leluasa ngobrol tanpa tergoda mengutak atik hp yang kadang bisa jadi annoying banget kalau kita pas lagi ngobrol sama orang. Kami sengaja memilih gazebo yang agak nyempil di bawah, yang langsung berbatasan dengan tebing. Dari tempat ini, kami bisa mendengarkan suara gemericik air sungai yang calming banget di telinga, plus suara-suara khas hutan macam tongeret, jangkrik kecil, serta bunyi-bunyi angin yang menerobos di sela-sela hutan. Pokoknya asik punya deh! Untuk pilihan kopi, setandar lah sama dengan warkop lainnya. Bisa milih robusta, arabica, atau mix, atau ada juga kopi luwak bagi yang pengen nyobain mitos keenakan kopi luwak. Harganya relatif murah, untuk kopi hitam biasa dipatok harga Rp.6000,- sampai Rp. 8000,-, untuk kopi luwah Rp.35.000. Selain single coffee, kita juga bisa milih menu paketan, yaitu kopi plus sepaket snack berupa gorengan, kacang rebus, ketela rebus, geblek goreng. Sepaket sajian kopi dan snack ini cuma Rp.12.000,- untuk harga  yang paling normal. Or, kita juga bisa pilih snack eceran dengan harga antara Rp.5000,- sampai Rp.8000,- . Untuk rasanya, well, I slightly prefer Kopi Suroloyo ketimbang Kopi Pak Rohmat sih. Tetep enak, tapi di lidah aku masih sedikit lebih pas kopi Suroloyo (waktu itu aku nyobain yang robusta). Kalau untuk yang arabica, rasanya sedikit lebih pahit dan lebih nggak asem dibandingkan arabica biasanya, hampir mendekati robusta malah kalau menurut aku. Tapi, aku suka banget sama model penyajian kopi Pak Rohmat ini. Dia nggak pake model barista yang harus menggiling biji kopi dulu buat disajikan or pake saringan gitu sih, just traditional coffee yang diseduh pake cangkir - dan disajikan dengan pilihan gula jawa, gula pasir dan sirup gula jahe. Jadi kita bisa pilih rasa apa kopi kita, tergantung selera dan suasana hati. Oya, buat yang nggak minum kopi or buat anak-anak, ada pilihan lain seperti teh (dengan rasa sepet khas teh Suroloyo) or minuman jahe atau coklat.


Sajian kopi plus paket snack di Kedai Kopi Pak Rohmat
KARENA emang suasananya yang syahdu punya dan cocok banget buat berbaring-baring malas sambil ngobrol ngalor ngidul, kami menghabiskan waktu agak lama di sini. Setelah Mbak Qori mulai agak gelisah karena pengen bergerak lebih intens, akhirnya kami memutuskan untuk pindah tempat. Sudah sejak lama Mbak Qori bercita-cita pengen mandi di sungai, itu salah satu bucket list yang selalu dia ulang-ulang tiap akhir pekan. Dan karena Kedai Kopi Pak Rohmat letaknya sejalur dengan air terjun Perawan di desa Sidoharjo, Samigaluh, atau yang juga terkenal dengan nama curug Sidoharjo. Menurut penduduk setempat sih Curug Perawan ini yang paling tinggi di daerah situ, dan letaknya juga nggak jauh-jauh amat dari jalan raya. So, jadilah kami melanjutkan jalan ke arah Curug Perawan, menyusuri jalur yang ke arah Boro. Kalau dari Kedai Kopi Pak Rohmat kita mengambil jalan yang turun ke arah kaki bukit, berkelok-kelok naik turun melewati pemandangan khas Menoreh yang nggak pernah bikin hati bosen, sampai sekitar 5 km ke arah bawah. Letaknya cukup gampang ditemukan kok, sudah ada papan petunjuk yang menyuruh kita berbelok ke arah kanan meninggalkan jalan aspal dan menyusuri jalan tanah yang nggak sulit-sulit amat dan nggak jauh-jauh amat juga. Nah, nanti kita bisa parkir di rumah penduduk yang ada di sana (sudah disediakan lahan parkir), dan dari tempat parkir tersebut kita jalan sekitar 700 meter menyusuri bukit dan tebing. Nggak seperti lokasi air terjun lain yang pernah kita kunjungi, jalan menuju curug perawan ini relatif datar dan cukup enak untuk jalan-jalan. Dengan kondisi kaki yang belum sembuh total, menyenangkan deh pokoknya hiking track di sini!


Jalur menuju Curug Perawan. Cakep kan!

SEKITAR 20 menit jalan kaki, sampailah kita kemudian di kaki curug Perawan. Kesan pertama yang kami tangkap adalah - ya ampun bagus banget! Lokasinya yang nyempil dan malu-malu tersembunyi menjadikan nggak banyak orang yang mengunjungi tempat ini, which is malah semakin perfect buat menyepi dan menenangkan pikiran. Air terjunnya sendiri nggak deres banget, tapi emang lumayan tinggi, mungkin sekitar 70 meter paling. Di kaki air terjun ada kolam kecil yang nggak terlalu dalam, dengan batu-batu kerikil yang perfecto banget buat Mbak Qori buat main basah-basahan (tapi tetap dalam pengawasan ketat mengingat di sekitarnya sungai sudah berubah menjadi agak curam dan langsung menuju ke bawah). Jadilah Mbak Qori 'menunaikan' bucket-list dia untuk mandi di sungai, meskipun dia belum puas-puas banget karena kami harus buru-buru pulang karena langit yang tiba-tiba berubah muram dan mendung (tentunya dengan protes berat si Qori yang masih pengen maenan air dan naik-naik memanjat batu).




Air Terjun Perawan Sidoharjo. Cakep kan kalau gini?


Along the way

DAN satu hal yang bikin aku girang banget, sejak dulu kan emang mendengar suara air itu healing banget buat aku. Jadi di sini aku bisa semacam menenangkan pikiran dan (gayanya) mencari inspirasi plus mengumpulkan semangat hidup yang membara buat masa depan (haiyah, apa ituh!). Pokoknya, walaupun kami hanya menghabiskan waktu sekitar 30-an menit di sini, puas banget dan refresh banget (dan kurang sih sebenernya). Someday mungkin kami akan kembali lagi ke sini buat main-main lagi dan mandi-mandi lagi sampai hati benar-benar puas (walau kayaknya sih kalau maen nggak ada kata puasnya deh, eheheheewww).
 
NGGAK puas sampai di sini saja penjelajahan kami kali ini, pulangnya, gegara iklan keras bapak penjaga parkir, kami menyempatkan diri mampir ke embung baru di daerah Sidoharjo, yang sebenernya belum 100% berfungsi tapi pemandangannya bagus banget. Karena dari Curug Perawan si bangunan embung itu kelihatan banget, kami merasa rugi kalo nggak mampir dan sekadar say hello sama bakal calon tempat wisata (pelarian) baru. So, dengan berbesar hati kami menabahkan diri menambah waktu sekitar 1 jam untuk mendatangi si embung dan mengeksporasi keadaan sekitar. Worth it sih, karena emang bagus banget pemandangannya. Kalo dari profil dan fungsinya emang nggak beda-beda jauh sama Embung Banjaroya yang beberapa kali kami singgahi, cuma yang ini lebih sepi dan lebih terpencil karena memang belum secara resmi dibuka. Jadi, buat yang menyukai kesunyian dan pemandangan eksotis yang nggak terlalu mainstream (dengan berbagai macam background selfie yang bikin tempat itu jadi lebih instagrammable ketimbang refreshable karena sibuk berfoto instead of mengagumi pemandangan ciptaan Tuhan), this place can be one of your heavenly hiding place untuk melepas penat dan  belajar untuk forgive the world will all its silly things
  sebelum kembali ke dunia nyata!


 It's always a good thing to taste new things!